Pengurus Ranting Nahdhatul Ulama desa Kuala Mandor A (PRNU-KMA) kecamatan Kuala
Mandor B Kubu Raya mengadakan Lailatul Ijtima di kediaman Ust. Ferdin Parit
Mariana. (Minggu, 25/12). Acara tersebut dihadiri oleh KH. Nasihuddin Khozin
Pengasuh Pondok Pesantren Raudatul Ulum I Malang serta beberapa tokoh seperti
Ust. Mustahar (perwakilan PC NU Kubu Raya), Ust. Muhammad Syahril, Ust. Agus
Salim, Ust. Mayuri Ust. Qomaruzzaman (Perwakilan MWC-NU Kec. Kuala Mandor B)
serta beberapa tokoh agama dan masyarakat setempat.
Struktur organisasi
NUtingkat desa/kelurahan ini diisi dengan beberapa kegiatan seperti shalat
maghrib bersama dilanjutkan dengan doa dan dzikir bersama (yasin-tahlil) yang
menjadi ciri khas NU, kajian tentang keaswajaan serta diskusi program jangka
pendek dan program jangka panjang. Dalam kesempatan tersebut baik perwakilan
PCNU maupun MWC sangat mengapresiasi kegiatan Lailatul Ijima’ ini dan mendorong
PRNU Desa Kuala Mandor A semakin istiqomah serta membuat program-program khusus
untuk soliditas anggota serta penguatan keagamaan umat yang bercirikan khas NU
karena banteng terkuat NU adalah di pengurus tingkat bawah seperti PRNU dan
lainnya.
Dikesempatan yang sama, Ust. Qomaruzzaman selaku Wakil Rais Am MWC NU
Kuala Mandor B menyampaikan PRNU KMA harus bersinergi dengan beberapa Banom NU
seperti Fatayat, Muslimat serta mengusulkan terbentuknya, Persatuan Guru NU
(PERGUNU), Pengurus Anak Ranting NU (PAR-NU) serta menjadikan kampung Muallaf di
kampung Jelau Kuala Mandor A menjadi kampung binaan khusus PRNU desa Kuala
Mandor A.
Dalam sambutannya ketua Tanfidz PRNU, Ust. Syamsudin maupun Rois Am
ust. Abdul Hary senada menyampaikan bahwa PRNU desa Kuala Mandor A memiliki
beberapa program yang telah terlaksana, seperti kegiatan Lailataul Ijtima yang
rutin tiga buan sekali, mengadakan silaturrahmi kepada tokoh-tokoh agama di
desa, pendampingan program vaksin bekerjasama dengan desa serta program-program
lain yang bersifat kontinu termasuk respon pembentukan Perguna, sinergi dengan
Fatayat-Muslimat NU serta upaya menjadikan kampung muallaf Jelau menjadi kampung
binaan Pengurus Ranting NU desa Kuala Mandor A.
Acara Lailatul Ijtima’ ini
ditutup dengan tausyiyah oleh KH. Nasihuddin Khozin. Dalam tausiyahnya Kiai
Nasihuddin ini menyampaikan, “Lailatu Ijtima’ itu bahasa sederhananya adalah
kumpul-kumpul malam, mengaji dengan diselingi ngopi, merokok, dan makan-makan.
Dan mengaji saperti ini lebih utama daripada kumpul-kumpul sambil (ghibah)
membicarakan orang lain”. Kiai yang termasuk Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul
Ulum I Malang ini menyampaikan bahwa “organisasi masalah sosial agama dan
politik pemerintahan sebelum NU berdiri khususnya masa Wali Songo telah ada,
namun yang diformalkan barulah pada masa KH Hasyim Asy’ari dengan berdirinya
Organisasi Nahdhatul Ulama. NU memiliki karakter tawasuth (moderat), tawazun
(seimbang), dan tasamuh (toleran). Oleh karenanya, para pendiri (muassis) NU
menanamkan pola pikir (mindset) “Kita orang yang ada di Indonesia yang beragama
Islam. Bukan Orang Islam yang ada di Indonesia.” Dalam segala hal NU selalu
menyesuaikan dengan kondisi (konteks) di Indonesia selama tidak bertentangan
dengan Islam. Jadi Islam NU itu tidak Kaku dan tidak kagetan. NU itu luwes tidak
keras dalam menyampiakan hukum fiqih pada umatnya. Tutur beliau.
Lebih lanjut KH.
Nasihuddin menyampaikan sebuah kisah “ada seseorang “fulan” memiliki 6 orang
anak lalu ia ingin berqurban 1 ekor Sapi untuk 8 orang (si fulan, istri serta 6
anaknya), namun karena aturan fiqh mengatur bahwa 1 ekor sapi hanya untuk 7
orang, maka si fulan datang pada Kiai “A” yang beraliran tertentu dan
menyampaikan ingin berqurban 1 ekor sapi untuk 8 orang (sekeluarga) lalu si Kiai
A menyatakan bahwa itu tidak bisa karena hukumnya sudah jelas 1 ekor sapi untuk
7 orang. Kemudian si fulan datang pada Kiai “B” yang beraliran NU menanyakan hal
yang sama. Kiai B lalu menjawab “bahwa berqurban 1 ekor sapi untuk 8 orang itu
bisa dan nanti hewan qurban tersebut akan menjadi tunggangan melewati shirtul
mustaqim, oleh karena kamu (fulan) 8 orang sekeluarga dan anakmu yang nomor 6
masih kecil tentu ia tidak bisa menaiki sapi tersebut sehingga perlu sarana
untuk bisa naik ke sapi, dan sarana tersebut adalah 1 ekor kambing. Jadi anakmu
yang paling kecil itu agar bisa naik ke sapi harus dibelikan 1 ekor kambing.
Atas penjelasan kiai B ini maka si fulan pun menerima sehingga hukum fiqh 1 sapi
untuk 7 orang dan 1 kambing untuk 1 orang terpenuhi.”
Kisah di atas inilah salah
satu contoh luwesnya ulama NU dalam menyampaikan sebuah hukum pada umatnya. Oleh
karenanya lanjut beliau “ ketika Kiai Hasyim disodorkan lambang NU, Kiai Hasyim
minta lambang NU tersebut dibawa pada KH Nawawi Sidogiri untuk di tashih dan
oleh Kiai Nawawi disuruh tambah tali tapi jangan seret-seret (longgar saja),
filosofinya adalah bahwa NU itu tidak kaku dan keras tapi tawasuth (moderat).
Kiai Nasihuddin juga memberikan amanah pada pengurus PRNU desa Kuala Mandor A
untuk selalu menjaga umat dan generasi berikutnya karena zaman sekarang ada
golongan-golongan tertentu yang ingin merusak stigma positif Kiai dan pesantren
menjadi negartif sehingga generasi Islam di Indonesia khususnya generasi NU jauh
dari ulama dan pesantren nantinya. Pondok pesantren yang menjadi ciri khas
Indonesia dengan ciri khas kurikulum aswajanya disaingi dengan membuat pesantren
yang kurikulumnya bukan paham aswaja. Temasuk Istilah “Kiai” yang dulunya
menjadi gelar bagi ulama yang mumpuni ilmunya serta memiliki pesantren layaknya
gelar professor atau doktor, sekarang siapaun dengan mudah disebut kiai. Jadi
tantangan PRNU sebagai garda terdepan yang bersinggungan langsung dengan
masyarakat terbawah ke depannya semakin berat. Oleh karena itu, pengurus PRNU
harus kompak, semangat dengan program-program yang tepat sasaran dan selamatkan
generasi penerus kita. Tutur beliau. (Pewarta: Qomaruzzaman).

0 komentar:
Posting Komentar