Karena kemauan yang kuat, bisa melanjut studi, kuliah biaya sendiri (disela2 kuliah mengajar TK, TPA/TPQ, PAUD, MTs dan MAN), semester 4 nikah, semester 7 dianugrahi anak down syndrom jantung bocor 8mm, masih menjadi ketua BEM, Ketua Korp Dakwah Mahasiswa UIN (Kordiska), Pengasuh Yayasan, Penyuluh honorer Kemenag DIY, Editor teknis Disertasi (doktoral) Pascasarjana UIN Suka, dan Konsultan Hukum di Pengadilan Agama Sleman,
Tapi masih bisa menjadi Mahasiswa dg lulusan tercepat/Wisudawan Tercepat, Terbaik Cumlaude I pada jenjang:
- S-1 (3 tahun 6 bulan 10 hari, IPK. 3.88, tertinggi se-Fakultas dan se-Universitas)
- S-2 (1 tahun 6 bulan 8 hari, IPK. 3. 79, tertinggi Tingkat Pascasarjana)
Wisuda S1 wisuda bareng dengan Istri, diapit/didampingi anak dan kedua mertua.
- Lulus S1 langsung diberi beasiswa S2
- Lulus S2 kemudian direkomdasikan menjadi Dosen Luar Biasa di UIN.
Sekarang, selain masih menjadi editor skripsi, tesis dan disertasi, juga Menjadi Dosen di Universitas Muhammadiyah Purworejo
Saya tulis testimuni ini, bukan niat ingin menyombongkan diri (Na'udzubillah). namun sya tulis ini bertujuan, yg nasibnya sperti sya, bisa termotivasi, sdg yg nasibnya lebih baik dri sy, semoga tdk menyia2kan kesempatan, hrus lbih sukses lgi..
Kondisi serba kekurangan bukanlah alasan untuk berhenti mencari ilmu
ما أفلح في العلم إلا من طلبه في القلة
"Tiada kebahagiaan dalam menuntut ilmu kecuali mereka yang ketika belajar dalam kondisi serba kekurangan
"Pelajarilah oleh kalian ilmu pengetahuan karena mempelajarinya merupakan suatu kebaikan, mencarinya adalah ibadah, muzakarah (mendiskusikannya) terhadapnya lasana tasbih, membahasnya merupakan jihad, memberikannya (dengan kemurahan hati) dianggap mendekatkan diri (kepada Allah), dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti berarti shodaqah”
تعلمواالعلم فإن تعلمه حسنة وطلبه عبادة ومذاكرتة تسبيح والبحث عنه جهاد وبذله قربة وتعليمه لمن لا يعلمه صدقة
(الحديث عن معاذ ابن جبل في الكتب ادب العالم والمتعلم لشيخ هاشم اشعاري)
BANYAK ORANG (termasuk saya)
SLALU MRASA PINTAR.
TP TDK PINTAR MERASA
BANYAK BACA JADI TAHU
JARANG BACA KURANG TAHU
TIDAK BACA JADI SOK TAHU
MAN JADDA WA JADA
1.
Perjalanan Hidup Diwaktu Kecil (SD/MI)
Aku berasal dari sebuah kampung yang sangat terpencil (Kampung
Pematang Rambai, Dsn. Karya Usaha RT.02 RW.03 Des. Kuala Mandor A Kec. Kuala
Mandor B Kab. Kubu Raya—sebelum pemekaran masuk
Pontianak--Kalimantan Barat), dimana remaja seusiaku saat itu, tidak ada satu
pun yang lulus MTs, apalagi SMA atau kuliah. Di antara
mereka seusiaku juga masih banyak yang belum bisa
baca tulis, apalagi baca al-Qur’an, dan bahkan mereka lebih banyak menikah di
usia dini, serta memilih bekerja di Malaysia, menjadi petani atau buruh
kasar.
Selain aku berasal dari kampung terpencil, aku juga dilahirkan dari
keluarga yang tidak mampu, dan tidak
perpendidikan. Tidak ada satu pun dari keluargaku, baik kedua orangtua, atau
pun saudara (2 Kakak, 1 adik perempuan)
yang lulus SD. Hanya dua Adikku saja sekarang masih dalam status ingin
melanjutkan pendidikan.
Pertama mengenyam pendidikan, aku langsung sekolah
di 2 sekolah yaitu SD Pematang Rambai Laut (masuk pagi sd siang) dan Madrasah
Ibtidaiyah (MIN) Raudhatul Ulum Pematang Rambai Darat (masuk siang sd sore). Dua
sekolah tersebut sangat jauh dari rumahku, terlebih saat itu ditempuh dengan
berjalan kaki yang lebih/kurang 1,5 jam perjalanan. Karena faktor jarak yang jauh
itu, aku setelah selesai masuk SD kadang tidak pulang ke rumah, tapi makan
siang (nyangu) dan ganti pakaian (seragam SD ke seragam MIN) di kebun karet antara
persimpangan SD dan MIN. Bila telah selesai masuk MI dan cuaca hujan aku pun
tidak pulang ke rumah melainkan pulang/nginap di rumah nenek yang mana
jaraknya lebih dekat dari sekolahku sehingga besoknya ketika ingin masuk SD
jarak yang aku tempuh menjadi lebih dekat.
Ketika aku Sekolah Dasar (SD) naik kelas 3,
bersamaan saat itu aku di MIN kelas satu dan langsung naik kelas 3, maka dengan
petimbangan faktor: kecapean, tidak ada lagi teman-teman di kampungku yang
masuk SD, dan karena pertimbangan MI aku telah menerima pelajaran ilmu agama
dan umum, maka aku putuskan keluar dari SD (berhenti kelas 3) dan memilih fokus
di MIN. Dan keputusanku saat itu tepat, di MIN aku hanya sekolah 4 tahun (kelas 1
langsung naik kelas 3 dan kemudian dinaikkan ke kelas 5 dan kelas 6), MIN aku
lulus tahun 1995. Di masa akulah pertama kali sekolahku mengikuti ujian
nasional, waktu itu sekolahku masih nginduk di MIN Babussalam II Simpang Kiri,
dan Ujian nasionalnya di Parit Adam Sui Ambawang Kubu Raya.
2.
Memori Kelam Masa Kecil yang Membuat Trauma
Mengenang memori kelamku, ketika masih sekolah
SD dan MIN dan jarang pulang ke rumah tapi pulang ke rumah Nenek.
Suatu ketika pulang sekolah SD aku pulang ke
rumah emba, sore hari aku bermain dengn teman-teman di rumah embah. Keesokan
harinya aku sekolah SD dan pulang ke rumah, sesampainya di rumah aku dapat
berita bahwa uang mbah Rp. 5.000 hilang dan dituduhkan padaku. Karena tuduhan
itu serta melihat sifat bapakku yang emosional aku pun takut pulang ke rumah. Tiap
pulang sekolah aku pulang hanya makan dan kemudian pergi lagi main di rumah
tetangga (te Dehlawi). Benar saja siang itu kira-kira waktu duhur bapak datang
menjemputku, aku diajak pulang. Sesampainya di rumah aku disuruh makan, namun
setelah aku selesai makan aku digelendong (diikat) di bawah pohon
rambutan. Aku diikat di bawah
pohon rambutan dari waktu dhuhur hingga sore (asar) atas tuduhan mencuri yang
mana perbuatan itu tidak sama sekali aku lakukan. Pelajaran orangtuaku sampai
sekarang masih selalu terekam dalam memory trauma hidupku.
3.
Bekerja Berat Membantu Orangtua Sejak Kecil
Sejak kelas 3 MIN juga aku sudah bantu-bantu orangtua ngangkat
getah karet di kebun. Kelas 4 aku sudah diberi jatah nyadap karet (motong) dengan
bawaan 1 ember kecil. Kelas 5 jatah motongku ditambah
menjadi bawaan 1 ember besar getah karet. Dan ketika aku kelas enam aku sudah diajak nyadap karet malam (ngobor),
bila tugas itu tidak aku laksanakan, maka yang akan aku terima adalah marahan,
omelan, dan bahkan pukulan dari orangtua.
4.
Kehidupanku Ketika Nyantri Di Ponpes Darun Nasyiin
Setelah
lulus MIN tahun 1995, oleh pamanku aku dimasukkan di MTs
Pesantren Darun Nasyiin Sungai Pelaik Sui. Ambawang. Di pesantren karena kekurangan biaya
aku menjadi Abdi dhelem (bekerja tani jahe, singkong dan nyadap karet).
Selain itu aku juga jadi tukang pijit kiyai (alm. KH. Abdus Syakur Walid Nur
Halim). Hal yang sama juga aku lakukan ketika aku
pulang ke rumah (liburan Pondok), aku harus bantu orangtua Nyadap karet, nyangkul, Tanam Keladi/tales, singkong, ketela dan pekerjaan lainnya. tidak seperti
santri-santri sekarang yang bila liburan lebih banyak jalan-jalan, nongkrong,
main Hp/motor dan santai-santai lainnya.
5.
Kehidupanku Beratku (di Rumah) Setelah Lulus Dari PP
Darun Nasyiin
Tahun 1999 setelah aku lulus MTs dengan predikat lulusan
terbaik 4, Karena prestasi itu, aku minta orangtuaku untuk melanjutkan studiku
di Jawa, tapi mereka tidak mau dengan alasan biaya. Saat aku sampaikan
keinginanku tersebut, orangtuaku berkata “jika kamu ingin mondok lagi,
bantu dulu kami kerja selama setahun, setelah itu kamu mau mondok lagi, cari
kerja dan/atau mau nikah kami turuti”. Atas permintaan itupun aku
sanggupi dengan semangat membantu orangtua: bila cuaca tidak hujan (terang) aku
nyadap karet (turun ke kebun kadang pukul 01.30 pagi, selesai
pukul 11.30 siang). Bila cuaca hujan (pagi tidak bisa nyadap karet) atau bila terang
sore setelah nyadap, aku juga harus, nyangkul,
garap lahan sawah untuk macam-macam pertaniaan seperti tani padi, kacang panjang/otok,
cabai, singkong, ketela, keladi dan sebagianya.
Bahkan bila cuaca terang (bisa nyadap karet) sekira aku ada di
rumah aDikku/mBakku yang sudah nikah dan lain rumah atau nonton hiburan/imtihan, aku tengah malam harus
pulang dan langsung nyadap karet. Punya niat bepergian tempat keluarga yang
jauh pun tidak terlaksana bila masih bisa nyadap karet. Karena nyadap karet menjadi
pekerjaan wajib yang diberikan orangtua
untukku. Anehnya meski aku bantu kerja orangtua banting tulang, tiap aku
minta uang untuk uang saku selalu orangtua bilang tidak “punya uang”,
bahkan untuk rokok saja aku harus merokok tembakau (nglinting),
Padahal aku kerja bersama mereka. Bila aku sampai tidak nyadap karet yang akan aku
terima adalah marahan, omelan serta cacian.
Ketika musim hujan (tak bisa nyadap karet) aku kadang
habis maghrib setelah ngajar ngaji langsung main ke rumah teman2 dan pulang malam
terus tidur, bila jam 5 atau setengah 6 pagi aku belum bangun dan sholat
shubuh, maka omelan, marahan, cacian bahkan guyuran air (disiram dengan
air) pun harus aku rasakan dari ibu. Pernah suatu hari pas waktu hujan, aku main
kumpul-kumpul dengan teman sebaya atau tetangga yang lebih tua di rumah mereka
sambil main gaple/reme/poker, aku nginap di rumah mereka dan pulang pagi.
Setibanya di rumah aku dimarahin habis-habisan bahkan aku juga dipersamakan
dengan BINATANG “MUSANG” oleh ayahku. (kalau anaknya musang, terus
ayahnya apa ya?????, hehe).
6.
Pengalaman Kabur dari Rumah
Setelah tiba setahun aku membantu kedua orangtuaku, aku
tagih janji mereka, Dari tiga janji yang ditawarkan tersebut aku memilih tetap
ingin melanjutkan pendidikan ke Jawa. Namun setelah aku tagih janji tersebut,
berbagai alasan dilontarkan kedua orangtuaku, hingga akhirnya suatu sore kami
bertengkar hebat dan aku pun ke esokan harinya (pagi hari sekitar jam 07,03) MINGGAT/KABUR
dari rumah, aku kabur dengan cara meloncat dari jendela kamarku. Setelah aku berjalan kebarat
kira-kira 1 KM (nyampe sekolah Pematang Rambai) aku tersadar kalau dompetku
ketinggalan di kamar rumahku. Aku pun kembali pulang untuk mengambil dompet.
Sesampainya di rumah tetangga sebelah barat rumah, aku minta tolong anaknya untuk mengambilkan dompet di kamar, namun ternyata kepergianku
diketahui oleh ibu dan saudaraku, adapun bapakku saat itu sudah pergi
nyangkul di ladang. Aku pun oleh ibu
disuruh pulang untuk mengambil sendiri dompetku yang ketinggalan. Sesampainya
di rumah, Ibuku bertanya padaku sambil menangis “Mau pergi kemana kamu
Man?”, aku jawab aku akan pergi ke Sui Rengas rumah kakak Sairin (ponaan
ibu) dan bekerja menjadi buruh tani (nyangkul) membuat galangan
untuk kebun kacang panjang kumpulkan biaya untuk mondok lagi ke jawa. Ibuku
percaya, sambil menangis beliau berkata “Nak, tidak satu orangtua pun yang tidak ingin melihat
anaknya sukses, namun mau gimana lagi kita orang miskin, tidak punya biaya
untuk memondokkan kamu lagi”. (dalam hati aku bergumam “sebagian/kebanyakan
orang daerah sekitar sini memang demikian, giliran untuk kebaikan dunia akhirat meski
memiliki kebun/tanah luas pasti ngakunya miskin. giliran kalau numpuk harta,
beli barang, motor dan sebagianya, mereka mampu, seolah-olah ketika mereka mati
besok tanah dan hartanya yang akan menolong mereka dari siksa kubur dan
neraka)”.
Seraya tetap sambil menangis ibu merestuiku berangkat
kerja ke Sui Rengas, dan ibu berpesan baik-baik disana, kerja yang serius, sampaikan
salam kami buat kakakmu di sana, kemudian ibuku membawakan oleh-oleh berupa
bubuk kopi untuk kakak yang di Sui Rengas. Sambil tetap aku menangis aku pamit
dengan ibu dan kakak, aku berjalan menulusuri jalan ke barat, Pematai
Rambai, Bong Asam hingga sampai ke Kuala Mandor A (Bung). Sampai di Kuala Mandor A aku bukannya ke Sui
Rengas tapi malah ke rumah paman di Kubu Padi, aku nyadap karet disana
bagi hasil. Selain itu, aku juga membantu mereka bertani keladi/tales.
Setelah aku kerja disana 3 bulan Allah memberiku musibah/balak, saat aku membersihkan (menyiangi) dahan-dahan keladi yang kering, bagian punggung telapak kaki kiriku terbacok sabit/arit yang kedalamnnya sampai ± 12 cm. Akhirnya akupun sadar tidak baik melawan orangtua, inilah tulah dari akibat berbohong dengan orangtua. Akupun akhirnya pulang ke rumah lagi.
Setelah aku kerja disana 3 bulan Allah memberiku musibah/balak, saat aku membersihkan (menyiangi) dahan-dahan keladi yang kering, bagian punggung telapak kaki kiriku terbacok sabit/arit yang kedalamnnya sampai ± 12 cm. Akhirnya akupun sadar tidak baik melawan orangtua, inilah tulah dari akibat berbohong dengan orangtua. Akupun akhirnya pulang ke rumah lagi.
Setelah aku tinggal di rumah kembali, aku tetap membantu orangtua dengan segala pekerjaan rutinnyanyadap karet, nyangkul, garap lahan untuk macam-macam
pertaniaan seperti tani padi, kacang panjang, cabai, singkong, ketela,
keladi dan sebagianya. Untuk main Bola sore di lapangan bersama teman-teman pun
aku harus curi-curi dari orangtua setelah nebas rumput sawah/ladang.
7.
Kehidupanku di Rumah Setelah Kabur
Dalam ketertekanan jiwa yang terus berontak, berontak tidak terima
dengan keadaan/nasib hidup yang selalu tertekan dan harus selalu kerja berat
sebagaimana cerita di atas, berontak karena bila terus tinggal dengan orangtua
hanya akan selalu berbuat dosa (bertengkar), dan berontak dengan keadaan lingkungan
kampung yang jauh dari rahmat Allah, serta berontak karena merasa belum punya
ilmu (masih merasa bodoh, terlebih pernah dikata-katain oleh orangtua “Tade’
ghunanah mondok” (tidak ada gunanya mondok), karenanya aku pun beberapa kali disaat kerja di kebun menangis dan berteriak dan berseru “Ya Allah berilah aku
kesempatan mondok lagi, berikan hamba ya Allah kesempatan untuk merubah nasib
hamba.” Demi tetap ingin menggapai impian meraih cita-cita tersebut serta
karena motivasi cinta seseorang (red-cerita dalam versi lain)”, aku akhirnya bekerja
menjadi kuli bangunan, tukang kali tambak ikan, kondektur kapal motor (Bato
ae’ Motor air Kalianget), dan bahkan buruh kasar lainnya hingga akhirnya aku
pun beberapa kali jauh sakit parah karenanya.
8.
Terpenuhinya Kesempatan Mondok Lagi
Karena rasa trauma yang aku alami serta tekad kuat mondok
lagi meski telah putus sekolah selama 3 tahun, untuk tetap ingin meraih impian,
dengan modal tekad serta hasil kerja buruh dan bantuan dari saudara-saudara
perempuan dan orangtua, tangal 31
Juli 2001 aku pun akhirnya bisa berangkat ke Jawa, dan mondok di Pondok
Pesantren Darul Ulum Banyanyar Pamekasan. Setelah 3 bulan aku di pondok, karena
keterbatasan biaya, (sebulan hanya dikirim Rp. 100.000 termasuk uang makan,
SPP, Listrik dan beli kitab), aku pun harus puasa selama 9 bulan dan hanya
makan 1 kali sehari semalam (Buka Puasa sekaligus Sahur).
9.
Lika-Liku Kehidupanku (Sengsara Namun Penuh
Prestasi) Di Ponpes Darul Ulum
Banyuanyar
Di PP Darul Ulum aku masuk MA, baru 2
bulan masuk, ada guru yang menawariku ikut ujian persamaan MA paket “C”. Guna
mengejar ketertinggalan studi, guru tersebut bilang “jika aku ikut ujian
paket, maka aku bisa sekolah salaf sambil kuliah di pesantrenku.” Aku
pun ikut sarannya dan memilih keluar dari MA serta pindah Madrasah Diniyah salaf, namun ketika pelaksanaan UN tiba, aku tidak
bisa ikut UN dengan alasan No. NISN-ku tidak keluar. Setelah kutelusuri ternyata aku hanya ditipu, uang bayar paket “C” pun hangus, padahal uang tersebut hasil aku pinjam dan/atau orangtua jual keladi (sampai
saat ini tidak dibayar olehnya). Jadilah aku putus sekolah formal 4 tahun.
Setelah aku tertipu, aku pun tahun berikutnya (ajaran
baru 2002) masuk MA lagi, Alhamdulillah hasilnya belum genap setahun di MA,
Allah menampakkan kuasanya, atas rekomendasi Kiai Mustofa Kamal yang waktu itu
sebagai TU sekolah MA, aku diangkat jadi Guru TK dan MI, selain itu aku juga
diberi amanah jadi ketua kelas selama 2 tahun (kelas 2 dan 3 MA), jadi ketua Majelis
Permusyawaratan Siswa (MPR-nya OSIS), Koordinator pengembangan mengajar siswa MA, dan ketua Forum Studi Kemasyarakatan
(FoSMa). Akupun kadang ngisi les bahasa Indonesia adik-adik kelas MTs.
Dengan motivasi belajar yang tinggi aku juga ikut kursus bahasa Inggris, Arab dan bahkan kursus elektro. Dengan segala aktivitas organisasi dan kegiatan pesantren, aku masih bisa berprestasi, terhitung sejak kelas 2 sd. kelas 3 MA prestasiku tidak pernah turun dari ranking 1 dan 2, bahkan prestasi yang terbaik saat itu adalah aku menjadi siswa dengan lulusan terbaik ke-2 se-Kabupaten Pamekasan (2005) untuk jurusan Bahasa. Lulus MA (2005) aku belum bisa langsung kuliah (ikut SNMPTN dsb.). Aku harus memenuhi kewajiban pesantren dulu yaitu setiap santri yang lulus MA wajib mengabdi dulu pada masyarakat (semacam KKN Individu) selama setahun. Bertambah aku putus sekolah jadi 5 tahun. Setelah masa pengabdianku selesai, dengan dukungan/motivasi dari orangtua. bermodal uang saku (amplop) yang aku dapat dari tempat pengabdian, aku kemudian bertekad kuliah S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, masuk jogja sebulan setelah gempa, 2006.
Dengan motivasi belajar yang tinggi aku juga ikut kursus bahasa Inggris, Arab dan bahkan kursus elektro. Dengan segala aktivitas organisasi dan kegiatan pesantren, aku masih bisa berprestasi, terhitung sejak kelas 2 sd. kelas 3 MA prestasiku tidak pernah turun dari ranking 1 dan 2, bahkan prestasi yang terbaik saat itu adalah aku menjadi siswa dengan lulusan terbaik ke-2 se-Kabupaten Pamekasan (2005) untuk jurusan Bahasa. Lulus MA (2005) aku belum bisa langsung kuliah (ikut SNMPTN dsb.). Aku harus memenuhi kewajiban pesantren dulu yaitu setiap santri yang lulus MA wajib mengabdi dulu pada masyarakat (semacam KKN Individu) selama setahun. Bertambah aku putus sekolah jadi 5 tahun. Setelah masa pengabdianku selesai, dengan dukungan/motivasi dari orangtua. bermodal uang saku (amplop) yang aku dapat dari tempat pengabdian, aku kemudian bertekad kuliah S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, masuk jogja sebulan setelah gempa, 2006.
10.
Awal Kisah Perjalanan Hidupku di Yogyakarta
Di UIN SUKA aku mengambil jurusan Jinayah Siyasah (Hukum Pidana dan tata Negara Islam),
Fakultas Syariah dan Hukum. Awal-awal aku di Jogja, hidupku bisa dikatakan pas-pasan bila dibanding teman-teman
mahasiswa daerah lainnya. Dari semester 1 sampai 2 aku coba meminta pada
orangtuaku, agar aku dikirimi biaya bulanan sebesar Rp. 400.000, namun
permintaan itu tidak terpenuhi, aku kadang hanya dikirim Rp.400.000 untuk dua
bulan, (hal ini aku maklumi karena keluargaku memang orang tidak mampu).
Setelah 4 tahun tidak pulang (pulang terakhir
tahun 2003), Ketika libur semester 2 ke semester 3 tahun 2007 aku pulang ke Kalimantan
Barat mengurus proses operasi bapakku yang terkena ambien akut (parah). Ketika
aku sampai di rumah, orang-orang di rumahku pada menggugat semua, mereka
mengeluh tentang biaya dan memintaku berhenti kuliah di Jogja, pindah kuliah di
Pontianak. Mereka juga complain karena aku mengambil jurusan hukum Islam
(syariat) tidak mengambil jurusan pendidikan dan menjadi guru. Mereka juga
ngeluh serta mencemoohku (sebagian dari paman-pamanku), mereka menuntutku
kuliah sambil mengajar, bahkan saudaraku yang di Arab (mba’ Farida) menuntutku
untu mengambl ekonomi. Dengan berbagai tuntutan itu aku melakukan
pembelaan dengan mengatakan “ kalau aku kuliah di Pontianak, selain aku sudah
nganggur studi 5 tahun, juga karena jurusan yang aku ambil tidak ada di
Pontianak. Bila aku pindah maka selain biaya/dana yang kuliah di Jogja hangus,
juga aku akan nambah nganggurnya menjadi 6 tahun. Terkait permintaan mbak
Farida yang memintaku mengambil jurusan ekonomi, aku bilang aku sekolah Aliyahnya
ambil jurusan “bahasa” jadi aku tidak menguasai ilmu ekonomi, bila aku
memaksakan diri ambil ekonomi itu artinya hanya akan membuatku sulit sendiri.”
Lebih lanjut aku mengatakan pada mereka, izinkan dan doakan saja aku tetap
kuliah di jogja, meski tidak dikirimpun tidak apa-apa, masalah ngajar aku akan
buktikan meski tidak kuliah ambil jurusan “pendidikan” pasti aku bisa ngajar.”
(pernyataanku tersebut hanya didasari rasa tekad kuat dan tawakkal pada Allah).
11.
Perjalanan Hidupku Setelah Kembali ke Yogyakarta
Dua bulan setelah kepulanganku dari rumah,
hidupku sangat memprihatinkan, makan kadang sehari hanya mie 1 bungkus atau
numpang makan pada teman. Hanya karena tekad kemauan dan motivasi belajar yang
kuat saja aku terus berjuang bertahan untuk terus belajar dan sekolah yang
tinggi demi menggapai cita-cita.
Sekira dapat 3 bulan setelah aku pulang dari
rumah, untuk menupang hidup dan biaya kuliah, maka, disela-sela kuliah aku
mengajar di SD-SD, Sore ngajar TPA, dan malam jadi jaga warung lesehan (kadang
jika aku sangat butuh banget baru aku minta bantuan kakakku yang jadi TKI di Arab Saudi). Namun demikan aku masih aktif berorganisasi, aku pernah
aktif di UKM Mizan (devisi Tafsir), UKM Studi Pengembangan Bahasa Asing (devisi
B. Arab), PMII, Rebana al-Hamro (Bom-F Dakwah), Pusat Studi dan Konsultasi
Hukum (PSKH) BOM-F Faklutas Syariah dan Hukum, UKM Korp Dakwah Islamiyyah UIN
Suka (Kordiska), Pendidikan Anak-Anak Masjid Syuhada (PAMS) Kota Baru
Yogyakarta, Komunitas mahasiswa Kalimantan Barat “Keluarga Besar Bumi
Katulistiwa (KMBK), dan magang di Pengadilan Negeri Yogyakarta, 2009. Karena
aktivitas yang padat dan mobilitas yang tinggi akupun harus berkali-kali keluar masuk Rumah Sakit. Selama 3 tahun
2006-2008 terhitung 4 kali aku sakit parah, selain karena faktor kecapean, aku
juga terkena DBD dan Tipus, Cikungunya dan Tipus, Komplikasi, radang usus, dan
bahkan pernah didiagnosa jantungku bocor.
12.
Kisahku Menikah Dini di Masa Kuliah
Semester 1 aku kenal seorang wanita bernama
Yuli Setyaningsih, S. Sos.I, asal Kuncen Kalijirek Kewudusan Kebumen Jateng,
anak seorang Kiai dan pegawai Depag Kebumen. Aku dan dia satu organisasi di UKM
Korp Dakwah Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga (KORDISKA), kami berteman dan akrab, Dia sering
main ke kontrakanku (waktu itu aku ngontrak 1 rumah bersama 8 orang teman
sesama alumni Darul Ulum Banyuanyar), ia mengerjakan tugas kuliahnya di kontrakanku,
ia juga kadang bawa makanan/bingkisan untukku, bahkan makan pun kadang aku
dibelikan dia. Ia banyak berjasa terhadapku, ia telah banyak membantuku dalam
bidang ekonomi dan yang merawatku di saat aku sedang sakit (bahkan ketika aku
sakit diare akut pun, ia yang mencuci semua celana dalamku yang penuh kotoran).
Aku dan dia menjalani hubungan pertemanan
mengalir saja seperti air. Aku tidak bisa melangkah lebih jauh dengan hubungan
lebih serius lagi. Putusan seperti ini aku pilih, karena aku tak ingin melukai
salah satu dari 2 cewek yang paling berkesan dalam hidupku. Aku telah
mempepunyai ikatan dengan seorang wanita di Pontianak sejak tahun 2000, aku
berpikir bila aku pilih cewek yang di Jogja, aku akan menyakiti perasaan dia
yang di Kalimantan yang selama aku mondok dan kuliah ke Jogja cintanya menjadi
sumber motivasi dan obsesi aku untuk terus belajar dan berprestasi. Sedang bila
aku pilih cewek yang di Kalimantan tentu bila aku jadian dengan yang di Jogja,
ia akan kecewa juga karena aku memilih yang di kalimantan.
Semester 4 libur masuk semester 5 aku pindah
dari kontrakan dan pilih ngekost. Dengan kondisi aku yang ngekos di kamar
sendirian dan karena benkgroundku yang dalam tanda kutip "oleh orang-orang
dipanggil ustad" kuatir kalah iman dan menjadi pergunjingan jemaahku, 2
bulan setelah aku kost demi menjaga
agama/iman tanggal 31 Juli 2008 aku ajak dia menikah (tapi nikahsiri). Awalnya orangtua dia tidak setuju, tapi tidak
tahu mengapa keesokan harinya (1 Agustus 2008) orangtuanya setuju. Orangtuanya
memintaku melamar dia tanggal 6 Agustus, tanggal 17 Agustus 2008 mengantarkan seserahan lamaran, dan pada tanggal 26
Agustus 2008 akad nikahnya (hem masih teringat tanggal 21-23 Agustus 2008 aku masih sibuk dengan acara OPAK mahasiswa baru, kebetulan jadi koordinator seksi acara). Aku terima permintaan orangtuanya, karena aku beralasan
ini sebuah tantangan dan harga diri, dan kami pun meangsungkan pernikahan tangal 26 Agustus 2008 (empat hari sebelum 1 Romadhan). Saat aku menikah karena kendala biaya
tidak ada satupun keluargaku yang datang dipernikahanku, jadi yang mengurus dan
membantu kebutuhan nikah serta yang jadi sesepuh adalah orang-orang masyarakat
desa binaanku serta teman-teman mahasiswa dekatku.
Yang paling berkesan saat aku menikah adalah biaya
pernikahanku yang penuh rekayasa (di maksud adalah: 1). ketika proses lamaran
aku tidak ngasi uang sama sekali, namun mertuaku memberiku amplop berisi uang
sebesar Rp. 1.500.000 untuk diserahkan pada calon tunanganku setelah aku
serahkan pada tunanganku, kumudian oleh tunanganku diserahkan kembali pada
orangtuanya, 2). Ketika proses seserahan pihak mempelai pria harus memberikan
barang berbentuk perhiasan emas seperti cincin, gelang dan kalung. Perhiasan
yang aku serahkan itu pun sebenarnya milik tunanganku juga, 3). Uang asap aku
hanya mampu memberi uang sebesar 1.500.000, namun oleh orangtua tunanganku di
tambah 5 juta sehingga total semuanya Rp. 6.500.000. (rekayasa dana ini
dilakukan mertuaku karena selain faktor aku yang tidak mampu dalam segi
ekonomi, juga karena menjaga tradisi/adat masyarakat setempat.
Semester 7 (31Juni
2009) aku sudah dikaruniai momongan, kuberi dia nama “Muhammad Sholahuddin ‘Izza Setiawan”. Namun Allah masih memberiku ujian
lebih berat lagi, anakku lahir dengan menderiti penyakit Silver Russel Syndrom
yang mengakibatkan ada keterlembatan skimotorik halus, kasar, wicara, sosial,
jantungnya bocor 8 mm, serta ada peradangan di saluran pencernaan antara
kerongkongan dan lambung sekaligus intoleransi lemak sehingga kalau makan
makanan yang agak keras atau minum susu kekenyakan anakku menjadi muntah,
karena foktor peradangan dan intoleransi lemak tersebut, anakku sempat
menderita gizi buruk. Sampai saat ini anakku sudah berusia 3 tahun lebih, namun baru
bisa belajar jalan (titahan), belum bisa bicara dalam bentuk 1 kata pun serta
juga belum bisa makan makanan yang agak keras (seperti nasi), dan malah
pengaruh dari jantungnya yang bocor, anakku bila kecapean badannya langsung
kejang dan biru. Diagnosa terakhir (24 April 2012) jantung anakku tidak bisa
disumbat/diobati, solusi pengobatan satu-satunya hanya dengan tindakan
“Bedah/operasi jantung yang biayanya kisaran 80 juta”.
13.
Limpahan Prestasi yang Dikarunia Allah Untukku Selama
Kuliah S1
Selama S-1 meski telah berkeluarga, aku masih
tetap aktif di organisasi UKM Korp Dakwah Islamiyyah UIN Suka (Kordiska) dan
diberi amanah menjadi Koord. Pendambingan Masyarakat (PM) serta lebih sering
terjun ke desa binaan di dekat candi Kalasan. Setahun kemudian aku pun menjadi
ketua UKM KORDISKA, periode 2007-2008. Tahun 2009-2010 aku menjadi ketua BEM
Jurusan Jinayah Siyasah, tahun 2009-2011 menjadi pengasuh di salah satu Pesantren dan yayasan Panti Asuhan Anak Yatim
Piatu dan dhuafa, bahkan aku juga aktif mengajar di beberapa sekolah TK, TPA dan SD melalui wadah
Pendidikan Anak-Anak Masjid Syuhada (PAMS) Kota Baru Yogyakarta.
Meski dengan segala aktivitas dan cobaan, ketika S1, aku masih bisa
berprestasi. Prestasi yang aku raih adalah dari semester 1 sd. 8 IPK-ku selalu
tertinggi dalam satu jurusan, aku pernah menerima beasiswa Gudang Garam, tahun
2007, Beasiswa Supersemar, tahun 2008, jadi nominator mahasiswa teladan, pada
acara Hari Ulang tahun Fakultas syariah dan Hukum, tahun 2009, aku pun masih bisa
belajar/Sekolah Hukum (Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) di Universitas
Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Dan pencapaian
yang paling istimewa saat itu, adalah pada wisuda periode III, 7 Agustus 2010,
aku dinobatkan, sebagai wisudawan, dengan predikat lulusan, tercepat, terbaik
cume laud, tertinggi se-Fakultas dan bahkan se-Universitas (IPK. 3.88). Lebih sangat bahagia lagi ketika wisuda bisa didampingi kedua oragtuaku, istri yang sama-sama wisuda (kebetulan wisuda bareng), anak dan kedua mertua. Dari prestasi itu,
aku pun diberi beasiswa S2 oleh pihak Universitas,
14.
Kisahku Ketika Kuliah S2
Di S2 aku masih berorganisasi dengan menjadi
Anggota Ikatan Perpustakaan Tempat Ibadah (IPTI) Propinsi DIY, Editor teknis
Disertasi Doktor Pascasarjana UIN, konsultan pembuatan skripsi, penyuluh
Honorer Kemenag, dan pernah juga bekerja di Pos Bantuan Hukum (Posbakum) di
Pengadilan Agama Sleman melalui Lembaga Studi dan Bantuan Hukum (LSBH) bekerjasama
dengan LBH Anshor Yogyakarta yang berada di bawah naungan Asosiasi Pengacara
Syariah (APSI), Tapi meski demikian, Allah masih memberiku prestasi dengan
selalu peringkat I smt I sd. IV (IPK teringgi dalam 1 kelas).
Dengan obsesi mempertahankan prestasi yang aku
raih ketika S1, aku terus fokus belajar, sehingga pekerjaan pun aku tidak
maksimalkan, akibatnya banyak perhiasan emas istriku aku jual untuk biaya tugas dan penelitian tugas akhir (Tesis) S2-ku.
Alhamdulillah, perjuangan itu tidak sia-sia. Allah
membuktikan kuasanya, prestasi S1 itu dapat aku pertahankan. Pada wisuda
periode II, Sabtu 7 April 2012 aku menjadi wisudawan tercepat, terbaik,
cumelaude I tingkat pascasarjana, dengan IPK 3. 79. Dengan pencapaian ini aku bisa membuat
sejarah di UIN dengan menjadi mahasiswa yang bisa meraih predikat lulusan,
tercepat, terbaik dan cumelaud I pada jenjang S1 dan S2 Dengan prestasi ini pula
aku langsung diangkat menjadi Dosen Luar Biasa di fakultas Syariah dan Hukum
Universitas Islam Negeri Sunan kalijaga Yogyakarta. Sekarang juga jadi Dosen di Universitas Muhammadiyah Purworejo Jateng
Saat ini, karena faktor orang tua, saya harus boyong ke Pontianak Kalimantan Barat, dan di Pontianak sampai sekarang aktivitasku:
1. Dosen LB di IAIN Pontianak
2. UM Pontianak
3. Pengajar di Ponpes Darun Nasyiin
4. Tiap Senin dan jumat Sore, selalu mengisi ceramah pada jemaah di berbagai majelis ta'lim
Saat ini, karena faktor orang tua, saya harus boyong ke Pontianak Kalimantan Barat, dan di Pontianak sampai sekarang aktivitasku:
1. Dosen LB di IAIN Pontianak
2. UM Pontianak
3. Pengajar di Ponpes Darun Nasyiin
4. Tiap Senin dan jumat Sore, selalu mengisi ceramah pada jemaah di berbagai majelis ta'lim
15.
Karya Tulis yang Pernah Aku Tulis
Karya yang berkaitan dengan ke-TKA?TPA-an yang pernah ia
tulis adalah: Bimbingan & Pangajaran (2007), Panduan Sholat Praktis TKA-TPA
(2008), Panduan Tajwid Praktis TKA TPA (2009), Kumpulan Pidato Anak-anak
(2009), dan buku-buku tersebut kemudian dikompilasi menjadi satu buku dengan
judul Kumpulan Materi TKA-TPA Lengkap dengan Kurikulum, Surah-Surat Pendek,
Ayat dan Hadist Pilihan, Doa-Doa Pendek, Aqidah, Akhlak, Tajwid, Nasyid Islami,
Tepuk-Tepuk dan Materi tambahan lain (2010).
Sedangkan karya ilmiah yang berkaitan dengan
akademiknya diantaranya: Efektifitas Penerapan Perda Syariah di Pamekasan
(Penelitian DPP UIN SUKA, 2009), Pertanggungjawaban Pidana Persetubuhan
terhadap Anak Kandung Perspektif Hukum Islam: Studi Putusan No. 99/Pid/2009/PN.
Yogyakarta (Skripsi, 2010 jadi skripsi terbaik dan diterbitkan oleh pihak fakultas), Konsep Syura dalam Islam: Studi Al-Qur’an Al-Hadis:
Teori dan Metodologi (2010), Politik Syariat Islam; dari Indonesia hingga
Nigeria: Kajian dalam Sosiologi Politik (Review, 2011), Ekonomi Kerakyatan: Sebuah Kajian
Konseptual: Pendekatan dalam Pengkajian Islam (Penelitian,
2011), Demokrasi dan Desentralisasi: Kajian dalam Ilmu Pemerintahan
((Penelitian, 2011), Konsep Darul Islam/Negara Islam Indonesia (DI/NII): Kajian
dalam Ilmu Politik Islam dan Negara Bangsa (2011), Pemikiran Politik
Ibnu Taimiyah: Kajian dalam Pemikiran Politik Islam (2011), Nabi Muhammad
sebagai seorang Negarawan: Kajian dalam Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam
(Klasik, Tengah dan Modern) (2011), Relasi Agama dan Negara; Studi terhadap
Maraknya Formalisasi Syariat Islam di Indonesia: Kajian dalam Sejarah Sosial
Pemikiran Hukum Islam (2011), Konstitusialisme Piagam Madinah: Kajian dalam
Teori Konstitusi (2011), Islam, Politik, dan Etnisitas Melayu di Malaysia:
Kajian Studi Politik Islam Kawasan (opini, 2011), Etika Politik dalam Kehidupan
Berbangsa dan Bernegara: Kajian dalam Etika Politik dan Pemerintahan dalam
Islam (opini, 2012), Gerakan Formalisasi
Syariat Islam Majelis Mujahidin Indonesia (MMI): Sebuah Pendekatan Gerakan
Sosial (2012), Fenomena Trasformasi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dari Partai
Eskslusif Menuju Partai Insklusif (2012), Sanksi Pidana Melanggar Kesusilaan:
Studi putusan No. 198/Pid.B/2010/Pengadilan Negeri Yogyakarta (2012), dan
Formalisasi Hukum Islam Pasca Reformasi (Tesis, 2012), Politik
Etnis dalam Perebutan Kekuasaan di Kalimantan Barat: Studi terhadap Gerakan
Politik Ikatan Keluarga Besar Madura Kalimantan Barat pasca Konflik antar Etnis1997, Buku pengantar Hukum Agraria, buku Hak Tanggungan (masih dalam tahap proses penyelesaian), dan Negara
Madinah (Sebuah Prototype Ketatanegaraan Modern) Jurnal IN Right Jurusan
Hukum Pidana dan Tata Negara Islam Fak. Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta
16.
Rahasia Kesuksesanku
Dari prestasi yang aku raih ini, tidak banyak
yang aku lakukan, kecuali hanya mengutamakan kuliah dari pada organisasi
(artinya selama kegiatan itu bentrok dengan jadwal kuliah, aku tetap pilih
kuliah), rajin baca dan mencatat (sesuai tugas mahasasiswa bembaca, berdiskusi
dan menulis), bertanya pada dosen bila tidak paham, ta’dim pada guru/dosen,
tidak banyak buang waktu dengan main atau jagungan, banyak beribadah, berdoa,
puasa senin-kamis dan selalu minta doa/ridho orangtua, dan satu lagi yang tak
terlupakan adalah adanya motivasi dan obsesi yang diperjuangkan, Itu saja.
17.
Kekuranganku
Kekuranganku adalah tidak fasih bahasa
Inggris, meski aku Aliyahnya jurusan Bahasa (Bahasa Arab, Indonesia dan
Inggris) serta menjadi lulusan terbaik ke-2 tingkat kabupaten, namun karena
saat pengabdian aku hanya mengajar Agama dan kitab pada TK, dan MI, serta saat
kuliah S1 karena tuntutan biaya hidup dan peluang, aku lebih fokus pada
mengajar TK, TPA, SD, bina desa binaan serta kadang mengisi pengajian, maka aku
menelantarkan bahasa Inggrisku. Tidak dikira jalan hidupku setelah lulus S1
berubah, aku pun merasa sangat bodoh di bahasa Inggris, mau kursus pun tidak
punya kesempatan (terkendala kuliah sambil kerja, serta biaya
pengobatan anak. Beasiswanya hanya berupa beasiswa SPP, sedangkan untuk biaya
buku, living kost dan biaya hidup cari sendiri), namun demikian aku tidak
akan menyerah belajar dan terus belajar.
Kekuranganku juga adalah orangnya labil,
terhadap orang dan/atau orang lain memandangku sangat baik dan familiar, tapi
bagi orang-orang terdekatku (keluargaku) aku dikenal emosian, itu aku akui,
meski aku emosian, aku marah hanya pada bila melihat sesuatu yang tidak benar
baik menurut agama, negara dan etika, kadang spontan aku bicara dengan intonasi
keras. Namun demikian emosian bila sudah ya sudah, artinya beberapa menit
setelah marah, langsung baik lagi, habis marah bila yang dimarahin tersenyum
aku juga jadinya ikut tersenyum.
Selain itu, kekuranganku juga, adalah tidak
pernah hasil tulisan-tulisanku aku muat baik di media cetak, jurnal atau cetak jadi bayak buku, terkait dengan kekuranganku yang ini, mungkin bisa dikatakan
aku tidak mampu, namun lebih dari itu, sebenarnya aku tidak pernah mencoba aja
mengirim tulisan baik ke media cetak atau jurnal, meski kadang banyak yang
bilang (termasuk dosen) tulisanku layak dimuat atau dicetak jadi buku. (dalam Blog ini sengaja banyak yang tidah aku posting karena terkait Hak Cipta).
18.
Cita-Cita dan Harapan Masa Depanku
Cita-cita kuatku sekarang, bila telah mendapat pekerjaan yang layak terutama
bisa langsung diangkat dosen tetap (PNS) atau menjadi Hakim pengadilan Agama.
Selain aku akan mengabdi pada Negara, aku juga ingin membuka Yayasan
Pesantren Yatim dan Dhu’afa yang khusus menampung anak-anak yang
yatim atau tidak mampu/putus sekolah, aku akan didik mereka ilmu agama dan umum
serta akan aku tanggung semua biaya pendidikannya. Masih banyak anak-anak di
daerahku yang putus sekolah, aku prihatin bila melihat mereka lulus SD/MI terus
tidak lanjut sekolah dan memilih bekerja guna membantu orangtuanya. Aku tidak
ingin mereka yang yatim/tidak mampu jadi putus sekolah, biar juga tidak ingin
mereka bernasib sama seperti aku. Semoga Allah mengabulkan keinginanku
ini. Bila dikabulkan Allah aku punya nadzar akan memberangkatkan kedua orangtua menunaikan ibadah haji.Amin.
19.
Pesan dan Kesan
Sedikit kisah perjalanan hidupku ini kutulis
bukan untuk/bermaksud menyombongkan diri, sebenarnya dengan aku menulis ini ada rasa malu, hina dan bukan minta rasa iba, namun setulus hatiku hanya ingin
semoga adik-adikku / siapapun yang membaca tulisan ini bisa ikut termotivasi.
Sedangkan untuk kekuranganku, aku harap janganlah ditiru. Perjalananku tidak
selesai dengan apa yang aku raih saat ini, karena aku tahu, aku bukanlah aku
saat ini, tapi aku adalah untuk aku 10 atau 15 tahun yang akan datang (jika
panjang umur). Aku ingin jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.
Lihat juga
Lihat juga
PRINSIP HIDUPKU
1. “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong
(agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS. Muhammad:
7)
2.
……” Boleh
jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula)
kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang
kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-baqoroh; 216)
3.
“Jika
kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu
berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri……….” (Qs. Al-Isro’: 7)
4.
“Dan
tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi
rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat
penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata
(Lauh mahfuzh). (QS. Hud:6)
5.
“……..Sesungguhnya
Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan
yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki
keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan
sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. Al-Rad:11)
6.
“…….Barangsiapa
bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” “Dan
memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang
bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya……….”
(QS. At-Tholaq:2 & 3)
7.
Pelaut
yang ulung tidak lahir dari laut yang tenang.
8.
Jangan
pernah berkata “Wahai Allah, masalahku sangat besar, Tapi katakanlah “Wahai
masalah. Allah itu sangat Besar”
9.
Lebih
baik mencoba lalu gagal, dari pada kita gagal mencoba
TANAMKAN DALAM SETIAP NAFAS HIDUP KITA
MAN JADDA WA JADA
Barang Siapa ingin mendapatkan apa yang
diinginkan/cita-citakan, maka bersungguh-sungguhlah/seriuslah berusaha, niscaya
cita-cita itu akan tercapai
Lihat profilku di
1.
Internet Blog
2.
Internet Facebook
Qomaruzzaman (email zaman_izza@yahoo.co.id) / (qomaruzzaman84@gmail.com)
3.
No. Contact / CP
085 643 688 507 / 085 228 909 218
Jangan dihujat ya



1 komentar:
mantapppp, patut diteladani
Posting Komentar