Ironis banget, ya? Di satu sisi kita sering denger tagline “Indonesia adalah negara religius,” tapi di sisi lain, medsos penuh konten vulgar yang justru menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Dan akun "Fantasi Sedarah" cuma salah satu dari banyak gejala penyakit moral yang makin parah.
Dulu, kita dibesarkan dengan harapan bahwa teknologi akan membawa kita ke era emas informasi. Tapi kenyataannya? Justru banyak yang terperosok ke jurang obsesi sesaat. Seperti ular berbisa dalam selimut hangat, konten-konten ekstrem menyusup tanpa disadari.
Facebook, dulunya tempat eksis-eksis ala anak muda, kini bisa jadi medan perang moral. Grup seperti *Fantasi Sedarah* bukan lagi soal eksplorasi imajinasi, melainkan ajang pelampiasan hasrat yang menabrak norma. Apakah ini evolusi sosial media atau kemunduran mentalitas?
Menurut data Komnas Perempuan tahun 2023, jumlah laporan kekerasan seksual meningkat drastis hingga 40% dalam lima tahun terakhir. Tapi ironisnya, platform digital justru menjadi wadah untuk meracuni pikiran generasi muda lewat konten-konten semacam ini.
Kayak beli air minum ternyata isinya racun tikus. Niatnya cari hiburan, eh malah dipropagandai fantasi yang melanggar batas kemanusiaan. Ini bukan sekadar iseng atau “main-main” di dunia maya, ini sudah masuk ranah penyebaran paham yang membahayakan psikologis masyarakat.
Dulu, nenek moyang kita mengenal adat dan tabu sebagai benteng moral. Anak kecil aja udah diajarin mana yang pantas dan tidak. Tapi sekarang? Anak SD bisa scroll konten dewasa karena filter medsos lebih longgar daripada pintu kos-kosan.
Generasi 90-an mungkin masih ingat iklan TV yang bilang “Jangan tonton siaran setelah jam 9 kalau belum dewasa.” Sekarang? Semua tersedia 24 jam, tinggal klik, dan voila! Fantasi sedarah siap dinikmati dengan kuota internet 5 ribu rupiah.
Zaman now, segala sesuatu bisa
viral dalam hitungan menit. Cepatnya kayak gosip mantan yang balikan lagi. Yang
lucu, kadang netizen lebih cepat klik “bagikan” daripada baca isi kontennya.
Padahal, konten yang mereka sebarkan bisa jadi racun berantai.
Kalau pendidikan seksual formal saja minim, jangan heran kalau anak muda mencari jawaban di tempat yang salah. Grup Fantasi Sedarah ibarat guru privat yang malah mengajarkan kesesatan, lengkap dengan kurikulum abu-abu.
Ini bukan hanya urusan polisi atau Kementerian Komdigi. Ini urusan kita bersama. Kalau kita biarkan, maka Indonesia bakal jadi laboratorium moral yang gagal. Tapi kalau kita lawan dengan edukasi dan kontrol diri, kita bisa ubah arah badai ini (Antara News, 2024).
Di tengah badai moral ini, masih ada cahaya harapan. Anak-anak muda yang sadar pentingnya literasi digital, komunitas yang bangkit melawan ujaran kebencian, hingga tokoh agama yang mulai turun tangan. Mereka adalah pelita di tengah pekatnya malam.
Maka, mari kita jadikan ini sebagai titik awal, bukan akhir. Jangan diam jika melihat sesuatu yang salah. Jangan ikut heboh jika itu tak memberi manfaat. Karena setiap klik, setiap bagikan, bisa jadi doa yang kembali pada kita.
Quotes
“Media adalah cermin. Tapi kalau cermin itu pecah, siapa yang bertanggung jawab atas potongan-potongannya?”
*Qomaruzzaman*
#Fasya_IAIN Pontianak
#PKBH__IAIN Pontianak
#PWPerguNU_Kalbar
#Guru_PP_DarNas


0 komentar:
Posting Komentar