skip to main |
skip to sidebar
Sejarah Singkat Imam Hanbali
Ahmad bin Hanbal (781 – 855 M, 164 – 241 AH)[1] (Arab أحمد بن
حنبل ) adalah seorang ahli hadits dan teologi Islam. Ia lahir di Marw
(saat ini bernama Mary di Turkmenistan, utara Afganistan dan utara Iran)
di kota Baghdad, Irak. Kunyah beliau Abu Abdillah lengkapnya: Ahmad bin
Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al Marwazi Al Baghdadi/ Ahmad
bin Muhammad bin Hanbal dikenal juga sebagai Imam Hambali.
“Ia
murid paling cendekia yang pernah saya jumpai selama di Baghdad.
Sikapnya menghadapi sidang pengadilan dan menanggung petaka akibat
tekanan khalifah Abbasiyyah selama 15 tahun karena menolak doktrin resmi
Mu’tazilah merupakan saksi hidup watak agung dan kegigihan yang
mengabdikannya sebagai tokoh besar sepanjang masa.” Penilaian ini
diungkapkan oleh Imam Syafi’i, yang tak lain adalah guru Imam Hanbali.
Menurut Syafi’i, perjuangan mempertahankan keyakinan yang tak sesuai
dengan pemikiran seseorang, selalu menghadapi risiko antara hidup dan
mati. Dan Imam Hanbali membuktikan hal itu.
Imam Hanbali yang
dikenal ahli dan pakar hadits ini memang sangat memberikan perhatian
besar pada ilmu yang satu ini. Kegigihan dan kesungguhannya telah
melahirkan banyak ulama dan perawi hadits terkenal semisal Imam Bukhari,
Imam Muslim, dan Imam Abu Daud yang tak lain buah didikannya.
Karya-karya mereka seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim atau Sunan Abu
Daud menjadi kitab hadits standar yang menjadi rujukan umat Islam di
seluruh dunia dalam memahami ajaran Islam yang disampaikan Rasulullah
SAW lewat hadits-haditsnya.
Kepakaran Imam Hanbali dalam ilmu
hadits memang tak diragukan lagi sehingga mengundang banyak tokoh ulama
berguru kepadanya. Menurut putra sulungnya, Abdullah bin Ahmad, Imam
Hanbali hafal hingga 700.000 hadits di luar kepala.
Hadits
sejumlah itu, diseleksi secara ketat dan ditulisnya kembali dalam kitab
karyanya Al Musnad. Dalam kitab tersebut, hanya 40.000 hadits yang
dituliskan kembali dengan susunan berdasarkan tertib nama sahabat yang
meriwayatkan. Umumnya hadits dalam kitab ini berderajat sahih dan hanya
sedikit yang berderajat dhaif. Berdasar penelitian Abdul Aziz al Khuli,
seorang ulama bahasa yang banyak menulis biografi tokoh sahabat,
sebenarnya hadits yang termuat dalam Al Musnad berjumlah 30 ribu karena
ada sekitar 10 ribu hadits yang berulang.
Kepandaian Imam
Hanbali dalam ilmu hadits, bukan datang begitu saja. Tokoh kelahiran
Baghdad, 780 M (wafat 855 M) ini, dikenal sebagai ulama yang gigih
mendalami ilmu. Lahir dengan nama Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Imam
Hanbali dibesarkan oleh ibunya, karena sang ayah meninggal dalam usia
muda. Hingga usia 16 tahun, Hanbali belajar Al-Qur’an dan ilmu-ilmu
agama lain kepada ulama-ulama Baghdad.
Setelah itu, ia
mengunjungi para ulama terkenal di berbagai tempat seperti Kufah,
Basrah, Syam, Yaman, Mekkah dan Madinah. Beberapa gurunya antara lain
Hammad bin Khalid, Ismail bil Aliyyah, Muzaffar bin Mudrik, Walin bin
Muslim, dan Musa bin Tariq. Dari merekalah Hanbali muda mendalami fikih,
hadits, tafsir, kalam, dan bahasa. Karena kecerdasan dan ketekunannya,
Hanbali dapat menyerap semua pelajaran dengan baik.
Kecintaannya kepada ilmu begitu luar biasa. Karenanya, setiap kali
mendengar ada ulama terkenal di suatu tempat, ia rela menempuh
perjalanan jauh dan waktu lama hanya untuk menimba ilmu dari sang ulama.
Kecintaan kepada ilmu jua yang menjadikan Hanbali rela tak menikah
dalam usia muda. Ia baru menikah setelah usia 40 tahun.
Pertama
kali, ia menikah dengan Aisyah binti Fadl dan dikaruniai seorang putra
bernama Saleh. Ketika Aisyah meninggal, ia menikah kembali dengan
Raihanah dan dikarunia putra bernama Abdullah. Istri keduanya pun
meninggal dan Hanbali menikah untuk terakhir kalinya dengan seorang
jariyah, hamba sahaya wanita bernama Husinah. Darinya ia memperoleh lima
orang anak yaitu Zainab, Hasan, Husain, Muhammad, dan Said.
Tak hanya pandai, Imam Hanbali dikenal tekun beribadah dan dermawan.
Imam Ibrahim bin Hani, salah seorang ulama terkenal yang jadi sahabatnya
menjadi saksi akan kezuhudan Imam Hanbali. ”Hampir setiap hari ia
berpuasa dan tidurnya pun sedikit sekali di waktu malam. Ia lebih banyak
shalat malam dan witir hingga Shubuh tiba,” katanya.
Mengenai
kedermawanannya, Imam Yahya bin Hilal, salah seorang ulama ahli fikih,
berkata, ”Aku pernah datang kepada Imam Hanbali, lalu aku diberinya uang
sebanyak empat dirham sambil berkata, ‘Ini adalah rezeki yang kuperoleh
hari ini dan semuanya kuberikan kepadamu.”’
Imam Hanbali juga
dikenal teguh memegang pendirian. Di masa hidupnya, aliran Mu’tazilah
tengah berjaya. Dukungan Khalifah Al Ma’mun dari Dinasti Abbasiyah yang
menjadikan aliran ini sebagai madzhab resmi negara membuat kalangan
ulama berang. Salah satu ajaran yang dipaksakan penganut Mu’tazilah
adalah paham Al-Qur’an merupakan makhluk atau ciptaan Tuhan. Banyak umat
Islam yang menolak pandangan itu.
Imam Hanbali termasuk yang
menentang paham tersebut. Akibatnya, ia pun dipenjara dan disiksa oleh
Mu’tasim, putra Al Ma’mun. Setiap hari ia didera dan dipukul. Siksaan
ini berlangsung hingga Al Wasiq menggantikan ayahnya, Mu’tasim. Siksaan
tersebut makin meneguhkan sikap Hanbali menentang paham sesat itu.
Sikapnya itu membuat umat makin bersimpati kepadanya sehingga
pengikutnya makin banyak kendati ia mendekam dalam penjara.
Sepeninggal Al Wasiq, Imam Hanbali menghirup udara kebebasan. Al
Mutawakkil, sang pengganti, membebaskan Imam Hanbali dan memuliakannya.
Namanya pun makin terkenal dan banyaklah ulama dari berbagai pelosok
belajar kepadanya. Para ulama yang belajar kepadanya antara lain Imam
Hasan bin Musa, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Abu
Zur’ah Ad Dimasyqi, Imam Abu Zuhrah, Imam Ibnu Abi, dan Imam Abu Bakar
Al Asram.
Sebagaimana ketiga Imam lainnya; Syafi’i, Hanafi dan
Maliki, oleh para muridnya, ajaran-ajaran Imam Ahmad ibn Hanbali
dijadikan patokan dalam amaliyah (praktik) ritual, khususnya dalam
masalah fikih. Sebagai pendiri madzhab tersebut, Imam Hanbali memberikan
perhatian khusus pada masalah ritual keagamaan, terutama yang bersumber
pada Sunnah.
Menurut Ibnu Qayyim, salah seorang pengikut
madzhab Hanbali, ada lima landasan pokok yang dijadikan dasar penetapan
hukum dan fatwa madzhab Hanbali.
Pertama, nash (Al-Qur’an dan
Sunnah). Jika ia menemukan nash, maka ia akan berfatwa dengan Al-Qur’an
dan Sunnah dan tidak berpaling pada sumber lainnya.
Kedua, fatwa sahabat yang diketahui tidak ada yang menentangnya.
Ketiga, jika para sahabat berbeda pendapat, ia akan memilih pendapat
yang dinilainya lebih sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Jika
ternyata pendapat yang ada tidak jelas persesuaiannya dengan Al-Qur’an
dan Sunnah, maka ia tidak akan menetapkan salah satunya, tetapi
mengambil sikap diam atau meriwayatkan kedua-duanya.
Keempat,
mengambil hadits mursal (hadits yang dalam sanadnya tidak disebutkan
nama perawinya), dan hadits dhaif (hadits yang lemah, namun bukan
‘maudu’, atau hadits lemah). Dalam hal ini, hadits dhaif didahulukan
daripada qias.
Dan kelima adalah qias, atau analogi. Qias digunakan bila tidak ditemukan dasar hukum dari keempat sumber di atas.
Pada awalnya madzhab Hanbali hanya berkembang di Baghdad. Baru pada
abad ke-6 H, madzhab ini berkembang di Mesir. Perkembangan pesat terjadi
pada abad ke-11 dan ke-12 H, berkat usaha Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dan
Ibnu Qayyim (w. 751 H). Kedua tokoh inilah yang membuka mata banyak
orang untuk memberikan perhatian pada fikih madzhab Hanbali, khususnya
dalam bidang muamalah. Kini, madzhab tersebut banyak dianut umat Islam
di kawasan Timur Tengah.
Hasil karya Imam Hanbali tersebar luas
di berbagai lembaga pendidikan keagamaan. Beberapa kitab yang sampai
kini jadi kajian antara lain Tafsir Al-Qur’an, An Nasikh wal Mansukh,
Jawaban Al-Qur’an, At Tarikh, Taat ar Rasul, dan Al Wara. Kitabnya yang
paling terkenal adalah Musnad Ahmad bin Hanbal.
Awal Mula Menuntut Ilmu
Ilmu yang pertama kali dikuasai adalah Al Qur’an hingga beliau hafal
pada usia 15 tahun, beliau juga mahir baca-tulis dengan sempurna hingga
dikenal sebagai orang yang terindah tulisannya. Lalu beliau mulai
konsentrasi belajar ilmu hadits di awal umur 15 tahun itu pula. Beliau
telah mempelajari Hadits sejak kecil dan untuk mempelajari Hadits ini
beliau pernah pindah atau merantau ke Syam (Syiria), Hijaz, Yaman dan
negara-negara lainnya sehingga beliau akhirnya menjadi tokoh ulama yang
bertakwa, saleh, dan zuhud. Abu Zur’ah mengatakan bahwa kitabnya yang
sebanyak 12 buah sudah belau hafal di luar kepala. Belaiu menghafal
sampai sejuta hadits. Imam Syafi’i mengatakan tetang diri Imam Ahmad
sebagai berikut :
“Setelah saya keluar dari Baghdad, tidak ada
orang yang saya tinggalkan di sana yang lebih terpuji, lebih shaleh dan
yang lebih berilmu daripada Ahmad bin Hambal”
Abdur Rozzaq Bin Hammam yang juga salah seorang guru beliau pernah berkata,
“Saya tidak pernah melihat orang se-faqih dan se-wara’ Ahmad Bin Hanbal”
Keadaan Fisik Beliau
Muhammad bin ‘Abbas An-Nahwi bercerita, Saya pernah melihat Imam Ahmad
bin Hambal, ternyata Badan beliau tidak terlalu tinggi juga tidak
terlalu pendek, wajahnya tampan, di jenggotnya masih ada yang hitam. Ia
senang berpakaian tebal, berwarna putih dan bersorban serta memakai
kain. Yang lain mengatakan, “Kulitnya berwarna coklat (sawo matang)”
Keluarga Beliau
Beliau menikah pada umur 40 tahun dan mendapatkan keberkahan yang
melimpah. Ia melahirkan dari istri-istrinya anak-anak yang shalih, yang
mewarisi ilmunya, seperti Abdullah dan Shalih. Bahkan keduanya sangat
banyak meriwayatkan ilmu dari bapaknya.
Kecerdasan Beliau
Putranya yang bernama Shalih mengatakan, Ayahku pernah bercerita,
“Husyaim meninggal dunia saat saya berusia dua puluh tahun, kala itu
saya telah hafal apa yang kudengar darinya”. Abdullah, putranya yang
lain mengatakan, Ayahku pernah menyuruhku, “Ambillah kitab mushannaf
Waki’ mana saja yang kamu kehendaki, lalu tanyakanlah yang kamu mau
tentang matan nanti kuberitahu sanadnya, atau sebaliknya, kamu tanya
tentang sanadnya nanti kuberitahu matannya”.
Abu Zur’ah pernah
ditanya, “Wahai Abu Zur’ah, siapakah yang lebih kuat hafalannya? Anda
atau Imam Ahmad bin Hambal?” Beliau menjawab, “Ahmad”. Ia masih ditanya,
“Bagaimana Anda tahu?” beliau menjawab, “Saya mendapati di bagian depan
kitabnya tidak tercantum nama-nama perawi, karena beliau hafal
nama-nama perawi tersebut, sedangkan saya tidak mampu melakukannya”. Abu
Zur’ah mengatakan, “Imam Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits”.
Pujian Ulama Terhadap Beliau
Abu Ja’far mengatakan, “Ahmad bin Hambal manusia yang sangat pemalu,
sangat mulia dan sangat baik pergaulannya serta adabnya, banyak
berfikir, tidak terdengar darinya kecuali mudzakarah hadits dan menyebut
orang-orang shalih dengan penuh hormat dan tenang serta dengan ungkapan
yang indah. Bila berjumpa dengan manusia, maka ia sangat ceria dan
menghadapkan wajahnya kepadanya. Ia sangat rendah hati terhadap
guru-gurunya serta menghormatinya”. Imam Asy-Syafi’i berkata, “Ahmad bin
Hambal imam dalam delapan hal, Imam dalam hadits, Imam dalam Fiqih,
Imam dalam bahasa, Imam dalam Al Qur’an, Imam dalam kefaqiran, Imam
dalam kezuhudan, Imam dalam wara’ dan Imam dalam Sunnah”. Ibrahim Al
Harbi memujinya, “Saya melihat Abu Abdillah Ahmad bin Hambal seolah
Allah gabungkan padanya ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang
belakangan dari berbagai disiplin ilmu”.
Kezuhudannya
Beliau memakai peci yang dijahit sendiri. Dan kadang beliau keluar ke
tempat kerja membawa kampak untuk bekerja dengan tangannya. Kadang juga
beliau pergi ke warung membeli seikat kayu bakar dan barang lainnya lalu
membawa dengan tangannya sendiri. Al Maimuni pernah berujar, “Rumah Abu
Abdillah Ahmad bin Hambal sempit dan kecil”.
Wara’ dan Menjaga Harga Diri
Abu Isma’il At-Tirmidzi mengatakan, “Datang seorang lelaki membawa uang
sebanyak sepuluh ribu (dirham) untuk beliau, namun beliau menolaknya”.
Ada juga yang mengatakan, “Ada seseorang memberikan lima ratus dinar
kepada Imam Ahmad namun beliau tidak mau menerimanya”. Juga pernah ada
yang memberi tiga ribu dinar, namun beliau juga tidak mau menerimanya.
Tawadhu’ Dengan Kebaikannya
Yahya bin Ma’in berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang seperti
Imam Ahmad bin Hambal, saya berteman dengannya selama lima puluh tahun
dan tidak pernah menjumpai dia membanggakan sedikitpun kebaikan yang ada
padanya kepada kami”. Beliau (Imam Ahmad) mengatakan, “Saya ingin
bersembunyi di lembah Makkah hingga saya tidak dikenal, saya diuji
dengan popularitas”. Al Marrudzi berkata, “Saya belum pernah melihat
orang fakir di suatu majlis yang lebih mulia kecuali di majlis Imam
Ahmad, beliau perhatian terhadap orang fakir dan agak kurang
perhatiannya terhadap ahli dunia (orang kaya), beliau bijak dan tidak
tergesa-gesa terhadap orang fakir. Ia sangat rendah hati, begitu tinggi
ketenangannya dan sangat memuka kharismanya”. Beliau pernah bermuka
masam karena ada seseorang yang memujinya dengan mengatakan, “Semoga
Allah membalasmu dengan kebaikan atas jasamu kepada Islam?” beliau
mengatakan, “Jangan begitu tetapi katakanlah, semoga Allah membalas
kebaikan terhadap Islam atas jasanya kepadaku, siapa saya dan apa (jasa)
saya?!”
Sabar Dalam Menuntut Ilmu
Tatkala beliau pulang
dari tempat Abdurrazzaq yang berada di Yaman, ada seseorang yang
melihatnya di Makkah dalam keadaan sangat letih dan capai. Lalu ia
mengajak bicara, maka Imam Ahmad mengatakan, “Ini lebih ringan
dibandingkan faidah yang saya dapatkan dari Abdirrazzak”.
Hati – Hati Dalam Berfatwa
Zakariya bin Yahya pernah bertanya kepada beliau, “Berapa hadits yang
harus dikuasai oleh seseorang hingga bisa menjadi mufti? Apakah cukup
seratus ribu hadits? Beliau menjawab, “Tidak cukup”. Hingga akhirnya ia
berkata, “Apakah cukup lima ratus ribu hadits?” beliau menjawab. “Saya
harap demikian”.
Kelurusan Aqidahnya Sebagai Standar Kebenaran
Ahmad bin Ibrahim Ad-Dauruqi mengatakan, “Siapa saja yang kamu ketahui
mencela Imam Ahmad maka ragukanlah agamanya”. Sufyan bin Waki’ juga
berkata, “Ahmad di sisi kami adalah cobaan, barangsiapa mencela beliau
maka dia adalah orang fasik”.
Masa Fitnah
Pemahaman
Jahmiyyah belum berani terang-terangan pada masa khalifah Al Mahdi,
Ar-Rasyid dan Al Amin, bahkan Ar-Rasyid pernah mengancam akan membunuh
Bisyr bin Ghiyats Al Marisi yang mengatakan bahwa Al Qur’an adalah
makhluq. Namun dia terus bersembunyi di masa khilafah Ar-Rasyid, baru
setelah beliau wafat, dia menampakkan kebid’ahannya dan menyeru manusia
kepada kesesatan ini.
Di masa khalifah Al Ma’mun, orang-orang
jahmiyyah berhasil menjadikan paham jahmiyyah sebagai ajaran resmi
negara, di antara ajarannya adalah menyatakan bahwa Al Qur’an makhluk.
Lalu penguasa pun memaksa seluruh rakyatnya untuk mengatakan bahwa Al
Qur’an makhluk, terutama para ulamanya. Barangsiapa mau menuruti dan
tunduk kepada ajaran ini, maka dia selamat dari siksaan dan penderitaan.
Bagi yang menolak dan bersikukuh dengan mengatakan bahwa Al Qur’an
Kalamullah bukan makhluk maka dia akan mencicipi cambukan dan pukulan
serta kurungan penjara.
Karena beratnya siksaan dan parahnya
penderitaan banyak ulama yang tidak kuat menahannya yang akhirnya
mengucapkan apa yang dituntut oleh penguasa zhalim meski cuma dalam
lisan saja. Banyak yang membisiki Imam Ahmad bin Hambal untuk
menyembunyikan keyakinannya agar selamat dari segala siksaan dan
penderitaan, namun beliau menjawab, “Bagaimana kalian menyikapi hadits
“Sesungguhnya orang-orang sebelum Khabbab, yaitu sabda Nabi Muhammad ada
yang digergaji kepalanya namun tidak membuatnya berpaling dari
agamanya”. HR. Bukhari 12/281. lalu beliau menegaskan, “Saya tidak
peduli dengan kurungan penjara, penjara dan rumahku sama saja”.
Ketegaran dan ketabahan beliau dalam menghadapi cobaan yang menderanya
digambarkan oleh Ishaq bin Ibrahim, “Saya belum pernah melihat seorang
yang masuk ke penguasa lebih tegar dari Imam Ahmad bin Hambal, kami saat
itu di mata penguasa hanya seperti lalat”.
Di saat menghadapi
terpaan fitnah yang sangat dahsyat dan deraan siksaan yang luar biasa,
beliau masih berpikir jernih dan tidak emosi, tetap mengambil pelajaran
meski datang dari orang yang lebih rendah ilmunya. Ia mengatakan,
“Semenjak terjadinya fitnah saya belum pernah mendengar suatu kalimat
yang lebih mengesankan dari kalimat yang diucapkan oleh seorang Arab
Badui kepadaku, “Wahai Ahmad, jika anda terbunuh karena kebenaran maka
anda mati syahid, dan jika anda selamat maka anda hidup mulia”. Maka
hatiku bertambah kuat”.
Ahli Hadits Sekaligus Juga Ahli Fiqih
Ibnu ‘Aqil berkata, “Saya pernah mendengar hal yang sangat aneh dari
orang-orang bodoh yang mengatakan, “Ahmad bukan ahli fiqih, tetapi hanya
ahli hadits saja. Ini adalah puncaknya kebodohan, karena Imam Ahmad
memiliki pendapat-pendapat yang didasarkan pada hadits yang tidak
diketahui oleh kebanyakan manusia, bahkan beliau lebih unggul dari
seniornya”.
Bahkan Imam Adz-Dzahabi berkata, “Demi Allah,
beliau dalam fiqih sampai derajat Laits, Malik dan Asy-Syafi’i serta Abu
Yusuf. Dalam zuhud dan wara’ beliau menyamai Fudhail dan Ibrahim bin
Adham, dalam hafalan beliau setara dengan Syu’bah, Yahya Al Qaththan dan
Ibnul Madini. Tetapi orang bodoh tidak mengetahui kadar dirinya,
bagaimana mungkin dia mengetahui kadar orang lain!!
Guru – Guru Beliau
Imam Ahmad bin Hambal berguru kepada banyak ulama, jumlahnya lebih dari
dua ratus delapan puluh yang tersebar di berbagai negeri, seperti di
Makkah, Kufah, Bashrah, Baghdad, Yaman dan negeri lainnya. Di antara
mereka adalah :
1. Ismail bin Ja’far
2. Abbad bin Abbad Al-Ataky
3. Umari bin Abdillah bin Khalid
4. Husyaim bin Basyir bin Qasim bin Dinar As-Sulami
5. Imam Asy-Syafi’i
6. Waki’ bin Jarrah
7. Ismail bin Ulayyah
8. Sufyan bin ‘Uyainah
9. Abdurrazaq
10. Ibrahim bin Ma’qil
Murid – Murid Beliau
Umumnya ahli hadits pernah belajar kepada imam Ahmad bin Hambal, dan
belajar kepadanya juga ulama yang pernah menjadi gurunya, yang paling
menonjol adalah:
1. Imam Bukhari
2. Muslim
3. Abu Daud
4. Nasai
5. Tirmidzi
6. Ibnu Majah
7. Imam Asy-Syafi’i. Imam Ahmad juga pernah berguru kepadanya.
8. Putranya, Shalih bin Imam Ahmad bin Hambal
9. Putranya, Abdullah bin Imam Ahmad bin Hambal
10. Keponakannya, Hambal bin Ishaq
Wafat Beliau
Setelah sakit sembilan hari, beliau Rahimahullah menghembuskan nafas
terakhirnya di pagi hari Jum’at bertepatan dengan tanggal dua belas
Rabi’ul Awwal 241 H pada umur 77 tahun. Jenazah beliau dihadiri delapan
ratus ribu pelayat lelaki dan enam puluh ribu pelayat perempuan.
Karya Tulis
Beliau menulis kitab al-Musnad al-Kabir yang termasuk sebesar-besarnya
kitab “Musnad” dan sebaik baik karangan beliau dan sebaik baik
penelitian Hadits. Ia tidak memasukkan dalam kitabnya selain yang
dibutuhkan sebagai hujjah. Kitab Musnad ini berisi lebih dari 25.000
hadits.
Diantara karya Imam Ahmad adalah ensiklopedia hadits
atau Musnad, disusun oleh anaknya dari ceramah (kajian-kajian) –
kumpulan lebih dari 40 ribu hadits juga Kitab ash-Shalat dan Kitab
as-Sunnah.
Karya – Karya Beliau
1. Kitab Al Musnad, karya yang paling menakjubkan karena kitab ini memuat lebih dari dua puluh tujuh ribu hadits.
2. Kitab at-Tafsir, namun Adz-Dzahabi mengatakan, “Kitab ini hilang”.
3. Kitab an-Nasikh wa al-Mansukh
4. Kitab at-Tarikh
5. Kitab Hadits Syu’bah
6. Kitab al-Muqaddam wa al-Mu’akkhar fi al-Qur`an
7. Kitab Jawabah al-Qur`an
8. Kitab al-Manasik al-Kabir
9. Kitab al-Manasik as-Saghir
Menurut Imam Nadim, kitab berikut ini juga merupakan tulisan Imam Ahmad bin Hanbal
1. Kitab al-’Ilal
2. Kitab al-Manasik
3. Kitab az-Zuhd
4. Kitab al-Iman
5. Kitab al-Masa’il
6. Kitab al-Asyribah
7. Kitab al-Fadha’il
8. Kitab Tha’ah ar-Rasul
9. Kitab al-Fara’idh
10. Kitab ar-Radd ala al-Jahmiyyah
Copyright 2010 "Banyak Baca Jadi Tau, Jarang Baca Kurang Tau, Tidak Baca Jadi Sok Tau". All rights reserved.
Themes by Bonard Alfin
Blogger Templates - PlayStation Vita - Studio Rekaman - Software Rekaman
0 komentar:
Posting Komentar