Selasa, 28 Oktober 2025

Refleksi Hari Sumpah Pemuda ke-97 Tahun 2025: Epistemologi Sinergi Pemuda Digital dalam Kontestasi Kebangsaan

Oleh: Qomaruzzaman


Hari Sumpah Pemuda, yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober, telah berjarak hampir satu abad dari ikrar heroik 1928. Kini, pada peringatan ke-97 di tahun 2025, esensi persatuan tersebut menemukan medan juang baru: ruang digital, yang didominasi oleh Generasi Milenial dan Generasi Z (Gen-Z). Semangat pergerakan kontemporer tidak lagi diukur dari mimbar-mimbar fisik, melainkan dari laju kolaborasi dan literasi digital di tengah disrupsi informasi. Refleksi ini beranjak dari Ikrar Pemuda Zaman Now yang menegaskan kembali janji kebangsaan dalam konteks dualitas dunia nyata dan dunia maya, menuntut sebuah analisis eksploratif yang komprehensif terhadap kondisi sosio-politik dan kultural Indonesia saat ini.


1. Kedaulatan Digital: Konsep Tanah Air di Dunia Nyata dan Maya

Sumpah Pemuda pertama mengikrarkan "bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia." Deklarasi modern, sebagaimana tertuang dalam naskah Ikrar Pemuda Zaman Now, secara eksplisit menambahkan frasa "di dunia nyata dan maya," mengakui bahwa kedaulatan bangsa kini terdefinisikan secara holistik di kedua domain tersebut. Ranah digital, alih-alih sekadar menjadi alat komunikasi, telah bertransformasi menjadi arena pertahanan ideologi dan ekonomi (Rosmalinda, 2017, h. 196). Bagi Milenial dan Gen-Z, yang merupakan 52,6 persen dari bonus demografi Indonesia saat ini, identitas kebangsaan dipraktikkan melalui interaksi daring (PPID Sungai Intan, 2023, h. 1).

Aspek kedaulatan digital ini menuntut pemahaman bahwa ancaman asing tidak lagi terbatas pada intervensi militer, melainkan infiltrasi narasi melalui perang informasi. Cyber sovereignty menjadi imperatif bagi pemuda-pemudi digital. Peran mereka adalah memastikan bahwa ekosistem digital Indonesia tidak menjadi korban dari bombardir informasi negatif dan agenda asing yang dapat merongrong stabilitas nasional (Agus Sartono, 2021, h. 1). Kontribusi nyata terlihat dari upaya Gen-Z memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan karya inovatif, seperti pengembangan platform belajar, aplikasi marketplace, atau solusi teknologi untuk isu sosial, yang secara tidak langsung mengamalkan semangat persatuan dan gotong royong warisan pendahulu (Gramedia, 2023, h. 1).


2. Tantangan Kohesi Sosial: Ancaman Hoaks dan Ujaran Kebencian

Poin kedua Sumpah Pemuda, yakni "berbangsa yang satu, bangsa Indonesia," hari ini diuji oleh polarisasi yang masif di media sosial. Ikrar Pemuda Zaman Now menanggapi hal ini dengan janji "menolak hoaks dan ujaran kebencian, agar persatuan tetap kokoh." Fenomena berita bohong (hoax) telah terbukti tidak hanya menimbulkan kegaduhan, tetapi juga merusak kualitas demokrasi dan berpotensi memicu disintegrasi bangsa (Sebatik, 2020, h. 76). Media sosial, dengan fitur berbagi (share) yang sangat praktis, menjadi medium penyebaran konten distorsi ini secara masif (Rosmalinda, 2017, h. 196).

Meskipun secara umum Generasi Z menunjukkan kecenderungan yang lebih inklusif dan toleran karena sikap terbuka mereka terhadap perbedaan (RRI, 2023, h. 1; INFID, 2022, h. 1), mereka juga menjadi target utama radikalisme digital yang bergeser dari kekerasan fisik ke penguasaan ruang pikir melalui meme, video pendek, dan diskusi daring (BSI NEWS, 2025, h. 1). Oleh karena itu, mandat kritis bagi Gen-Z adalah mentransformasikan diri dari sekadar sasaran menjadi penjaga toleransi. Hal ini diwujudkan melalui penguatan literasi digital, keterlibatan dalam dialog moderat, dan bersikap skeptis serta kritis terhadap informasi yang diterima, tidak mudah terpancing isu provokatif (BSI NEWS, 2025, h. 1; Gramedia, 2023, h. 1). Tanpa literasi digital yang memadai, esensi persatuan yang ditopang oleh keberagaman akan mudah terkikis oleh distrust dan sentimen negatif (Ulil Albab Institute, 2025, h. 1).

 3. Bahasa Persatuan dalam Kontestasi Kultural Digital

"Menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia" adalah janji ketiga Sumpah Pemuda. Dalam konteks Ikrar Pemuda Zaman Now, bahasa ini harus "terus beradaptasi dengan zaman," dan digunakan untuk "menyebarkan kebaikan." Tantangan terbesarnya adalah ancaman terhadap kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar, seiring dengan masifnya penggunaan bahasa prokem atau bahasa asing dalam interaksi sehari-hari di media sosial (Badan Kepegawaian Daerah, 2022, h. 1). Jika berlangsung terus-menerus, hal ini dikhawatirkan mengancam eksistensi bahasa pemersatu itu sendiri.

 Namun, semangat babilonia digital juga menawarkan peluang emas. Pemuda unggul memanfaatkan teknologi dan kreativitas untuk mempopulerkan narasi kebangsaan dan nilai-nilai lokal, menjadikannya relevan dan menarik bagi audiens global. Bahasa Indonesia di dunia digital tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi domestik, tetapi sebagai jembatan untuk mengharumkan nama bangsa melalui karya-karya kreatif. Pemuda Milenial dan Gen-Z dituntut untuk menjadi influencer kebaikan, menggunakan platform mereka untuk mempromosikan pariwisata, budaya, dan produk dalam negeri, sehingga menanamkan kembali rasa bangga terhadap Tanah Air yang kaya akan kebudayaan (DJKN Kemenkeu, 2023, h. 1). Inilah cara mereka menjadi "penentu sejarah, bukan hanya pelengkap sejarah," melalui karya, bukan sekadar teori (Scribd, 2019, h. 1).

 

4. Visi Kontribusi Nyata: Dari Kata ke Aksi Pembangunan

Janji terakhir pemuda adalah "berjanji untuk terus berkontribusi, mencintai tanah air dengan tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata." Hal ini selaras dengan peran pemuda sebagai agen perubahan dan pembangunan yang jujur, berani, dan berorientasi pada kemakmuran bangsa (Bagian Kesejahteraan Rakyat, 2020, h. 1). Konteks pembangunan saat ini berpusat pada pemanfaatan ilmu dan teknologi sebagai transformator dan dinamisator lingkungan (Bagian Kesejahteraan Rakyat, 2020, h. 1).

 

Kontribusi Gen-Z dan Milenial harus didorong melalui keberanian mengambil risiko, optimisme, dan semangat yang merupakan modal utama mereka dalam memimpin pembangunan (Bagian Kesejahteraan Rakyat, 2020, h. 1). Di tingkat daerah, misalnya, pemuda mampu merumuskan solusi inovatif untuk masalah lokal, memanfaatkan sumber daya, dana, dan teknologi untuk meningkatkan produktivitas (Ekbangsetda Bulelengkab, 2019, h. 1). Inovasi dan keterampilan digital mereka merupakan aset berharga untuk menghadapi tantangan kontemporer dan merealisasikan visi Indonesia Emas 2045 (Adisam Publisher, 2024, h. 559; Portal Resmi Pemkot Medan, 2025, h. 1). Peran pemuda sebagai subjek pembangunan menuntut kolaborasi lintas generasi dan menciptakan lingkungan kebijakan yang inklusif untuk kewirausahaan dan perlindungan sosial (Adisam Publisher, 2024, h. 558).

 

Secara keseluruhan, Ikrar Pemuda Zaman Now pada dasarnya adalah metamorfosis Sumpah Pemuda 1928, mentransmisikan nilai-nilai fundamental persatuan ke dalam kode etik digital dan etos kerja modern. Refleksi ini menunjukkan bahwa medan pertempuran telah bergeser dari arena fisik ke ruang siber. Kunci keberhasilan Gen-Z dan Milenial sebagai penentu masa depan bangsa terletak pada kemampuan mereka menyeimbangkan sinergi kolaboratif digital dengan integritas moral dalam menghadapi tantangan destruksi demokrasi akibat hoaks dan perpecahan.

 

Daftar Pustaka

Agus Sartono. (2021). Tantangan Pemuda Indonesia di Era Digital. Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Diakses dari https://www.kemenkopmk.go.id/.

Adisam Publisher. (2024). KONTRIBUSI PEMUDA DALAM PEMBANGUNAN SOSIAL DAN INOVASI. OJS ADISAM PUBLISHER, 549-559. Diakses dari https://openjournalsystems.com/.

Badan Kepegawaian Daerah. (2022). Memaknai Sumpah Pemuda di Era Milenial. bkd.jogjaprov.go.id. Diakses dari https://www.bkdbagels.com/order.

Bagian Kesejahteraan Rakyat. (2020). PERAN PEMUDA DALAM PEMBANGUNAN. kesrasetda.bulelengkab.go.id. Diakses dari https://bulelengkab.go.id/.

BSI NEWS. (2025). Bukan Generasi Baper, Ini Cara Gen Z Jadi Penjaga Toleransi. news.bsi.ac.id. Diakses dari https://www.bsigroup.com/en-US/.

DJKN Kemenkeu. (2023). Memaknai Sumpah Pemuda di Era Milenial. djkn.kemenkeu.go.id. Diakses dari https://www.djkn.kemenkeu.go.id/.

Ekbangsetda Bulelengkab. (2019). PEMUDA SEBAGAI MASA DEPAN BANGSA DI BIDANG PEMBANGUNAN DAERAH. ekbangsetda.bulelengkab.go.id. Diakses dari https://ekbangsetda.bulelengkab.go.id/.

Gramedia. (2023). Makna Sumpah Pemuda Bagi Generasi Muda di Era Digital. https://www.google.com/search?q=gramedia.com/literasi. Diakses dari https://www.gramedia.com/.

INFID. (2022). Sikap Generasi Milenial dan Generasi Z Terhadap Toleransi, Kebinekaan, dan Kebebasan Beragama di Indonesia. infid.org. Diakses dari https://infid.org/en/.

Portal Resmi Pemkot Medan. (2025). Bobby Nasution: Kontribusi Pemuda dalam Pembangunan Kota Tidak Bisa Diabaikan. portal.medan.go.id. Diakses dari https://portal.medan.go.id/.

PPID Sungai Intan. (2023). REFLEKSI SUMPAH PEMUDA - SAATNYA GENERASI MUDA BERPERAN UNTUK INDONESIA MAJU. sungaiintan.desa.id. Diakses dari https://www.sungaiintan.desa.id/.

RRI. (2023). Gen Z Lebih Menghargai Keberagaman dan Toleransi, Benarkah?. rri.co.id. Diakses dari https://www.youtube.com/playlist?list=PLOT8qUzmOGqqkx9oKU49jiYkQ2y63DfbR.

Rosmalinda, R. (2017). Fenomena Penyesatan Berita di Media Sosial. Sebatik, 24(2), 193-200.

Scribd. (2019). Peran Pemuda Dalam Era Digita1. id.scribd.com. Diakses dari https://www.scribd.com/.

Sebatik. (2020). FENOMENA MEDIA SOSIAL: ANTARA HOAX, DESTRUKSI DEMOKRASI, DAN ANCAMAN DISINTEGRASI BANGSA. jurnal.wicida.ac.id, 24(2), 193-200. Diakses dari https://jurnal.wicida.ac.id/index.php/sebatik.

Ulil Albab Institute. (2025). Analisis Peran Gen-Z Dalam Menjaga Toleransi Di Tengah Masyarakat Kota Yang Heterogen. ulilalbabinstitute.id. Diakses dari https://aboutislam.net/reading-islam/understanding-islam/who-are-the-ulul-albab-the-people-of-intellect-in-the-quran/.

 

0 komentar:

 
Copyright 2010 "Banyak Baca Jadi Tau, Jarang Baca Kurang Tau, Tidak Baca Jadi Sok Tau". All rights reserved.
Themes by Bonard Alfin Blogger Templates - PlayStation Vita - Studio Rekaman - Software Rekaman