Jumat, 15 Maret 2024

*Perbedaan antara Paparan Data, Pembahasan dan Temuan Penelitian*

 


Di Beberapa kampus, dalam penulisan skripsi pembahasan tentang Paparan Data, Pembahasan (analisa) dan Temuan Penelitian biasanya 3 point tersebut dimasukan menjadi 1 bab pembahasan, tepatnya menjadi isi dari bab 4. mahasiswa kadang bingung apa yang dibahas dari 3 point tersebut.

Berikut saya jelaskan secara ringkas Perbedaan antara Paparan Data, Pembahasan dan Temuan Penelitian*
*
Paparan Data*

1. Menyajikan data mentah secara sistematis dan deskriptif sesuai kategori dan variabel penelitian

2. Belum ada analisis atau interpretasi data

3. Tujuan memberikan gambaran awal data yang terkumpul

*Pembahasan*

1. Melakukan analisis terhadap data yang disajikan secara mendalam

2. Menghubungkan data dengan kerangka konseptual atau teori yang relevan

3. Memberikan interpretasi awal terhadap hasil analisis data

4. Tujuan mengungkap makna awal dari hasil analisis deskriptif


*Temuan Penelitian*

1. Merupakan hasil akhir dari proses analisis data

2. Menjawab masalah penelitian berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh

3. Menarik kesimpulan tentang hubungan variabel berdasar analisis data

4. Relevan dengan Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian

5. Merupakan hasil verifikasi awal terhadap landasan teori


*Perbedaan antara Paparan Data dan Temuan Penelitian adalah sebagai berikut:*

*Paparan Data* merupakan penyajian data-data mentah yang telah dikumpulkan dari objek penelitian tanpa analisis lebih lanjut. Data yang disajikan secara deskriptif dan sistematis menurut kategori dan variabel penelitian. Tujuan utama adalah memberikan gambaran awal tentang data yang terkumpul.


*Sedangkan Temuan Penelitian* adalah hasil analisis terhadap data yang telah dipaparkan sebelumnya. Data-data yang telah dipapar terlebih dahulu akan diolah, dianalisis, dievaluasi, dan disimpulkan untuk menjawab perumusan masalah penelitian. Temuan mengandung interpretasi peneliti setelah menganalisis data untuk mengungkap keterkaitannya dengan teori atau kerangka konseptual.


*Perbedaan utama* antara keduanya adalah paparan data hanya menyajikan data mentah tanpa analisis lebih lanjut, sedangkan temuan penelitian mengandung analisis data yang mendalam untuk menjawab persoalan penelitian. Paparan data bersifat deskriptif sedangkan temuan penelitian bersifat eksplanatif. Paparan data sebagai langkah awal sebelum analisis lebih mendalam dilakukan untuk menghasilkan temuan.

QZ

Kamis, 14 Maret 2024

MENYISAKAN MAKANAN DI ANGGAP TABZIR DAN HARAM DALAM PANDANGAN ISLAM: Sebutir Nasi Bisa Menghidupi Seluruh Masyarakat Indonesia" : Berbagi Makanan Dibulan Ramadhan Itu Lebih Baik Daripada Dibuang

Fenomena menyisakan makanan di piring setelah makan khususnya setelah buka puasa atau sahur memang masih sering terjadi di kalangan masyarakat. Namun di balik praktik ini tersirat berbagai permasalahan yang cukup miris jika diamati lebih dalam.

Sebagaimana narasi yang disampaikan Prof. Surono Danu dalam channel Youtube adanews_ dengan judul 

"SEBUTIR NASI BISA MENGHIDUPI MASYARAKAT INDONESIA" -

 Prof. Surono menyampaikan:

“Apabila kita menyisakan satu butir nasi dalam satu piring, itu sama artinya kita menyisakan 1 butir beras. 1 gram beras itu 50 butir, 1 kg. beras sama dengan 50.000 butir. Apabila penduduk Indonesia minyisakan 1 butir makan nasi di piring, dikali 200 juta warga Indonesia itu sama saja 4 ton sekali makan beras dibuang.  2 kali makan sama dengan 8 ton beras dibuang. 1 bulan saman dengan 240 ton beras dibuang. Saya sering anak-anak muda katanya Milenial atau Gen Z dari keluarga yang tidak mampu tapi anak-anak muda tersebut banyak terlihat makan di warung makan atau di rumah makan menyisakan setengah piring nasi tak termakan.”

 Sungguh miris.

Berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO) hampir 1/3 makanan dan gizi yang diproduksi di dunia tidak habis dimakan dan malah dibuang. Padahal jumlah orang yang kelaparan di dunia mencapai 800 juta jiwa. Kondisi ini dinilai bertentangan dengan ajaran agama, khususnya Islam.

Secara ekonomi, makanan yang disisakan di piring bukan hanya membuang biaya produksi pangan, tetapi juga berarti mengurangi ketersediaan pangan bagi kelompok yang tidak mampu. Mengingat populasi kelaparan di Indonesia masih mencapai puluhan juta jiwa.

Dari sisi lingkungan, makanan yang dibuang ke tempat sampah akan menjadi sampah organik yang berdampak pada pencemaran lingkungan. Terlebih sampah pangan yang terdegradasi akan menghasilkan gas metana yang merupakan gas rumah kaca berbahaya.

Tak kalah pentingnya, menyisakan makanan dapat memupuk budaya konsumtif dan membuang-buang. Anak-anak kita justru akan terbiasa memilih dan meninggalkan makanan seenaknya. Padahal pada dasarnya makanan merupakan nikmat yang tidak semua orang bisa menikmatinya.

Di sisi lain, banyak orang yang kelaparan di luar sana hanya karena tidak mampu membeli makanan. Ironisnya kita dengan berkecukupan malah membuang sisa makanan, bukannya dinikmati sepenuhnya. Hal ini jelas sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan 

Dalam Pandangan Islam sendiri, menyisakan atau membuang-buang makanan dihukumi haram karena termasuk “Tabzir/mubazir” sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Isra’ ayat 27 yang berbunyi:

اِنَّ الۡمُبَذِّرِيۡنَ كَانُوۡۤا اِخۡوَانَ الشَّيٰطِيۡنِ‌ ؕ وَكَانَ الشَّيۡطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوۡرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.”

 Kenapa kita kalau makan itu harus habis dan bersih?

Rasulallah Saw menyuruh kita ketika selesai makan jangan diusap tangannya (Fala yamsah), sampai dia jilatin tangannya atau dia jilatkan kepada orang lain, istrinya atau anaknya. Nabi juga menyuruh kita untuk menjilat wadah makanan, kenapa demikian? Jawabannya ada dua. Pertama agar kita tidak menyisakan makanan buat setan. Sisa makanan itu dimakan sama setan, maka kadang takkala sahabat makanannya jatuh Nabi Saw bersabda “Jangan dibiarkan buat setan dibersihkan kemudian dimakan”. 

Kedua, kita tidak tahu berkahnya makanan itu di mana.  Jadi berkah ketika kita makan itu turun ke tengah makanan kemudian menyebar. dimana berkahnya kita tidak tahu dan malah ternyata berkahnya kita buang, yang seharusnya kita habiskan. Padahal keberkahan itu akan membuat kita jadi sehat,  makanan itu tidak jadi penyakit untuk tubuh kita atau keberkahan makanan itu dapat membuat kita jadi mudah beribadah kepada Allah,

Maka marilah kita habiskan makanan kita, khususnya di bulan Ramdhan ini habiskanlah makanan takjil (buka puasa) atau makanan Sahur kita. Menjadi sangat miris rasanya karena masih banyak sekali sisa makanan Takjil berbuka puasa atau sahur yang sering kita buang begitu saja. Padahal kita tahu bahwa masih banyak saudara-saudara di sekitar kita yang belum mampu untuk mendapatkan makanan sehari-hari bahkan untuk berbuka puasa.

Contoh yang paling nyata adalah kondisi saudara-saudara kita di Palestina. Mereka sangat kesulitan untuk mendapatkan makanan, apalagi untuk berbuka puasa. Mereka harus rela antri panjang bersama warga lain hanya untuk mendapatkan sedikit bubur Takjil. Padahal setelah antri lama ada diantara merekan yang belum tentu mendapatkannya.

Jika sekiranya makanan kita diperkirakan tidak dapat kita habiskan alangkah baiknya makanan tersebut kita sedekahkan pada mereka yang mau berbuka puasa. Karena sabda nabi barang siapa yang memberi makanan pada orang yang berbuka puasa maka dia akan mendapatkan tiga keutamaan yaitu mendapatkan pengampunan (maghfirah) atas dosa-dosa kita, menyelamat kita dari api neraka dan kita akan memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa yang kita berikankan makanan untuk berbuka puasa, tanpa mengurangi sedikitpun pahala dari orang yang berpuasa tersebut. Sebagaimana sabda nabi"

مَنْ فَطَّرَ فِيْهِ صَائِمًا كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنُوْبِهِ وَعِتْقٌ رَقَبِتِهِ مِنَ النَّارِ وَكَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَقِصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءُ،

Barangsiapa (pada bulan itu) memberikan buka kepada seorang yang akan berbuka puasa, maka itu menjadi maghfirah (pengampunan) atas dosa-dosanya, penyelamatnya dari api neraka dan ia memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa (itu) sedikitpun.”

 قَالُوْا : لَيْسَ كُلُّنَا نَجِدُ مَا يُفْطِرُ الصَّائِمَ،

Kemudian para Sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kita memiliki makanan untuk diberikan sebagai buka orang yang berpuasa.” 

 فَقَالَ : يُعْطِي اللهُ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى تَمْرَةٍ أَوْ شَرْبَةِ مَاءٍ أَوْ مَذْقَةِ لَبَنٍ

Rasulullah SAW berkata, “Allah memberikan pahala tersebut kepada orang yang memberikan buka dari sebutir kurma, atau satu teguk air atau susu. 

وَمَنْ أَشْبَعَ فِيْهِ صَائِمًا سَقَاهُ اللهُ مِنْ حَوْضِيْ شَرْبَةً لاَ يَظْمَأُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.”

Menyisakan makanan apalagi membuang makanan sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang mengajarkan nilai-nilai kepedulian dan kebersamaan. Kita seharusnya bisa menghindari sikap berleih-lebihan dalam menkonsumsi makanan (tabzir). 

Maka bijaklah dalam mengkonsumsi makanan. 

Penulis: Qomaruzzaman, SHI, MSI. 

Dosen tan Sekprodi Hukum Tata Negara Fakultas Syariah IAIN Pontianak

Ditulis di Pematang Rambai pada Kamis, 3 Ramadhan 1445 / 14 Maret 2024

 
Copyright 2010 "Banyak Baca Jadi Tau, Jarang Baca Kurang Tau, Tidak Baca Jadi Sok Tau". All rights reserved.
Themes by Bonard Alfin Blogger Templates - PlayStation Vita - Studio Rekaman - Software Rekaman