Malam Nisfu
Sya'ban yang jatuh Nanti malam (Sabtu Malam Minggu, tanggal 15 Sya'ban 1445
atau 24 Februari 2024), adalah momen yang diyakini oleht kalangan Ahlus Sunnah
Wal Jama'ah sebagai malam diangkatnya catatan amal manusia (malam pergantian
buku amal), kita dapat merenungkan bagaimana perbandingan antara pertanggungjawaban
hukum di dunia dengan pertanggungjawaban dosa di akhirat. Tulisan ini bertujuan
memahami analogi antara sistem hukum di dunia dengan prinsip-prinsip dalam
Islam.
Pertama,
mari kita lihat aturan kehidupan manusia dii dunia. Aturan kehidupan manusia di
dunia dibatasi oleh undang-undang yang dibuat oleh negara dalam mengatur dan
mengendalikan perilaku masyarakat. Sedangkan dalam Islam, aturan kehidupan
terdapat dalam sumber-sumber hukum seperti Al-Qur'an, Hadits, dan Fiqih yang
memberikan pedoman bagi umat Islam. Pelanggaran hukum di dunia dibaratkan
sebagai pelanggaran aturan negara yang berdampak pada pertanggungjawaban hukum.
Begitu juga dalam Islam, melanggar aturan syariat akan berdampak pada
pertanggungjawaban dosa di akhirat.
Kemudian,
mari kita lihat proses Hukum di kepolisian. Di dunia, proses hukum dimulai
dengan penangkapan oleh reskrim kepolisian, yang dapat kita analogikan dengan proses
kematian yang dilakukan oleh Malaikat Izroil. Setelah itu, terdapat proses penyidikan
(intograsi) yang dilakukan oleh penyidik kepolisian, yang dapat kita
analogikan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Malaikat
Mungkar-Nakir di dalam kubur (barzah).
Selama
proses penyidikan, terkadang terdapat gertakan atau intimidasi yang dilakukan
oleh penyidik, hal ini dapat kita analogikan dengan siksa kubur yang diterima
oleh manusia di alam barzah. Kunjungan keluarga ke rumah tahanan atau rutan di
dunia dapat kita analogikan dengan kunjungan (ziarah kubur). Selain itu, jenis
oleh-oleh dan banyak atau tidaknya oleh-oleh yang dibawa saat kunjungan ke
rumah tahanan, dapat dianalogikan dengan panjang atau pendeknya oleh-oleh doa bacaanYasin,
tahlil, doa sedekah dan lainnya yang dibawa saat kirim doa pada ahli kubur. Hal
ini sebagaimana hadits yang dijelaskan di dalam kitab I’anatuthalibin Juz II tentang
arwah (ruh) orang yang meninggal dunia datang kerumahnya di dunia menengok
aktivitas keluarganya. Yang redaksinya:
وورد أيضا أن ارواح المؤمنين تأتى فى كل ليلة
الى سماء الدنيا وتقف بحذاء بيوتها وينادى كل واحد منها بصوت خزين يااهل واقاربى وولدى
يامن سكنوابيوتنا ولبسوا ثيابنا واقتسموا اموالنا هل منكم من أحد يذكرنا ويتفكرنا فى
غربتنا ونحن فى سجن طويل وحصن شديد فارحمونا يرحمكم الله. ولاتبخلوا علينا قبل أن تصيروا
مثلنا ياعباد الله ان الفضل الذى فى ايديكم كان فى ايدينا وكنا لاتنفق منه فى سبيل
الله وحسابه ووباله علينا والمنفعة لغيرنا فان لم تنصرف اى الارواح بشيئ فتنصرف بالحسرة
والحرمان وورد أيضا عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال مالميت فى قبره إلاكالغريق
المغوث ينتظر دعوة تلحقه من ابنه او اخيه اوصديق له فاذا لحقته كانت أحب اليه من الدنيا
ومافيها.
Keterangan
dari hadits bahwa arwah orang-orang mukmin datang pada tiap malam ke langit
dunia, dan berhenti di jurusan rumah-rumahnya dan berseru-seru dengan suara
yang mengharukan seribu kali “wahai keluargaku, sanak-saudara, dan anak-anakku,
wahai kau yang mendiami rumah-rumahku, memakai pakaianku dan membagi-bagi
hartaku. Apakah ada diantara kalian yang mengingat dan memikirkanku dalam
pengasinganku ini dan aku berada dalam tahanan yang cukup lama dalam benteng
yang kuat. Kasihanilah kami, maka Allah akan mengasihanimu. Janganlah kamu
semua bakhil kepadaku sebelum kamu (berposisi) sepertiku.Wahai hamba-hamba
Allah sesungguhnya apa yang kau miliki sekarang dulu juga (pernah) ku miliki,
hanya saja dulu aku tidak membelanjakannya di jalan Allah, dimana
pemeriksaannya dan bahayanya menimpaku sedang kegunaannya bermanfaat
kepada orang lain”.
Selanjutnya,
mari kita melihat perbandingan proses peradilan/persidangan di Dunia dan di
akhirat. Di dunia, persiapan proses persidangan seseorang (panggilan sidang) dimulai
dengan dinyatakannya berkas telah lengkap (P21) yang diibaratkan persiapan sidang
tersebut sebagai hari kiamat. Sedangkan tempat sidang di dunia yang dikenal
dengan istilah “pengadilan” dapat kita analogikan tempatnya dengan padang
mahsyar di akhirat. Adapun proses sidang di pengadilan dunia dapat kita
analogikan dengan hari perhitungan amal (yaumil hisab) di akhirat, di mana
setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya.
Dalam
proses pertanggungjawaban hukum atas perbuatan manusia di dunia dan diakhirat
sidang peradilannya memiliki unsur-unsur sebagai berikut:
- Unsur Hakim
Pengadilan di dunia sama dengan Allah sebagai Hakim di Akhirat.
- Unsur Terdakwah
yang ada di dunia dapat disamakan dengan manusia (Hamba Allah) di akhirat.
- Unsur Jaksa
Penuntut Umum (JPU) yang membacakan dakwaan/tuntutan di dunia dapat disamakan
dengan Malaikat sebagai JPU-nya di akhirat.
- Unsur Berkas
Dakwaan (BAP) di dunia dapat disamakan dengan BAP (Buku Catatan Amal yang
diangkat setiap malam Nisfu Sya'ban di akhirat).
- Unsur pembela
terdakwah di dunia yaitu Pengacara/Advokat, sedangkan pembela/pengacaranya
adalah amal ibadah manusia.
- Unsur Pembuktian:
jika di dalam peradilan di dunia dibutuhkan Saksi dan Alat Bukti, maka unsur Saksi
dan Alat Bukti di akhirat adalah "Tangan yang Berbicara" (unsur saksi)
dan anggota tubuh, bekas wudhu dll (unsur alat bukti) sebagaimana dalam surat
Yasin ayat 65. Yang berbunyi:
ٱلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰٓ أَفْوَٰهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ
أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
Artinya:
Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan
mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka lakukan.
7. Unsur Pertimbangan
Hakim di dunia diwujudkan dalam pembacaan Putusan yang dapat disamakan dengan pertimbangan
manusia dlm melewati Jembatan Shirothol Mustaqim di akhirat.
8.Unsur Vonis
pengadilan: terdakwah divonis Bebas/Penjara masuk lembaga permasyarakatan (Lapas)
dapat disamakan dengan Vonis manusia masuk Surga/Neraka di akhirat.
9. Unsur pengurangan
Hukuman: di dunia dikenal dengan istilah Remisi, sedangkan di akhirat disamakan
dengan syafaat.
10.Unsur bebas
dari penjara (Lapas) di dunia dapat disamakan dengan menyelesaikan siksa neraka
dan dimasukkan ke surga di akhirat.
Dengan
memahami perbandingan di atas, kita dapat lebih menyadari pentingnya
bertanggung jawab atas tindakan dan kehidupan kita di dunia, karena akhirat
menjadi tanggung jawab yang abadi. Kita harus bertanggung jawab atas tindakan
kita dan menjalani kehidupan yang sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh
agama dan negara. Kita juga harus merenungkan dan memikirkan akibat dari
perbuatan kita di dunia akan berdampak akhirat.
Dengan
memahami perbandingan antara tanggung jawab hukum di dunia dan tanggung jawab
dosa di akhirat, diharapkan kita dapat hidup dengan kesadaran yang lebih tinggi
dan berupaya untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan bertaqwa kepada
Allah dalam segala aspek kehidupan kita.
Mari kita
gunakan momen malam Nisfu Sya'ban untuk memutar ulang perjalanan kita menuju
akhirat dan memperbaiki amal perbuatan kita agar kita dapat memperoleh
kebahagiaan di dunia dan akhirat.
TABEL
PERBADINGAN PERTANGGUNGJAWABAN HUKUM
DI DUNIA DAN DOSA DI AKHIRAT
|
ANALOGI
|
DI DUNIA
|
ISLAM
|
|
ATURAN KEHIDUPAN
|
|
|
|
Aturan Hukum
|
Undang-Undang
Negara
|
Qur’an-Hadits
|
|
Pelanggaran
Hukum
|
Melanggar
Undang-undang
|
Melanggar
Aturan Syariat Islam
|
|
PROSES DI KEPOLISAN
|
|
|
|
Penangkapan
|
Reksrim
Kepolisan
|
Kematian
Oleh Malaikat Izroil
|
|
Proses
Hukum
|
Tahanan/Penjara
|
Tahanan/Kuburan
|
|
Penyidikan
|
Pertanyaan
Penyidik
|
Pertanyaan
Munkar-Nakir
|
|
Intrograsi
|
Gertakan/Siksaan
Penyidikan
|
Siksa
Kubur
|
|
Besuk
Tahanan
|
Kunjuangan
ke Tahanan
|
Ziarah
Kubur
|
|
Oleh-oleh
ke Tahanan
|
Bawa
Makanan, buah dll.
|
Yasin, Tahlil,
Doa, dll
|
|
Volume
Oleh-oleh
|
Banyak/tidaknya
Oleh-oleh untuk Tahanan
|
Panjang/tidaknya
Bacaan Doa
|
|
PROSES PERSIDANGAN
|
|
|
|
Panggilan
Sidang
|
Berkas
lengkap (P21)
|
Hari
Kiamat
|
|
Tempat
Sidang
|
Pengadilan
|
Padang
Mahsyar
|
|
Proses
Sidang
|
Proses Pradilan
|
Yaumil Hisab
|
|
|
|
|
|
Unsur-Pengadlan
|
Hakim
|
Allah
|
|
|
Terdakwah
|
Manusia
(Hamba Allah)
|
|
|
Jaksa Penuntuk
(JPU)
|
Malaikat
|
|
|
BAP (Berita
Acara Pemeriksaan/Perkara)
|
Buku Catatan
Amal yang diangkat Setiap Malam Nisfu Sya’ban
|
|
|
Pengacara
|
Amal
Ibadah
|
|
|
Saksi dan
Alat Bukti
|
Tangan
Bicara dan Anggota Tubuh (Qs. Yasin: 65)
|
|
Pertimbangan
Hakim
|
Pembacaan
Putusan
|
Jembatan Shirothol Mustaqim
|
|
Vonis
|
Bebas /
Penjara (Terpidana)
|
Surga / Neraka
|
|
Pengurangan
Hukuman
|
Remisi
|
Syafaat
|
|
|
Bebas
dari Tahanan
|
Keluar
dari neraka menju Surga
|
|
|
|
|
IL
ILUSTASI KEHIDUPAN MANUSIA DI DUNIA
Dalam sub tulisan ini saya ilustrasikan potret kehidupan manusia dengan
sebuah ilustrasi cerita:
Suatu hari ada seorang raja bernama Malikul Kohhar, ia menginformasikan
kepada para ajudannya bahwa dia telah ekspansi membuka wilayah (negeri) baru
yang diberi nama “Negara Mata'ul Ghurur”, dan negeri baru tersebut pengelolaannya
akan diberikan kepada salah satu ajudannya. Mendengar informasi tersebut
seorang ajudan yang bernama “Abdullah” tertarik untuk mengelolanya dan Abdullah
kemudian menghadap sang Raja serta menyampaikan keinginnya untuk mengelolanegeri
baru tersebut. Sang Raja pun mengizinkan Abdullah dengan tiga syarat yaitu: 1) selama
di sana Abdullah harus tetap tunduk pada kekuasaan sang raja, 2) Abdullah harus
tetap komunikasi dengan raj, dan 3). Abdullah harus membayar upeti/pajak pada
raja. Lalu syarat tersebut disanggupi oleh Abdullah. Kesokan harinya Abdullah berangkat
menuju negeri Mata’ul Ghurur dengan menaiki kapal mengarungi samudra lautan
selama 9 bulan lebih. Sesampainya di dermaga Abdullah disambut dengan penuh
sukacita oleh rakyat di wilayah baru tersebut, Abdullah disambut dengan
nyanyian dan pesta
Setelah tinggal di wilayah tersebut Abdullah memiliki kekuasaan dan kekayaan
yang sangat besar, namun sayang Abdullah ingkar dengan janjinya pada sang raja.
Ia tidak pernah mengikuti perintah raja, tidak pernah komunikasi dengan raja
dan bahkan tidak pernah membayar upeti kepada sang raja. Atas sikap Abdullah
tersebut, raja masih berbaik hati, Raja mengutus ajudannya yang lain untuk Menyorati
Abdullah, namun surat raja tidak direspon dan diabaikan oleh Abdullah. Raja
menyuruh menterinya untuk menyurati lagi, tetap saja surat tersebut diabaikan Abdullah,
sampai akhirnya surat tersebut berjumlah 113 surat yang dikirim raja tetap saja
Abdullah mengabaikannya. Hingga pada
akhirnya raja murka dan memerintahkan salah satu menteri yang lain untuk
menangkap Abdullah. Abdullah ditangkap dan ditahan, kemudian diproses dalam
persidangan dan dinyatakan Abdullah melakukan makar kepada raja sehingga
Abdullah dihukum
Ilustrasi di
atas dapat dideskripsikan bahwa raja yang namanya “Malikul Kahhar” tersebut
adalah Allah SWT, Informasi wilayah (negeri) baru yang dibuka dengan nama “Mata'ul
Ghurur” tersebut adalah alam dunia (penuh fatamurgana). Informasi ini sebagaimana
dinyatakan dalam Alquran Surat
Al-Baqarah Ayat 30 di bawah ini
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى
جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا
وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ
أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Artinya:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para
Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah)
di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,
padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan
Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui".
Istilah Abdullah ajudan yang dimaksud adalah hamba Allah yaitu manusia (hamba
Allah). Perjanjian yang disepakati antara raja dengan manusia (Hamba Allah) seperti
harus taat (QS Az Zariyat Ayat 56.), komunikasi dengan Allah artinya (Shalat) sampai
diberi nomor kontak 44342 yaitu dzuhur, ashar, magrib, isya dan subuh. Membayar
upeti yaitu disuruh menunaikan zakat dan sedekah. Perjanjian tersebut ditulis saat
Usia Kandung 4 bulan dimana Ruh ditiupkan pada janin sebagaimana hadits
إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ فِيْ بَطْنِ
أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ
يَكُوْنُ مُضْغَة ً مِثلَ ذَلِكَ،
ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فيَنْفُخُ فِيْهِ
الرُّوْحَ ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَم
َلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ،
Artinya:
“salah sejati
seorang diantara kalian dipadukan bentuk ciptaannya dalam perut ibu selama
empat puluh hari (dalam bentuk mani) lalu menjadi segumpal darah selama itu
pula (selama 40 hari), lalu menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian
Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh pada janin tersebut, lalu
ditetapkan empat hal: rizkinya, ajalnya, perbuatannya, serta asuransinya dan
kebahagiaannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Abdullah
berangkat menaiki kapal dengan perjalanan 9 bulan lebih maksudnya yaitu perjalanan
menaiki rahim (kapal ) ibu selama 9 bulan lebih. Dermaga yang dimaksud adalah manusia
dilahirkan ke dunia disambut oleh warga dengan nyanyian sholawat, asyroqol, pesta
aqiqah dan semacamnya. Manusia besar
punya kekuasaan dan kaya raya namun lupa untuk bertaqwa dan beriman kepada Allah,
lupa menunaikan sholat dan zakat/sedekah. Raja menyuruh menterinya menyurati Abdullah
maksudnya ALlah mengutus nabi untuk menyampaikan risalah keislaman kepada
manusia. Abdullah mengabaikan surat tersebut maksudnya manusia mengabaikan
perintah-perintah yang dibawa Rasul. Sampai 113 Surat dalam arti peringatan Allah
yang sampai 113 Surat dalam al-Quran.
Raja
memerintahkan salah satu menterinya untuk menangkap paksa Abdullah maksudnya Allah
memerintahkan malaikat Izrail untuk mencabut nyawa manusia, kemudian raja
menahan Abdullah dan melakukan proses sidang maksudnya manusia masuk ruang
tahanan (kuburan) dan kemudian diproses sedang di yaumil Hisab, dan Raja memvonis
Abdullah bersalah karena melakukan makar kepada raja maksudnya Allah menyatakan
bahwa manusia tersebut telah melakukan ingkar dan tidak taat dengan aturan
syariat yang ditentukan oleh Allah, Sehingga oleh Allah dihukum dengan dimasukkan
penjara (Neraka). eraka
10 MANFAAT MALAM NISFU SYA'BAN
Malam Nisfu
Sya'ban dianggap sebagai waktu yang sakral dan istimewa dalam agama Islam. Pada
bulan Sya'ban ini, Allah membuka pintu rahmat dan mengampuni-Nya
sebesar-besarnya. Sayyid Muhammad bin 'Alawi Al-Maliki menyatakan bahwa banyak
keberkahan di Malam Nisfu Sya'ban, antara lain pengampunan dosa bagi yang
memohon ampun pada malam itu, kasih sayang Allah bagi yang mencari kasih
sayang-Nya, terkabulnya shalat. bagi yang meminta, keringanan penderitaan bagi
yang kesusahan, dan terbebasnya sekelompok orang dari Neraka.
Hal ini sejalan
dengan hadis Nabi Muhammad SAW: “Ketika Malam Nisfu Sya’ban tiba, para malaikat
menyampaikan pesan dari Allah, ‘Apakah ada orang yang memohon ampun agar Aku
mengampuninya? agar aku dapat mengabulkan permintaan mereka?'” (HR. al-Baihaqi
dalam Syu'ab al-Iman).
Malam Nisfu
Sya'ban memiliki banyak nama, dan masing-masing nama tersebut membawa makna dan
keberkahan tersendiri yang dapat diraih oleh umat Islam. Melansir NU Online,
Al-Hafiz al-Muhaddits Syekh Salim as-Sanhuri dalam salah satu bukunya menjelaskan,
ada sepuluh nama mulia yang dikaitkan dengan malam tengah Sya'ban. Nama-nama
tersebut adalah:
1. Lailatul Mubarakah
(Malam yang penuh berkah)
Pada tengah
malam Sya'ban, Allah memerintahkan para malaikat untuk turun ke langit bumi dan
menyebarkan kebaikan kepada umat manusia. Pada malam ini, jarak antara manusia
dan malaikat menjadi sangat dekat. Kedekatan ini menjadi berkah yang hanya
diberikan kepada umat Nabi Muhammad SAW.
2. Lailatul Qismah
wa at-Takdir (malam pembagian/perubahan takdir)
Pada malam
ini, para malaikat turun untuk membagikan keberkahan dan kebaikan serta
menentukan takdir bagi semua manusia, termasuk rezeki, jodoh, kedudukan, dan
lainnya. Hal ini seperti yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh
Atha' bin Yasar, Rasulullah saw bersabda:
اذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ
دُفِعَ إِلَى مَلَكِ الْمَوْتِ صَحِيْفَةً فَيُقَالُ اِقْبِضْ فِي هَذِهِ السَّنَةِ
مَنْ فِي هَذِهِ الصَّحِيْفَةِ فَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَغْرَسَ الغُرَّاسَ وَيُنْكِحَ
الْأَزْوَاجَ وَيَبْنِي الْبُنْيَانَ وَإِنَّ اسْمَهُ فِي تِلْكَ الصَّحِيْفَةِ وَهُوَ
لَا يَدْرِيْ
Artinya:
Apabila
telah datang malam pertengahan bulan Sya’ban maka diserahkan kepada malaikat
maut sebuah catatan. Maka dikatakan, cabutlah pada tahun ini, nama yang ada
dalam catatan itu, karena sungguh seorang hamba akan menanam tanaman, akan
menikahi wanita, membangun rumah, sedangkan namanya ada dalam catatan itu dan
dia tidak tahu.
Dalam
riwayat lain disebutkan bahwa pada tengah malam Sya’ban, Allah menetapkan
keputusan-keputusan tertentu sesuai kehendak-Nya dan mempercayakannya kepada
pemiliknya yang sah pada Malam Lailatul Qadar.
3. Lailatut Takfir (malam pengampunan Dosa).
Malam Nisfu
Sya'ban dianggap sebagai malam di mana Allah mengampuni semua dosa hamba-Nya
selama satu tahun, mulai dari malam tersebut hingga malam Nisfu Sya'ban
berikutnya. Dalam riwayat Ahmad bin Nadlar melalui jalur Sayyidina Mu'ad bin
Jabar, Rasulullah bersabda bahwa Allah melihat kepada semua makhluk-Nya pada
malam pertengahan bulan Sya'ban dan memberikan pengampunan kepada mereka
kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.
يَطَّلِعُ اللهُ عَلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ
النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ اِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
Artinya:
Allah swt
melihat kepada semua makhluk-Nya pada malam pertengahan bulan Sya’ban, maka Dia
memberi ampunan pada semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan
(dengan saudaranya).
4. Lailatul
Ijabah (malam
terkabulnya doa).
Salah satu
keistimewaan malam tengah Sya'ban adalah diterimanya segala doa yang
dipanjatkan oleh hamba-hamba Allah. Hal ini disebutkan dalam sebuah hadis
riwayat al-Baihaqi, dimana Nabi Muhammad SAW bersabda:
خَمْسُ لَيَالٍ لَا يُرَدُّ فِيْهِنَّ الدُّعَاءُ
لَيْلَةُ الْجُمْعَةِ وَأَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبَ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ
وَلَيْلَتَا الْعِيْدِ
“Ada lima
malam yang tidak ditolak shalatnya: malam Jumat, malam pertama Rajab, malam
tengah Sya’ban, dan dua malam Idul Fitri.”
5. Lailatul hayat (malam kehidupan)
Orang-orang
yang beribadah kepada Allah di tengah malam Sya'ban tidak akan mati hatinya
ketika hati seluruh umat manusia mati. Artinya ketika semua makhluk asyik
dengan kesenangan dunia dan melupakan akhirat, maka Allah tidak akan membiarkan
orang-orang yang beribadah kepada-Nya pada malam ini juga menjadi lengah
terhadap dunia. Selain itu, ada riwayat dari Ishaq bin Rahwaih dengan rantai
perawi dari Wahab bin Munabbih yang menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang
mati pada malam ini.
Dalam
sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Saat
tengah malam Sya’ban tiba, tidak ada seorangpun yang mati dari waktu antara
Maghrib dan Isya karena Malaikat Maut sedang sibuk mencatat ciptaan dari Tuhan
Semesta Alam.”
6. Hari raya
malaikat
Jika
manusia memiliki dua hari raya yang besar yang selalu dirayakan setiap tahun,
yaitu Idul Fitri dan Idul Adha, maka malaikat juga memiliki dua hari raya yang
mereka rayakan setiap tahun, yaitu malam pertengahan bulan Sya'ban dan malam
Lailatul Qadar.
7. Lailatus
Syafa’at (Malam
syafaat)
Menurut
Al-Hafiz Syekh Salim as-Sanhuri, malam pertengahan bulan Sya'ban adalah malam
yang penuh dengan syafaat. Pada tanggal 13 bulan Sya'ban, Rasulullah ditanya
tentang syafaatnya yang akan diberikan kepada umatnya. Saat itu, dia menjawab
bahwa dia hanya akan memberikan sekilas syafaat kepada mereka.
Kemudian,
pada tanggal 14, dia ditanya lagi tentang syafaat yang akan diberikan kepada
umatnya. Saat itu, dia menjawab bahwa dia hanya akan memberikan dua pertiga
syafaat kepada mereka. Namun, ketika pertanyaan itu disampaikan kepada
Rasulullah pada malam Nisfu Sya'ban, dia dengan tegas menjawab bahwa dia akan
memberikan seluruh syafaatnya kepada umatnya. Oleh karena itu, malam ini disebut
sebagai malam penuh dengan syafaat.
8. Lailatul “itqu
(Malam Kemerdekaan)
Malam ini
juga dikenal sebagai malam kemerdekaan, karena pada malam ini sebagian umat
Nabi Muhammad dikeluarkan dari neraka. Hal ini disebutkan dalam sebuah hadits
yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah, dimana Rasulullah bersabda:
“Telah
diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad sedang duduk pada malam tersebut (Nisfu
Sya’ban), lalu malaikat Jibril datang dan berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah
memerdekakan sebagian umatmu dari neraka.’”
9. Lailatul
Bara’ah (Malam
Pembebasan)
Salah satu
nama lain untuk malam pertengahan bulan Sya'ban adalah malam asuransi. Pada
malam ini, Allah mencatat kebebasan bagi hamba-hamba-Nya yang diberiman dari
neraka, baik mereka yang taat maupun mereka yang berbuat dosa. Allah berfirman
kepada mereka yang taat:
“Aku telah menepati
janji (kebenaran) dan engkau telah menjalankan ketentuan seorang hamba, maka
ambillah kebebasan dari neraka.”
Allah tidak
hanya memberikan pengampunan kepada orang-orang yang beriman dan taat, tetapi
juga kepada orang-orang yang beriman namun masih sering melakukan dosa. Allah
berfirman kepada mereka, "Aku telah memberikan keringanan kepada kalian
semua, karena kalian tidak menjalankan hak-hak dan ketentuan seorang hamba,
maka hakmu adalah siksa, namun dengan malam Nisfu Sya'ban, ambillah kebebasanmu
dari neraka."
10. Lailatul Jaizah
(Malam hadiah)
Malam
pertengahan bulan Sya'ban disebut demikian karena malam mulia ini hanya
diberikan kepada umat Nabi Muhammad, bukan kepada umat nabi-nabi sebelumnya.
Oleh karena itu, malam ini merupakan hadiah langsung dari Allah secara khusus
kepada umat Nabi Muhammad.
Malam Nisfu
Sya’ban Dianjurkan Membaca Yasin 3 (tiga) kali dengan niat Sebagai Berikut:
- Niat Yasin
pertama, memohon umur panjang semata-mata hanya beribadah kepada Allah SWT.
- Niat Yasi
kedua, niat ditujukan untuk memohon rezeki yang halal untuk bekal beribadah
kepada Allah SWT.
- Niat Yasin
ketiga, niat dilakukan untuk memohon keteguhan iman dari Allah SWT.
Adapun doa
Nisfu Sya’ban setiap selesai membaca Yasin sebagai berikut:
اللّٰهُمَّ يَا ذَا
الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ
وَالإِنْعَامِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المُسْتَجِيْرِيْنَ
وَمَأْمَنَ الخَائِفِيْن
اللّٰهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنَا عِنْدَكَ
فِيْ أُمِّ الكِتَابِ أَشْقِيَاءَ أَوْ مَحْرُوْمِيْنَ أَوْ مُقَتَّرِيْنَ عَلَيْنَا
فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللّٰهُمَّ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتَنَا وَحِرْمَانَنَا
وَاقْتِتَارَ رِزْقِنَا، وَاكْتُبْنَا عِنْدَكَ سُعَدَاءَ مَرْزُوْقِيْنَ مُوَفَّقِيْنَ
لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِيْ كِتَابِكَ المُنْزَلِ عَلَى
لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ: “يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ
الكِتَابِ” وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ
وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَــالَمِيْنَ
Artinya:
Wahai
Tuhanku yang maha pemberi, Engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran
dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemilik kekayaan dan pemberi nikmat. Tiada Tuhan
selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan
orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut.
Tuhanku,
jika Engkau mencatat kami di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka,
sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh
kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezeki kami. Catatlah aku di sisi-Mu
sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufiq untuk berbuat kebaikan
karena Engkau telah berkata-sementara perkataan-Mu adalah benar-di kitabmu yang
diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, ‘Allah menghapus dan menetapkan apa
yang Ia kehendaki di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.
Penulis:
Qomaruzzaman, SHI., MSI.
Pengacara, Dosen/Sekprodi Hukum Tata Negara Fakultas
Syariah IAIN Pontianak
Ditulis di,
Pematang Rambai Hulu, Kuala Mandor A,
Sabtu, 24 Februari 2024 menjelang malam Nisfu
Sya’ban
Pukul 10.50 -1422. Wib