[Napak Tilas Seperempat
Abad (25 Tahun) Wafatnya Sang Murobbi]
Oleh: Qomaruzzaman
Niat alfaqir menulis narasi biografi ini bukanlah sekadar
menyusun angka-angka tahun formalitas atau rentetan catatan akademis yang
dingin. Tulisan ini adalah bentuk takzim, curahan kerinduan, serta wujud
khidmah alfaqir yang mendalam kepada guru mulia, almarhum K.H. Abdussyakur
Walid Nurhalim.
Antara rentang tahun 1995 hingga 2000, alfaqir memperoleh
anugerah yang tak ternilai harganya: menjadi santri di Pondok Pesantren Darun
Nasyi'in. Di masa-masa keemasan itu, alfaqir melakoni tugas harian sebagai khodim
dapur—menjalani hari-hari motong (noreh karet), alanduk nanam ubi/jahe,
mencari kayu bakar untuk dapur, hingga memetik daun pisang untuk bungkus nasi
jualan nasi. Tidak hanya itu, alfaqir kerap mendapat kehormatan yang sangat
personal, yakni dipercaya menjadi tukang pijat pribadi almarhum Kyai saat tubuh
sepuhnya dilanda kelelahan usai berdakwah menembus pelosok pedalaman.
Alfaqir dalam posisi saat ini—sebagai Guru dan Waka Kurikulum MA Darun Nasyi'in, Dosen IAIN Pontianak dan Universitas Terbuka, Pengacara, Ketua Pusat Konsultasi dan Bantuan Hukum (PKBH) Al-Jamiah IAIN Pontianak, serta Pengurus Wilayah PERGUNU Kalimantan Barat—alfaqir menyadari sepenuhnya bahwa seluruh capaian ini adalah pancaran karomah dan barokah dari usapan tangan serta doa-doa rahasia beliau.
Tepat menjelang peringatan Haul Akbar ke-25 almarhum yang diselenggarakan pada Minggu, 30 Agustus 2026, alfaqir merajut memori spiritual ini dengan memadukan pengalaman batiniah masa santri bersama data riset ilmiah-akademis yang tertuang dalam Tesis Magister Khusnul Khotimah (2022) dari Pascasarjana IAIN Pontianak.
Akar Nasab, Masa Muda, dan Rihlah Keilmuan Sang Mujahid
Almarhum K.H. Abdussyakur Walid Nurhalim dilahirkan sekitar
tahun 1952 di Desa Ketapang, Jalan Masjid Keramat Daya 1, Kabupaten Sampang,
Pulau Madura. Beliau tumbuh dari pasangan bersahaja, Kyai Nurhalim—seorang
nelayan sekaligus guru ngaji dan da'i yang amat disegani—serta Nyai Munayah.
Meski dibesarkan dalam kesederhanaan ekonomi, api keilmuan dalam dada
Abdussyakur muda menyala begitu bergelora.
Sejak kecil, beliau dikenal memiliki kemauan keras dan tekad
yang tajam. Suatu hari, karena dorongan kuat untuk menimba ilmu agama di
pesantren sementara sarana sangat terbatas, Kyai Abdussyakur muda nekad menjual
sarung Lamiri miliknya kepada seorang penjual pecel bernama Baturya demi
mendapat ongkos jalan. Beliau kemudian menempuh pendidikan awal di bawah
bimbingan kerabatnya, Kyai Mudheri, di Dusun Pandhiyengan, Desa Sumber Talor,
Pamekasan.
Dahaga ilmunya membawa beliau melangkah lebih jauh menuju Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar, Pamekasan. Di bawah gemblengan langsung ulama legendaris Madura, RKH. Abdul Hamid Bakir, jiwa spiritual dan kapasitas intelektual beliau ditempa. Di Banyuanyar, K.H. Abdussyakur mendalami kitab-kitab klasik salaf hingga menguasai berbagai cabang ilmu syariat dan thariqat. Beliau juga sempat memperdalam keilmuan Nahwu-Shorof di Pondok Pesantren Sukorejo Situbondo serta mengaji di Kayu Manis, Jawa Timur.
Setelah mengarungi samudera keilmuan di tanah Jawa dan Madura, K.H. Abdussyakur melengkapi rihlah spiritualnya ke Tanah Suci Mekkah dan Madinah selama kurang lebih dua tahun. Di sana, beliau menimba ilmu langsung dari ulama-ulama besar dunia, di antaranya Syekh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dan Syekh Ismail Al-Pakistani. Dari tanah Hijaz inilah gelar haji bertambah menjadi K.H. Abdus Syakur Sulthan Walid Nurhalim.
Hijrah Maknawi dan Merintis Pelita Pendidikan di
Belantara Ambawang
Kehadiran K.H. Abdussyakur di Bumi Kalimantan Barat bermula
dari tugas suci (misi da'i). Pada tahun 1970, RKH. Abdul Hamid Bakir
menguji 20 santri pilihan yang dipersiapkan menjadi guru tugas. Dari
seleksi ketat tersebut, K.H. Abdussyakur terpilih sebagai sosok yang paling
siap, berani, dan tangguh untuk dikirim ke belantara Kalimantan Barat.
Langkah pertamanya mengabdi adalah menjadi guru tugas di
Madrasah Raudhatul Ulum 6 di daerah Meru, Sungai Ambawang. Pada tahun 1974,
beliau berpindah ke Dusun Sungai Rasau (Dusun Pelaik), Desa Simpang Kanan,
Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Wilayah ini kala itu masih
terisolasi, didominasi hutan gambut, dan dipenuhi oleh pekatnya pekat
kemaksiatan seperti perjudian, sabung ayam, hingga kriminalitas.
Di tempat inilah beliau menemukan tambatan hatinya, Nyai
Rohela, putri dari Bapak Satuki dan Ibu Safinah. Dengan penuh kesabaran, beliau
membimbing bapak mertuanya yang semula gemar berjudi hingga bertobat total dan
menjadi pengikut setia ajaran Islam.
Usai mengarungi bimbingan di Tanah Suci Mekkah pascanikah,
K.H. Abdussyakur kembali ke Simpang Kanan atas dorongan Penanggung Jawab Guru
Tugas (PJGT). Pada tahun 1977, beliau meletakkan batu pertama pendirian Pondok
Pesantren Darun Nasyi'in. Berawal dari sebuah mushalla panggung kayu
sederhana berukuran 3 x 6 meter beratap daun rumbia dan berdinding kulit
kayu—yang sekaligus menjadi tempat tinggal beliau bersama sang istri—pesantren
ini perlahan tumbuh.
Atas kemurahhatian warga dan mertua beliau yang mewakafkan
tanah awal seluas 15.000 m2, kompleks pesantren terus meluas hingga
kini mencapai puluhan hektar. Visi pendidikan beliau sangat tegas: memadukan
penguatan akidah-akhlak berbasis kitab salaf dengan pembinaan pengetahuan
formal demi mencetak generasi dzurriyatan thoyyibah.
Waliyullah dan Samudra Karomah: Dari Hizb Asma Thir
hingga Mata Batin Kasyf
Bagi alfaqir yang bertahun-tahun memijat tubuh beliau yang
lelah usai berdakwah, karomah K.H. Abdussyakur bukanlah rekaan. Kesaktian dan
karomah beliau bersumber murni dari kejernihan jiwa (tashfiyatul qulub)
serta ketakwaan tingkat tinggi.
Beberapa kesaksian karomah dan keajaiban spiritual almarhum
yang valid antara lain:
- Ketajaman
Mata Batin (Kasyf): Beliau sering kali membaca lintasan batin
para santrinya. Alfaqir kerap merasakannya sendiri sewaktu memijat
punggung beliau; tanpa alfaqir ucapkan sepatah kata pun, beliau tiba-tiba
memberikan nasihat khusus yang menjawab tuntas masalah pribadi yang sedang
alfaqir sembunyikan dalam hati.
- Ijazah
Keselamatan dan Hizb Asma Thir (Konflik 1997): Saat gelombang
kerusuhan sosial tahun 1997 meluap, masyarakat dari berbagai pelosok
daerah datang berduyun-duyun memadati pesantren untuk berlindung dan
memohon keselamatan. Beliau menijazahkan beberapa ilmu perlindungan
tingkat tinggi, di antaranya Hizb Asma Thir, yang menjadi Wasilah
pemagaran diri dan keselamatan ribuan warga dari amuk massa.
- Doa
Sari'ul Ijabah (Air Penyembuhan): Air suci yang didoakan dari
jemari beliau menjadi wasilah kesembuhan bagi banyak warga pedalaman yang
menderita penyakit medis maupun non-medis, khususnya tatkala dokter medis
telah menyatakan tidak sanggup lagi.
- Ketahanan
Fisik dan Keajaiban di Belantara: Ketika berdakwah menembus hutan
rimba Ambawang yang masih rawan binatang buas dan perampok, kendaraan
beliau pernah kehabisan bahan bakar di tengah hutan pekat, namun keajaiban
terjadi—kendaraan tersebut tetap berjalan normal hingga sampai ke
pemukiman. Binatang buas termasuk ular berbisa yang berpapasan di jalan
hutan justru tertunduk dan menepi, seolah memberikan penghormatan pada
sang waliyullah.
Sang Singa Pembawa Damai: Miracle Lidi dan
Diplomat Rekonsiliasi Etnis 1997
Kiprah puncak K.H. Abdussyakur yang dicatat emas dalam
sejarah Kalimantan Barat adalah perannya sebagai juru damai saat konflik
antaretnis pecah pada awal tahun 1997. Sungai Ambawang kala itu berada dalam
titik didih yang amat mencekam karena menjadi jalur perlintasan utama massa.
Pada 23 Februari 1997, situasi memuncak. Danramil Sungai
Ambawang kala itu, Pak Jaya Mardani, menemui K.H. Abdussyakur untuk memohon
bantuan memecahkan kebuntuan keamanan. Dengan keberanian luar biasa dan tanpa
rasa gentar sedikit pun, K.H. Abdussyakur melangkah pergi menemui perkemahan
Panglima Perang Dayak.
Dalam perundingan mencekam tersebut, Panglima Perang
menegaskan dengan nada keras: "Nyawa harus dibayar dengan nyawa!"
K.H. Abdussyakur dengan tenang mengambil sebatang lidi, lalu
menancapkannya ke dalam tanah. Beliau berkata dengan nada berwibawa:
"Jika kalian mampu mencabut sebatang lidi ini,
silakan kalian bantai dan bunuh seluruh warga Madura. Namun jika kalian tidak
mampu mencabutnya, penuhilah ajakan damai demi kemanusiaan."
Panglima Dayak menyeringai dan menganggap hal itu sangat
mudah. Namun, saat beliau berusaha mencabut lidi tersebut, lidi itu tak
bergeming sedikit pun seolah menyatu dengan inti bumi. Panglima memanggil anak
buahnya untuk membantu, namun gabungan kekuatan pasukan perang tetap gagal
mencabut sebatang lidi kecil tersebut. Danramil yang menyaksikan peristiwa
tersebut gemetar dan terperangah.
Menyaksikan karomah spiritual yang nyata di depan matanya,
melunaknya hati sang Panglima Perang. Beliau berkata takzim: "Baiklah
Kyai, karena Anda datang membawa perdamaian dan kerendahan hati, saya berjanji
pasukan saya tidak akan menyentuh warga Madura."
Kejadian ini ditindaklanjuti dengan Musyawarah Rekonsiliasi
Akbar pada 5 Maret 1997 di kompleks Pondok Pesantren Darun Nasyi'in bersama
tokoh adat, Danramil, dan Kapolres. Atas jasa besarnya mencegah pertumpahan
darah yang lebih luas, K.H. Abdussyakur menerima Piagam Penghargaan Resmi
dari Gubernur Kalimantan Barat serta Sertifikat Penghargaan dari Panitia
Rapat Koordinasi Madura (RAKORMA) Kalbar.
Warisan Kelembagaan, Dzurriyah, dan Pengakuan Akademis
Pada hari Rabu, 13 Rabiul Awal 1422 H / 6 Juni 2001 pukul
02.00 WIB, K.H. Abdussyakur Walid Nurhalim menghadap sang kekasihnya di usia 49
tahun di RSUD Soedarso Pontianak usai berdakwah di Kampung Singsang. Beliau
berpulang dalam keadaan suci memiliki wudhu, usai mendirikan shalat Isya.
Beliau meninggalkan warisan peradaban yang sangat kukuh.
Istri tercinta beliau, Nyai Rohela, saat ini dalam keadaan uzur dan
sakit (marilah kita panjatkan doa keharibaan Allah SWT agar beliau senantiasa
diberikan kesembuhan, kekuatan, dan ketabahan).
Perjuangan beliau dilanjutkan oleh dzurriyah
(putra-putri) beliau yang menjadi pelopor pendidik dan pengasuh pesantren:
- Nyai
Nurqudsiyah Walid (Mendirikan dan Mengasuh PP Al-Hamidiyah, Sungai
Ambawang).
- Nyai
Umi Kalsum (Mendirikan dan Mengasuh PP Raudhatul Firdaus, Kampung
Jawa, Sungai Ambawang).
- Kyai
Ahmad Nauval Walid (Pengasuh Utama Pondok Pesantren Darun Nasyi'in
saat ini).
- Kyai
Ainun Najib (Ketua Yayasan Al-Ikhsan Pondok Pesantren Darun Nasyi'in).
- Nyai
Khumairah Walid (Nyai Mir) beserta segenap putra-putri lainnya.
Kini, Yayasan Al-Ikhsan Darun Nasyi'in tumbuh pesat
mengelola jenjang pendidikan komprehensif:
- Kelompok
Bermain (KB) & Raudhatul Athfal (RA) Darun Nasyi'in
- Madrasah
Ibtidaiyah (MI) Darun Nasyi'in
- Madrasah
Tsanawiyah (MTs) Darun Nasyi'in
- Madrasah
Aliyah (MA) Darun Nasyi'in
- SMK
KH Abdus Syakur Nurhalim (Lembaga kejuruan yang menyematkan nama mulia
beliau)
Kiprah emas beliau diabadikan secara ilmiah dalam Tesis
Magister yang ditulis oleh seorang alumni Khusnul Khotimah (2022) berjudul "Kiprah
K.H. Abdussyakur Walid Nurhalim di Kabupaten Kubu Raya" di
Pascasarjana IAIN Pontianak. Riset ini mengukuhkan bahwa perjuangan dakwah,
model kepemimpinan sosial, serta metode penyelesaian konflik yang dilakukan
almarhum diakui secara valid, ilmiah, dan presisi across-generasi.
Epilog: Memetik Barokah di Seperempat Abad Kepergian Sang
Guru
Hari ini, Minggu 30 Agustus 2026, seperempat abad (25
tahun) sudah K.H. Abdussyakur Walid Nurhalim meninggalkan kita semua. Jasad
beliau boleh berselimut tanah pedalaman Simpang Kanan, namun roh perjuangan,
ajaran akhlak, dan aliran barokahnya tetap hidup berdenyut di dalam nadi para alumni,
santri, dan masyarakat Kalimantan Barat.
Alfaqir, yang dahulu hanyalah seorang khodim dapur
berselimut jelaga dan pemijat punggung sepuhnya yang lelah, menjadi saksi nyata
bahwa barokah usapan tangan dan ilmu beliau mampu mengangkat derajat alfaqir
hingga menjadi seorang akademisi, dosen, serta praktisi hukum.
Tulisan ini alfaqir persembahkan sebagai bentuk khidmah yang
takkan pernah padam. Lahumul Fatihah...
Lahul Fatihah... K.H. Abdussyakur Walid Nurhalim.
Qomaruzzaman
adalah alumni Pondok Pesantren Darun
Nasyi'in Tahun 1995-2000, Khodim Dapur, Tukang Pijat Almarhum, Guru/Waka
Kurikulum MA Darun Nasyi'in, Dosen IAIN Pontianak & Universitas Terbuka,
Ketua PKBH Al-Jamiah IAIN Pontianak, Pengurus Wilayah PERGUNU Kalimantan Barat,
serta seorang Pengacara.
