Minggu, 26 Desember 2021

PERMATA AL-FATHONAH KUALA MANDOR A ADAKAN PENGAJIAN DAN SANTUNAN ANAK YATIM : Penceramah Beri Motivasi Bergama dan Berbagi Tips Agar Suami Tak Selingkuh


PERMATA AL-FATHONAH KUALA MANDOR A ADAKAN PENGAJIAN DAN SANTUNAN ANAK YATIM : Penceramah Beri Motivasi Bergama dan Berbagi Tips Agar Suami Tak Selingkuh Serta

 

Majelis Taklim Masjid Nurul Jannah Pematang Rambai Hulu salah satu Anggota Jemaah Persatuan Majelis Taklim (PERMATA AL-FATHONAH) desa Kuala Mandor A kecamatan Kuala Mandor B Kubu Raya pada Minggu (25/12) mengadakan kegiatan “Mengaji dan Menyantuni Anak Yatim” Dalam Rangka Pertemuan Rutin Pengajian Permata 2 bulan sekali sekaligus memperingati Akhir tahun dan awal tahun.

 

Acara yang diisi oleh Nyai Qudsiyah Walid pengasuh Ponpes Darun Nasyiin Al-Hamdiyah Ambawang Kuala dan Utdzh. Atalia, S. Kom.I, Mullah dan Penyuluh Kecematan Ambawang Kuala ini dihadiri oleh 17 majelis Taklim se desa Kuala Mandor ini berjalan lancar khitmad dalam kondisi cuaca yang cerah.

 

Dalam sambutannya, Ust. Qomaruzzaman selaku pendiri dan ketua Pembina Permata Al-Fathonah menyampaikan beberapa hal kepada penceramah dan para jemaah. Pertama permata Desa Al-Fathonah awal berdirinya tahun 2015 dan jumlah anggota 5 majeleis taklim dan seiring berjalannya waktu hingga tahun 2018 sampai tahun 2021 anggotanya menjadi 16 Majelis taklim dan sampai  Desember 2021 ini dengan terbentuknya majelis taklim Muallaf dusun Jelua maka anggota Permata menjadi 17 Majelis Taklim dan ini merupakan subuah berkah dan kebanggan sendiri bagi desa kita karena setiap kampong di Desa Kuala Mandor A telah berdiri Majelis Taklim.

 

 

Kedua, kegiatan-kegiatan Permata selama ini cukup banyak seperti pengajian mingguan atau 2 minggu sekali seperti pembacaan yasin, tahlil, shalawat barzanji dan pengajian keagamaan yang bersifat tematik. Selain itu, permata juga sering mengadakan pembinaan dan pelatihan seperti Pelatihan Perawatan Jenazah, Seni Hadrah, Pendampingan masalah-masalah keluarga, santunan anak yatim, wisata religi serta lomba antar majelis taklim setiap bulan muharram dan bahkan prestasinya pun sudah cukup membanggakan karena selalu dapat juara tingkat Kemamatan, kabupaten. Khusus majelis taklim Nurul Jannah Pematang Rambai Hulu memiliki program setiap pertemuan pengajian mingguan ibu-ibu membawa beras seikhlasnya kemudian dibeli oleh tuan rumah pengajian dan uangnya dikumpulkan menjadi kas khusus untuk Santunan Anak Yatim dan pada acara kali ini anak yatim yang disantuni berjumlah 34 orang diambil dari masing-masing Majelis taklim dua orang.

 

 

Ketiga, bahwa Permata Al-Fathonah yang notabene di bawah naungan BKMT Kecamatan Kuala Mandor B salah satunya anggotanya telah menjadi pengurus Fatayat dan Muslimat, maka perlu adanya sinergi antara Permata dengan fatayat/Muslimat terlebih selama ini ritual keagamaan yang dipraktekkan dalam keseharian dan dalam pengajian oleh jemaah majelis taklim anggota Permata Al-Fathonah adalah ritual tradisi ke-NU-an, jadi sinergistias program ini sangat diperlukan. Dan  Keempat, dalam waktu dekat Permata membuat pengadaan Kalinder tahun 2022 dimana dalam kalender tersebut dipasang foto anggota dan Pembina masing-masing majelis taklim, kemudian keuntungannya masuk menjadi kas masing-masing taklim, Permata hanya memfalitasi dana modal pencetakan.

 Pada kegiatan “Mengaji dan Menyantuni Anak Yatim” kali ini karena momoennya bertepatan dengan Natal dan perserta acara terdapat peserta yang muallaf dari jelau maka Ustzh. Atalia menjadi penceramah pertama dengan materi memberi motivasi pada Jemaah umumnya dan pada Jemaah muallaf khususnya. Ia mencerikan pengalaman dia manjadi muallaf sampai menjadi pengurus Yayasan Dzah Hijra, BKMT kecamatan, Permata Desa Ambawang, Pembina beberapa majelis Taklim Anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Dai Baznas Kalbar serta Penyuluh Agama KUA Kecamatan Ambawang Kuala. Seorang muallaf mau bersungguh-sungguh dalam mempelajari agama Islam dan mau mensyiarkan Islam. Jadi, masak iya ibu-ibu yang Islam sejak lahir tidak semangat belajar dan syiar Islam, terlebih bagi saudara-saudaraku yang muallaf maka perkuatkan akidah, pemahaman agama dan yakinlah bahwa Islam Agama yang paling benar. Paparnya

 Lebih lanjut istri dari Ketua Lembaga Dakwah NU (LDNU) Kubu Raya ini menuturkan, “Perjalanan menjadi muallaf hingga capain saat ini cukup banyak ujian yang dilewati, setiap orang diuji dengan ujian masing-masing. Setiap prag memiliki masa lalu, aib dan dosa, maka semua itu jadikan pelajaran bermutu untuk terus berusaha menjadi insan yang lebih baik ke depan.

 Dalam kesempatan yang sama, Nyai Qudsyiyah Walid menyampaikan bahwa “ibu-ibu yang hadir di pengajian ini adalah orang-orang yang dicintai Allah dan rasulnya sehingga diketuk hatinya berjalan menuju kesini belajar agama dengan niat ibadah dan berupaya menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk suami dan anak-anak. Oleh karenanya untuk mencapai keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah perlu dibekali dan dipelajari konsep menjadi ibu rumah  yang baik dan disayang suami, karena bagi seorang istri surga itu cukup mudah, cukup shalat 5 waktu, puasa Ramadhan, taat pada suami dan menjaga kehormatan diri atau keluarga, maka ia akan masuk surga melewati pintu mana saja yang ia suka.”

 Putri Pertama dari Alm. KH. Abdus Syakur Darun Nasyiin ini juga menanggapi salah satu pertanyaan dari Jemaah, “bagaimana agar suami tidak Selingkuh?” ia menjawab resep untuk menggapai keluarga sakinah  dan agar suami tidak berselingkuh maka hendaknya para istri harus memperhatikan tiga hal yaitu, Pertama mata dalam arti istri harus pinter berdandan dan selalu berupaya tampil cantic untuk menyenangkan suami, jangan sampai suami tidak senang melihat istri bisa-bisa berpaling suami pada orang lain”. Kedua  Istri harus menjaga perut, maksudnya adalahharus selalu berupaya membuat masakan yang menjadi kesukaan suaminya atau memasak yang menunya sesuai permintan suami, karena kalua tidak para suami lebih enak jajan di luar. Dan ketiga istri juga wajib membuat servis yang maksimal untuk suami. Istri semaksimal mungkin atau terus berusaha dapat tampil seksi, mesra dan romatis dihadaan suami termasuk servis memuaskan shasrat sumai harus dimaksimalkan. (Kontributor pewarta: Qomaruzzaman)

 












Lailatul Ijtima’ PRNU Desa Kuala Mandor A Koordinasi, Pembinaan Muallaf Dan Penguatan Keaswajaan Bersama KH. Nasihuddin Khozin RU Raudhatul Ulum 1 Malang

        Pengurus Ranting Nahdhatul Ulama desa Kuala Mandor A (PRNU-KMA) kecamatan Kuala Mandor B Kubu Raya mengadakan Lailatul Ijtima di kediaman Ust. Ferdin Parit Mariana. (Minggu, 25/12). Acara tersebut dihadiri oleh KH. Nasihuddin Khozin Pengasuh Pondok Pesantren Raudatul Ulum I Malang serta beberapa tokoh seperti Ust. Mustahar (perwakilan PC NU Kubu Raya), Ust. Muhammad Syahril, Ust. Agus Salim, Ust. Mayuri Ust. Qomaruzzaman (Perwakilan MWC-NU Kec. Kuala Mandor B) serta beberapa tokoh agama dan masyarakat setempat. 

    Struktur organisasi NUtingkat desa/kelurahan ini diisi dengan beberapa kegiatan seperti shalat maghrib bersama dilanjutkan dengan doa dan dzikir bersama (yasin-tahlil) yang menjadi ciri khas NU, kajian tentang keaswajaan serta diskusi program jangka pendek dan program jangka panjang. Dalam kesempatan tersebut baik perwakilan PCNU maupun MWC sangat mengapresiasi kegiatan Lailatul Ijima’ ini dan mendorong PRNU Desa Kuala Mandor A semakin istiqomah serta membuat program-program khusus untuk soliditas anggota serta penguatan keagamaan umat yang bercirikan khas NU karena banteng terkuat NU adalah di pengurus tingkat bawah seperti PRNU dan lainnya. 

            Dikesempatan yang sama, Ust. Qomaruzzaman selaku Wakil Rais Am MWC NU Kuala Mandor B menyampaikan PRNU KMA harus bersinergi dengan beberapa Banom NU seperti Fatayat, Muslimat serta mengusulkan terbentuknya, Persatuan Guru NU (PERGUNU), Pengurus Anak Ranting NU (PAR-NU) serta menjadikan kampung Muallaf di kampung Jelau Kuala Mandor A menjadi kampung binaan khusus PRNU desa Kuala Mandor A. 

        Dalam sambutannya ketua Tanfidz PRNU, Ust. Syamsudin maupun Rois Am ust. Abdul Hary senada menyampaikan bahwa PRNU desa Kuala Mandor A memiliki beberapa program yang telah terlaksana, seperti kegiatan Lailataul Ijtima yang rutin tiga buan sekali, mengadakan silaturrahmi kepada tokoh-tokoh agama di desa, pendampingan program vaksin bekerjasama dengan desa serta program-program lain yang bersifat kontinu termasuk respon pembentukan Perguna, sinergi dengan Fatayat-Muslimat NU serta upaya menjadikan kampung muallaf Jelau menjadi kampung binaan Pengurus Ranting NU desa Kuala Mandor A. 

        Acara Lailatul Ijtima’ ini ditutup dengan tausyiyah oleh KH. Nasihuddin Khozin. Dalam tausiyahnya Kiai Nasihuddin ini menyampaikan, “Lailatu Ijtima’ itu bahasa sederhananya adalah kumpul-kumpul malam, mengaji dengan diselingi ngopi, merokok, dan makan-makan. Dan mengaji saperti ini lebih utama daripada kumpul-kumpul sambil (ghibah) membicarakan orang lain”. Kiai yang termasuk Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Ulum I Malang ini menyampaikan bahwa “organisasi masalah sosial agama dan politik pemerintahan sebelum NU berdiri khususnya masa Wali Songo telah ada, namun yang diformalkan barulah pada masa KH Hasyim Asy’ari dengan berdirinya Organisasi Nahdhatul Ulama. NU memiliki karakter tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleran). Oleh karenanya, para pendiri (muassis) NU menanamkan pola pikir (mindset) “Kita orang yang ada di Indonesia yang beragama Islam. Bukan Orang Islam yang ada di Indonesia.” Dalam segala hal NU selalu menyesuaikan dengan kondisi (konteks) di Indonesia selama tidak bertentangan dengan Islam. Jadi Islam NU itu tidak Kaku dan tidak kagetan. NU itu luwes tidak keras dalam menyampiakan hukum fiqih pada umatnya. Tutur beliau.

        Lebih lanjut KH. Nasihuddin menyampaikan sebuah kisah “ada seseorang “fulan” memiliki 6 orang anak lalu ia ingin berqurban 1 ekor Sapi untuk 8 orang (si fulan, istri serta 6 anaknya), namun karena aturan fiqh mengatur bahwa 1 ekor sapi hanya untuk 7 orang, maka si fulan datang pada Kiai “A” yang beraliran tertentu dan menyampaikan ingin berqurban 1 ekor sapi untuk 8 orang (sekeluarga) lalu si Kiai A menyatakan bahwa itu tidak bisa karena hukumnya sudah jelas 1 ekor sapi untuk 7 orang. Kemudian si fulan datang pada Kiai “B” yang beraliran NU menanyakan hal yang sama. Kiai B lalu menjawab “bahwa berqurban 1 ekor sapi untuk 8 orang itu bisa dan nanti hewan qurban tersebut akan menjadi tunggangan melewati shirtul mustaqim, oleh karena kamu (fulan) 8 orang sekeluarga dan anakmu yang nomor 6 masih kecil tentu ia tidak bisa menaiki sapi tersebut sehingga perlu sarana untuk bisa naik ke sapi, dan sarana tersebut adalah 1 ekor kambing. Jadi anakmu yang paling kecil itu agar bisa naik ke sapi harus dibelikan 1 ekor kambing. Atas penjelasan kiai B ini maka si fulan pun menerima sehingga hukum fiqh 1 sapi untuk 7 orang dan 1 kambing untuk 1 orang terpenuhi.” 

        Kisah di atas inilah salah satu contoh luwesnya ulama NU dalam menyampaikan sebuah hukum pada umatnya. Oleh karenanya lanjut beliau “ ketika Kiai Hasyim disodorkan lambang NU, Kiai Hasyim minta lambang NU tersebut dibawa pada KH Nawawi Sidogiri untuk di tashih dan oleh Kiai Nawawi disuruh tambah tali tapi jangan seret-seret (longgar saja), filosofinya adalah bahwa NU itu tidak kaku dan keras tapi tawasuth (moderat). 

        Kiai Nasihuddin juga memberikan amanah pada pengurus PRNU desa Kuala Mandor A untuk selalu menjaga umat dan generasi berikutnya karena zaman sekarang ada golongan-golongan tertentu yang ingin merusak stigma positif Kiai dan pesantren menjadi negartif sehingga generasi Islam di Indonesia khususnya generasi NU jauh dari ulama dan pesantren nantinya. Pondok pesantren yang menjadi ciri khas Indonesia dengan ciri khas kurikulum aswajanya disaingi dengan membuat pesantren yang kurikulumnya bukan paham aswaja. Temasuk Istilah “Kiai” yang dulunya menjadi gelar bagi ulama yang mumpuni ilmunya serta memiliki pesantren layaknya gelar professor atau doktor, sekarang siapaun dengan mudah disebut kiai. Jadi tantangan PRNU sebagai garda terdepan yang bersinggungan langsung dengan masyarakat terbawah ke depannya semakin berat. Oleh karena itu, pengurus PRNU harus kompak, semangat dengan program-program yang tepat sasaran dan selamatkan generasi penerus kita. Tutur beliau. (Pewarta: Qomaruzzaman).
: Qomaruzzaman).
 
Copyright 2010 "Banyak Baca Jadi Tau, Jarang Baca Kurang Tau, Tidak Baca Jadi Sok Tau". All rights reserved.
Themes by Bonard Alfin Blogger Templates - PlayStation Vita - Studio Rekaman - Software Rekaman