Sabtu, 29 Agustus 2026

Biografi Alm. K.H. Abdussyakur Walid Nurhalim: Sang Singa Banyuanyar, Mujahid Pedalaman, dan Pembawa Pelita Ilmu di Bumi Kubu Raya

[Napak Tilas Seperempat Abad (25 Tahun) Wafatnya Sang Murobbi]

Oleh: Qomaruzzaman

Niat alfaqir menulis narasi biografi ini bukanlah sekadar menyusun angka-angka tahun formalitas atau rentetan catatan akademis yang dingin. Tulisan ini adalah bentuk takzim, curahan kerinduan, serta wujud khidmah alfaqir yang mendalam kepada guru mulia, almarhum K.H. Abdussyakur Walid Nurhalim.

Antara rentang tahun 1995 hingga 2000, alfaqir memperoleh anugerah yang tak ternilai harganya: menjadi santri di Pondok Pesantren Darun Nasyi'in. Di masa-masa keemasan itu, alfaqir melakoni tugas harian sebagai khodim dapur—menjalani hari-hari motong (noreh karet), alanduk nanam ubi/jahe, mencari kayu bakar untuk dapur, hingga memetik daun pisang untuk bungkus nasi jualan nasi. Tidak hanya itu, alfaqir kerap mendapat kehormatan yang sangat personal, yakni dipercaya menjadi tukang pijat pribadi almarhum Kyai saat tubuh sepuhnya dilanda kelelahan usai berdakwah menembus pelosok pedalaman.

Dari sentuhan jemari pada tubuh mulia yang dipenuhi pancaran karomah itulah, alfaqir mendengar, melihat, dan meresapi langsung getaran spiritual seorang waliyullah. Ada satu kenangan batin yang takkan pernah sirnah: almarhum senantiasa memanggil alfaqir dengan panggilan khusus "Qomar", tatkala santri lain dan masyarakat menyapa dengan nama "Zaman". Beliau mengartikan panggilan itu dengan doa mendalam: "Bulan Masa Kini".

Alfaqir dalam posisi saat ini—sebagai Guru dan Waka Kurikulum MA Darun Nasyi'in, Dosen IAIN Pontianak dan Universitas Terbuka, Pengacara, Ketua Pusat Konsultasi dan Bantuan Hukum (PKBH) Al-Jamiah IAIN Pontianak, serta Pengurus Wilayah PERGUNU Kalimantan Barat—alfaqir menyadari sepenuhnya bahwa seluruh capaian ini adalah pancaran karomah dan barokah dari usapan tangan serta doa-doa rahasia beliau.

Tepat menjelang peringatan Haul Akbar ke-25 almarhum yang diselenggarakan pada Minggu, 30 Agustus 2026, alfaqir merajut memori spiritual ini dengan memadukan pengalaman batiniah masa santri bersama data riset ilmiah-akademis yang tertuang dalam Tesis Magister Khusnul Khotimah (2022) dari Pascasarjana IAIN Pontianak.

 

Akar Nasab, Masa Muda, dan Rihlah Keilmuan Sang Mujahid

Almarhum K.H. Abdussyakur Walid Nurhalim dilahirkan sekitar tahun 1952 di Desa Ketapang, Jalan Masjid Keramat Daya 1, Kabupaten Sampang, Pulau Madura. Beliau tumbuh dari pasangan bersahaja, Kyai Nurhalim—seorang nelayan sekaligus guru ngaji dan da'i yang amat disegani—serta Nyai Munayah. Meski dibesarkan dalam kesederhanaan ekonomi, api keilmuan dalam dada Abdussyakur muda menyala begitu bergelora.

Sejak kecil, beliau dikenal memiliki kemauan keras dan tekad yang tajam. Suatu hari, karena dorongan kuat untuk menimba ilmu agama di pesantren sementara sarana sangat terbatas, Kyai Abdussyakur muda nekad menjual sarung Lamiri miliknya kepada seorang penjual pecel bernama Baturya demi mendapat ongkos jalan. Beliau kemudian menempuh pendidikan awal di bawah bimbingan kerabatnya, Kyai Mudheri, di Dusun Pandhiyengan, Desa Sumber Talor, Pamekasan.

Dahaga ilmunya membawa beliau melangkah lebih jauh menuju Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar, Pamekasan. Di bawah gemblengan langsung ulama legendaris Madura, RKH. Abdul Hamid Bakir, jiwa spiritual dan kapasitas intelektual beliau ditempa. Di Banyuanyar, K.H. Abdussyakur mendalami kitab-kitab klasik salaf hingga menguasai berbagai cabang ilmu syariat dan thariqat. Beliau juga sempat memperdalam keilmuan Nahwu-Shorof di Pondok Pesantren Sukorejo Situbondo serta mengaji di Kayu Manis, Jawa Timur.

Setelah mengarungi samudera keilmuan di tanah Jawa dan Madura, K.H. Abdussyakur melengkapi rihlah spiritualnya ke Tanah Suci Mekkah dan Madinah selama kurang lebih dua tahun. Di sana, beliau menimba ilmu langsung dari ulama-ulama besar dunia, di antaranya Syekh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dan Syekh Ismail Al-Pakistani. Dari tanah Hijaz inilah gelar haji bertambah menjadi K.H. Abdus Syakur Sulthan Walid Nurhalim.

 

Hijrah Maknawi dan Merintis Pelita Pendidikan di Belantara Ambawang

Kehadiran K.H. Abdussyakur di Bumi Kalimantan Barat bermula dari tugas suci (misi da'i). Pada tahun 1970, RKH. Abdul Hamid Bakir menguji 20 santri pilihan yang dipersiapkan menjadi guru tugas. Dari seleksi ketat tersebut, K.H. Abdussyakur terpilih sebagai sosok yang paling siap, berani, dan tangguh untuk dikirim ke belantara Kalimantan Barat.

Langkah pertamanya mengabdi adalah menjadi guru tugas di Madrasah Raudhatul Ulum 6 di daerah Meru, Sungai Ambawang. Pada tahun 1974, beliau berpindah ke Dusun Sungai Rasau (Dusun Pelaik), Desa Simpang Kanan, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Wilayah ini kala itu masih terisolasi, didominasi hutan gambut, dan dipenuhi oleh pekatnya pekat kemaksiatan seperti perjudian, sabung ayam, hingga kriminalitas.

Di tempat inilah beliau menemukan tambatan hatinya, Nyai Rohela, putri dari Bapak Satuki dan Ibu Safinah. Dengan penuh kesabaran, beliau membimbing bapak mertuanya yang semula gemar berjudi hingga bertobat total dan menjadi pengikut setia ajaran Islam.

Usai mengarungi bimbingan di Tanah Suci Mekkah pascanikah, K.H. Abdussyakur kembali ke Simpang Kanan atas dorongan Penanggung Jawab Guru Tugas (PJGT). Pada tahun 1977, beliau meletakkan batu pertama pendirian Pondok Pesantren Darun Nasyi'in. Berawal dari sebuah mushalla panggung kayu sederhana berukuran 3 x 6 meter beratap daun rumbia dan berdinding kulit kayu—yang sekaligus menjadi tempat tinggal beliau bersama sang istri—pesantren ini perlahan tumbuh.

Atas kemurahhatian warga dan mertua beliau yang mewakafkan tanah awal seluas 15.000 m2, kompleks pesantren terus meluas hingga kini mencapai puluhan hektar. Visi pendidikan beliau sangat tegas: memadukan penguatan akidah-akhlak berbasis kitab salaf dengan pembinaan pengetahuan formal demi mencetak generasi dzurriyatan thoyyibah.

 

Waliyullah dan Samudra Karomah: Dari Hizb Asma Thir hingga Mata Batin Kasyf

Bagi alfaqir yang bertahun-tahun memijat tubuh beliau yang lelah usai berdakwah, karomah K.H. Abdussyakur bukanlah rekaan. Kesaktian dan karomah beliau bersumber murni dari kejernihan jiwa (tashfiyatul qulub) serta ketakwaan tingkat tinggi.

Beberapa kesaksian karomah dan keajaiban spiritual almarhum yang valid antara lain:

  1. Ketajaman Mata Batin (Kasyf): Beliau sering kali membaca lintasan batin para santrinya. Alfaqir kerap merasakannya sendiri sewaktu memijat punggung beliau; tanpa alfaqir ucapkan sepatah kata pun, beliau tiba-tiba memberikan nasihat khusus yang menjawab tuntas masalah pribadi yang sedang alfaqir sembunyikan dalam hati.
  2. Ijazah Keselamatan dan Hizb Asma Thir (Konflik 1997): Saat gelombang kerusuhan sosial tahun 1997 meluap, masyarakat dari berbagai pelosok daerah datang berduyun-duyun memadati pesantren untuk berlindung dan memohon keselamatan. Beliau menijazahkan beberapa ilmu perlindungan tingkat tinggi, di antaranya Hizb Asma Thir, yang menjadi Wasilah pemagaran diri dan keselamatan ribuan warga dari amuk massa.
  3. Doa Sari'ul Ijabah (Air Penyembuhan): Air suci yang didoakan dari jemari beliau menjadi wasilah kesembuhan bagi banyak warga pedalaman yang menderita penyakit medis maupun non-medis, khususnya tatkala dokter medis telah menyatakan tidak sanggup lagi.
  4. Ketahanan Fisik dan Keajaiban di Belantara: Ketika berdakwah menembus hutan rimba Ambawang yang masih rawan binatang buas dan perampok, kendaraan beliau pernah kehabisan bahan bakar di tengah hutan pekat, namun keajaiban terjadi—kendaraan tersebut tetap berjalan normal hingga sampai ke pemukiman. Binatang buas termasuk ular berbisa yang berpapasan di jalan hutan justru tertunduk dan menepi, seolah memberikan penghormatan pada sang waliyullah.

 

Sang Singa Pembawa Damai: Miracle Lidi dan Diplomat Rekonsiliasi Etnis 1997

Kiprah puncak K.H. Abdussyakur yang dicatat emas dalam sejarah Kalimantan Barat adalah perannya sebagai juru damai saat konflik antaretnis pecah pada awal tahun 1997. Sungai Ambawang kala itu berada dalam titik didih yang amat mencekam karena menjadi jalur perlintasan utama massa.

Pada 23 Februari 1997, situasi memuncak. Danramil Sungai Ambawang kala itu, Pak Jaya Mardani, menemui K.H. Abdussyakur untuk memohon bantuan memecahkan kebuntuan keamanan. Dengan keberanian luar biasa dan tanpa rasa gentar sedikit pun, K.H. Abdussyakur melangkah pergi menemui perkemahan Panglima Perang Dayak.

Dalam perundingan mencekam tersebut, Panglima Perang menegaskan dengan nada keras: "Nyawa harus dibayar dengan nyawa!"

K.H. Abdussyakur dengan tenang mengambil sebatang lidi, lalu menancapkannya ke dalam tanah. Beliau berkata dengan nada berwibawa:

"Jika kalian mampu mencabut sebatang lidi ini, silakan kalian bantai dan bunuh seluruh warga Madura. Namun jika kalian tidak mampu mencabutnya, penuhilah ajakan damai demi kemanusiaan."

Panglima Dayak menyeringai dan menganggap hal itu sangat mudah. Namun, saat beliau berusaha mencabut lidi tersebut, lidi itu tak bergeming sedikit pun seolah menyatu dengan inti bumi. Panglima memanggil anak buahnya untuk membantu, namun gabungan kekuatan pasukan perang tetap gagal mencabut sebatang lidi kecil tersebut. Danramil yang menyaksikan peristiwa tersebut gemetar dan terperangah.

Menyaksikan karomah spiritual yang nyata di depan matanya, melunaknya hati sang Panglima Perang. Beliau berkata takzim: "Baiklah Kyai, karena Anda datang membawa perdamaian dan kerendahan hati, saya berjanji pasukan saya tidak akan menyentuh warga Madura."

Kejadian ini ditindaklanjuti dengan Musyawarah Rekonsiliasi Akbar pada 5 Maret 1997 di kompleks Pondok Pesantren Darun Nasyi'in bersama tokoh adat, Danramil, dan Kapolres. Atas jasa besarnya mencegah pertumpahan darah yang lebih luas, K.H. Abdussyakur menerima Piagam Penghargaan Resmi dari Gubernur Kalimantan Barat serta Sertifikat Penghargaan dari Panitia Rapat Koordinasi Madura (RAKORMA) Kalbar.

 

Warisan Kelembagaan, Dzurriyah, dan Pengakuan Akademis

Pada hari Rabu, 13 Rabiul Awal 1422 H / 6 Juni 2001 pukul 02.00 WIB, K.H. Abdussyakur Walid Nurhalim menghadap sang kekasihnya di usia 49 tahun di RSUD Soedarso Pontianak usai berdakwah di Kampung Singsang. Beliau berpulang dalam keadaan suci memiliki wudhu, usai mendirikan shalat Isya.

Beliau meninggalkan warisan peradaban yang sangat kukuh. Istri tercinta beliau, Nyai Rohela, saat ini dalam keadaan uzur dan sakit (marilah kita panjatkan doa keharibaan Allah SWT agar beliau senantiasa diberikan kesembuhan, kekuatan, dan ketabahan).

Perjuangan beliau dilanjutkan oleh dzurriyah (putra-putri) beliau yang menjadi pelopor pendidik dan pengasuh pesantren:

  1. Nyai Nurqudsiyah Walid (Mendirikan dan Mengasuh PP Al-Hamidiyah, Sungai Ambawang).
  2. Nyai Umi Kalsum (Mendirikan dan Mengasuh PP Raudhatul Firdaus, Kampung Jawa, Sungai Ambawang).
  3. Kyai Ahmad Nauval Walid (Pengasuh Utama Pondok Pesantren Darun Nasyi'in saat ini).
  4. Kyai Ainun Najib (Ketua Yayasan Al-Ikhsan Pondok Pesantren Darun Nasyi'in).
  5. Nyai Khumairah Walid (Nyai Mir) beserta segenap putra-putri lainnya.

 

Kini, Yayasan Al-Ikhsan Darun Nasyi'in tumbuh pesat mengelola jenjang pendidikan komprehensif:

  • Kelompok Bermain (KB) & Raudhatul Athfal (RA) Darun Nasyi'in
  • Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darun Nasyi'in
  • Madrasah Tsanawiyah (MTs) Darun Nasyi'in
  • Madrasah Aliyah (MA) Darun Nasyi'in
  • SMK KH Abdus Syakur Nurhalim (Lembaga kejuruan yang menyematkan nama mulia beliau)

Kiprah emas beliau diabadikan secara ilmiah dalam Tesis Magister yang ditulis oleh seorang alumni Khusnul Khotimah (2022) berjudul "Kiprah K.H. Abdussyakur Walid Nurhalim di Kabupaten Kubu Raya" di Pascasarjana IAIN Pontianak. Riset ini mengukuhkan bahwa perjuangan dakwah, model kepemimpinan sosial, serta metode penyelesaian konflik yang dilakukan almarhum diakui secara valid, ilmiah, dan presisi across-generasi.

 

Epilog: Memetik Barokah di Seperempat Abad Kepergian Sang Guru

Hari ini, Minggu 30 Agustus 2026, seperempat abad (25 tahun) sudah K.H. Abdussyakur Walid Nurhalim meninggalkan kita semua. Jasad beliau boleh berselimut tanah pedalaman Simpang Kanan, namun roh perjuangan, ajaran akhlak, dan aliran barokahnya tetap hidup berdenyut di dalam nadi para alumni, santri, dan masyarakat Kalimantan Barat.

Alfaqir, yang dahulu hanyalah seorang khodim dapur berselimut jelaga dan pemijat punggung sepuhnya yang lelah, menjadi saksi nyata bahwa barokah usapan tangan dan ilmu beliau mampu mengangkat derajat alfaqir hingga menjadi seorang akademisi, dosen, serta praktisi hukum.

Tulisan ini alfaqir persembahkan sebagai bentuk khidmah yang takkan pernah padam. Lahumul Fatihah...

Lahul Fatihah... K.H. Abdussyakur Walid Nurhalim.

Qomaruzzaman
 adalah
alumni Pondok Pesantren Darun Nasyi'in Tahun 1995-2000, Khodim Dapur, Tukang Pijat Almarhum, Guru/Waka Kurikulum MA Darun Nasyi'in, Dosen IAIN Pontianak & Universitas Terbuka, Ketua PKBH Al-Jamiah IAIN Pontianak, Pengurus Wilayah PERGUNU Kalimantan Barat, serta seorang Pengacara.




 

 
Copyright 2010 "Banyak Baca Jadi Tau, Jarang Baca Kurang Tau, Tidak Baca Jadi Sok Tau". All rights reserved.
Themes by Bonard Alfin Blogger Templates - PlayStation Vita - Studio Rekaman - Software Rekaman