Teman-teman sekalian. Sore ini saya
bersyukur bisa hadir. Terimakasih atas undangannya. Kalau tidak diundang, saya
tidak tahu ada sebuah sentra penelitian dan thing-thangyang baru,
namanya Rumah Kitab. Dan saya kira keberadaan lembaga ini penting. Untuk kali
ini saya diminta menjelaskan tentang peta, dalam hal ini dua peta, yaitu peta
pemikiran dan peta gerakan radikalisme Islam di Indonesia. Menjelaskan peta gerakannya
saja butuh waktu lama, apalagi ditambah dengan peta pemikiran. Ini adalah tahap
pertama untuk mengobservasi akar-akar gerakan radikalisme Islam di Indonesia.
Saya akan memulai menjelaskan
gerakannya dulu, bukan pemikirannya. Setelah peta gerakannya sudah jelas
(klir), kita akan mudah mencerna kira-kira pemikiran masing-masing kelompok
sebagai apa. Tentu disini akan terjadi generalisasi dan simplifikasi yang tidak
bisa dihindari.
Pertama, kita akan melihat ciri Islam
radikal yang berciri Wahabis-Salafi. Karena ada jaringan Islam radikal yang
non-Wahabis dan non-Salafis. Kita mulai dari jenis yang pertama dulu, jenis
Islam radikal Wahabis-jihadis. Istilah ini baru muncul kira-kira pertengahan
tahun 90-an. Dengan munculnya kelompok-kelompok mujahidin, mereka mengadakan
perlawanan ke Sovyet di Afganistan. Wahabi Jihadis adalah istilah yang
digunakan dalam menjelaskan Islam Politik. Golongan ini mendambakan pemikiran
yang dengan kembalinya ajaran Islam yang paling murni. Dengan kata lain,
semangat Wahabi adalah semangat purifikasi, semangat tasfiyyah (pemurnian),
totaliter. Jadi isunya adalah menolak tarekat, menolak praktik-praktik sufi,
dll. Mereka hendak memerangi penyakit TBC, bukan penyakit bengek atau yang
lainnya. Mereka mengartikan TBC sebagai singkatan dari Tahayyul, Bid’ah dan
Churafat. Mereka merindukan Islam pada zaman Nabi. Nah kalau merujuk pada
sumber ajaran, bagi mereka, harus merujuk pada sumber asli, yaitu al-Quran dan
Sunnah. Jadi mereka emoh mebahas dan menganalisa Islam, kitab kuning disingkirkan,
dan ijtihad imam madzhab juga dibuang. Harus kembali ke al-Quran dan Sunnah
artinya meninggalkan ulama salaf, ulama abad pertengahan. Mereka menolak
bermadzhab. Karena apa? Karena bermadzhab bagi mereka akan mengakibatkan taklid
buda, menutup pintu ijtihad dan memandekkan berfikir.
Kemudian hal ini mengakibatkan
munculnya pemahaman kegamaan yang harakiyyah (pergerakan) yang bersifat
literalis. Karena tidak mau menerima budaya lokal, tidak mau dengan
gagasan-gagasan dari luar—apalagi dari Barat. Jadi mereka menolak masuknya
pemikiran-pemikiran lokal yang mengakibatkan terjadinya TBC. Atau pun menolak
gagasan-gagasan dari luar, karena akan mengakibatkan apa yang disebut dengan
gagasan-gagasan yang melenceng atau melencengnya pemikiran. Jadi salafi dan
wahabi memiliki ciri yang sama, yaitu kekakuan dalam beragama, menunggalkan
kebenaran atau klaim kebenaran, tidak bisa menerima terhadap tafsir keagamaan
pihak lain dengan mudah melontarkan klaim sebagai tindakan bid’ah dan khurafat.
Sehingga menurut mereka bahwa Islam yang benar itu adalah Islam yang sesuai
dengan al-Quran dan Hadits ala mereka. Mereka tidak bisa menerima bahwa
kebenarnya al-Quran itu interpretable (multi-tafsir). Mereka meyakini kebenaran
al-Quran dalam arti harfiyahnya, dan jika ada yang tidak jelas maka tidak boleh
ditakwili. Inilah yang mengakibatkan intoleransi, dan ini adalah unsur Wahabis.
Lalu, unsur jihadisnya apa? Unsur
jihadisnya adalah semangat dalam membela agama dengan menggunakan cara-cara
kekerasan. Mengartikan jihad semata-mata sebagai jihat qatl (peperangan). Tidak
ada jihad dalam arti jihad an-nafs (memerangi hawa nafsu), tidak ada jihad
dalam arti berdakwah, jihad dengan mencukupi kebutuhan keluarga, yang dianggap
oleh kalangan Non-Wahabis sebagai arti jihad dengan melihat dalam hadits-hadits
Nabi juga. Akan tetapi menurut mereka, kalangan Wahabis-Jihadis, jihad yang
lain itu tidak penting, dan jihad yang sesungguhnya adalah jihad qatl
(berperang).
Jihad qatl yang mereka yakini tidak
diletakkan dalam aturan fikih. Kita tahu jihad qatl dalam fikih kan ada
aturannya. Contoh saja, bahwa di fikih ada syarat-syarat jihad qatl, yaitu ada
syarat waku, syarat tempat dan syarat obyek. Syarat obyek qital (berperang)
adalah orang kafir yang memerangi kita, kaum muslimin; kafir yang mendahului
memerangi kita. Itu syarat obyek. Kalau mereka tidak menyerang, maka kita tidak
boleh menyerang.
Lalu siapa yang diperangi? Yang
diperangi adalah yang militer. Sedangkan yang SIPIL tidak boleh diperangi.
Anak-anak, perempuan dan orang tua tidak boleh diperangi. Itu adalah
konsekwensi dari ketentuan bahwa yang tidak menyerang, maka tidak boleh
diserang. Yang tidak ikut berperang, maka tidak boleh diperangi. Atau pihak
yang menyerah atau melakukan perdamaian juga sudah tidak boleh diperangi lagi.
Kemudian yang kedua, apa yang disebut
sebagai jihad gelobal. Kalau dalam aturan fikih itu kan ada masafah
al-safar-nya itu terdapat musuh Belanda dalam resolusi Jihadnya Embah Hasyim,
maka dialah yang fardlu ‘ain dan yang lain tidak wajib. Yang fardlu ‘ain
berperang adalah orang yang tinggal di daerah yang jaraknya masafatul qashri
ada musuh yang memerangi. Sedangkan yang lain tidak wajib ‘ain, cuman fardlu
kifayah. Jadi musuh yang ada di daerah masafah al-safar itulah yang boleh
diperangi. Sedangkan kafir yang berada di luar itu (baca; masafah al-safar) itu
tidak boleh diperangi. Jadi ada ketentuan tentang area.
Juga persoalan waktu. Jika musuh sudah
menyerah atau melakukan perdamaian, maka tidak seterusnya sampai hari Kiamat
dianggap musuh. Jadi jihad menurut Islam salafi-tradisional adalah jihad yang
terkendali, sebuah jihad yang tunduk pada aturan yang ketat. Tapi kalau
kelompok Wahabi-Jihadis ini tidak demikian. Karena pertama, Sayyid Qutb sebagai
ideolog itu dia mengatakan bahwa Surah al-Taubah yang menyatakan bahwa
“bunuhlah orang kafir dimanapun engkau temui”. Jadi ayat perintah perang tanpa
syarat itu menghapus perintah perang tapi ada syaratnya. Ayat-ayat devensip,
yang berisi perintah perang jika diusir dari daerahnya sendiri atau diperangi,
dinasah oleh ayat perintah perang yang tanpa syarat tersebut. Ulama lain tidak
ada yang berpendapat bahwa perang mutlak menaskh (menghapus) perang yang
bersyarat itu.
Kemudian ada interpretasi yang beda.
Kalau ada saudara kita, sesama muslim di mana pun berada, sedang diperangi atau
berperang atau yang membantu musuh yang memerangi, maka harus dibunuh siapa pun
dia. Nah ini yang mengakibatkan jihad gelobal atau jihad semesta itu. Jadi
orang kafir dimana pun dan kapan pun harus diperangi dan harus dibunuh.
Kedua, menurut mereka bahwa teror itu
boleh. Meneror itu boleh.
Kemudian yang ketiga, umat Islam wajib
bergabung dalam perang semesta ini. Yang wajib diperangi bukan hanya
orang-orang kafir, akan tetapi juga pemerintah yang tidak menggunakan hukum
Allah yang sesuai dengan al-Quran dan Sunnah, bahkan halal darahnya.
Bahkan Sayyid Qutb dilanjutkan oleh
Abdullah ‘Azam mengatakan bahwa memerangi dan membunuh musuh yang dekat itu
lebih afdlal daripada membunuh musuh yang jauh. Jadi membunuh pemerintahan yang
muslim di negeri sendiri yang tidak menegakkan syariat Islam itu lebih
diutamakan daripada berperang dengan Amerika. Sampai seperti itu pemahaman
kalangan Wahabis-Jihadis. Dan ini adalah tingkat yang paling nyata dan yang
paling tinggi dari yang namanya radikalisme agama dalam koteks Islam. Dalam
konteks yang lain (baca; agama lain) yang sejenis ini banyak. Karena tradisi
radikalisme dan terorisme juga hidup di agama-agama lain.
Nah di Indonesia, yang menggunakan
pemahaman Wahabisme plus Jihadis itu adalah Jamaah Islamiyah (JI). Ini yang
paling tinggi rekornya, karena radikalismenya ‘aqaidliyyah, fikriyyah dan
‘amaliyyah sekaligus. Jadi mereka sudah mempraktikkan kekerasan terhadap pihak
yang dianggap sebagai musuh Islam. Mula-mula ngebom Gereja. Lama-lama ngebom
pasar, yang kena ada yang non-Muslim dan yang Muslim juga kena. Lama-lama
ngebom Masjid, dan yang kena Muslim saja. Jadi ini berkaitan dengan doktrin
yang tadi disebutkan bahwa “musuh yang dekat lebih diutamakan daripada musuh
yang jauh”. Karena susah ngebom dan membunuh Obama, atau Hilari Clinton, ya
sudah polisi yang ada di Cirebon disikat saja.
Kenapa Cirebon tumbuh subur gerakan
radikalisme Islam? Karena sejarahnya panjang juga. Akarnya dari gerakan DITII.
Maka itu perlu diteliti juga yah. Coba bisa tidak kita mengkaitkan antara
pudarnya pengaruh dan kharisma para kyai seiring dengan maraknya gerakan
radikalisme Islam di Cirebon? Misalnya kita bandingkan antara situasi pra dan
pasca wafatnya kyai-kyai di Cirebon.
MMI (Majlis Mujahidin Indonesia) adalah
pendukung utama JI (Jamaah Islamiyah). Karena pecah, akhirnya muncul lagi JAT
(Jamaah Anshar al-Tauhid). Aktor-aktornya sama, hanya mengalami perpecahan
saja. Tapi, meskipun mereka terjadi perpecahan, mereka tetap saling
tolong-menolong (ta’awanu) juga.
Kelumpok kedua,
Wahabis-Islamis-Inkonstitusional. Wahabis kita sudah tahu semua, sama dengan
penjelasan di atas ciri-cirinya. Dan Islamis adalah kata yang saya pinjam dari
Oliver Roya menggunakan kata ini (Islamis) untuk menyebut kelompok Islam yang
menjadikan Islam sebagai ideologi. Dengan kata lain, kelompok yang memiliki
cita-cita menegakkan negara Islam sebagai inti dari gerakan mereka. Sedangkan
inkostitusional adalah karena mereka tidak mengalami atau melakukan kekerasan
dan anarkisme, akan tetapi tidak melalui peraturan resmi pemerintah. Seperti
Hizbu Tahrir, meski pun namanya Hizb itu artinya Partai. Hizbu Tahrir Indonesia
itu artinya Partai Pembebasan Indonesia. Tapi dia tidak ikut daftar sebagai
anggota pemilu. Dia hanya mendaftarkan diri sebagai organisasi sosial. Akan
tetapi dia menyerukan pembangkangan terhadap nation-state (negara bangsa),
menyerukan pembangkangan terhadap Pancasila, menyerukan pembangkangan terhadap
negara ini, mengkafirkan demokrasi dan anak-anaknya. Anak-anaknya demokrasi
yaitu pemilu, legislatif, parlemen, pemerintah, dianggap tidak benar sumua dan
kafir semua. Oleh karena itu mereka tidak mau masuk kesitu.
Kelompok berikutnya yaitu
Wahabis-Islamis-konstitusional. Mereka masuk ke dalam proses-proses politik.
Termasuk ke dalam kelompok ini yaitu Ikhwan al-Muslimin, Dakwah Tarbiyyah.
Dakwah Tarbiyah berubah menjadi Partai Keadilan (PK). Dan Partai Keadilan
berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Usroh adalah salah satu
sel-selnya. Mereka ikut dalam proses pemilu. Kalau ada kesempatan, mereka
menyeruhkan diterapkannya syariat Islam dan menyeruhkan dikembalikannya tujuh
kata dalam Piagam Jakarta. PKS adalah yang paling awal sekali mengumpulkan
kelompok-kelompok Islam garis keras. Meskipun dia lari paling duluan.
Kelompok selanjutnya adalah Wahabi
fundamentalis atau Wahabi murni. Wahabi yang disebut sebagai yang non-politis.
Wahabi yang memaksudkan gerakannya semata-mata demi berdakwah. Berorganisasi
malah dianggap bid’ah. Apalagi berbicara tentang isu-isu kenegaraan dianggap
sangat bid’ah. Karena kalau politik dan berbicara tentang negara tidak
dibid’ahkan maka Raja Arab Saudi itu bisa dikudeta oleh rakyatnya. Oleh karena
itu, Wahabi tidak memperbolehkan bermain-main dengan politik, demi
menyelamatkan kerajaannya. Jadi ini merupakan proses de-politisasi, sampai
mengalir sampai jauh, sampai ke Indonesia.
Ada salah satu faksi yang melenceng
dari Wahabi fundamentalis, yaitu Ustadz Ja’far Umar Tholib. Ketika dia
membentuk Laskar Jihad dan ikut perang di Ambon. Setelah balik dari Ambon, dia
langsung diadili oleh kelompoknya. Karena pertama dia sudah mebuat bid’ah
beruapa membentuk organisasi. Kedua, dia melakukan bid’ah karena dia terlibat
dalam urusan negara. Akhirnya dia dipecar dari kalangan Wahabi. Para
pengikutnya pada lari semua. Karena jatah bantuan dari Arab Saudi, Kuwai dan
dari mana-mana diputus semua. Dan mereka kan punya kebutuhan, akhirnya mereka
pindah ke kelompok yang dapat memenuhi kebutuhannya. Mereka saling mencari
sendiri-sendiri ke kelompok yang berbeda-beda.
Kemudian ada jaringan Islam radikal
yang non-Wahabis. Ini Islam radikal yang versi tradisional. Islam Jihadis dari
kalangan Darul Islam (DI) yang non-Abu Bakar Baasyir (ABB) dan Abdullah Sungkar
(AS).
Kelompok “Islamis”—aku agak ragu juga
menyematkan istilah Islamis di sini karena di FPI ada perbedaan-perbedaan juga
di dalamnya. Tapi semua organisasi yang bergabung di dalam naungan FPI
mensetujui kekerasan dalam bentuk swipping, penyerangan, pembunuhan dan lain
sebagainya. Tapi sebetulnya Islamis ini ada dua kelompok, sebagian adalah NII
(Negara Islam Indonesia) yang tidak bisa menerima NKRI dan sebagian hanya militan
saja tapi masih bisa menerima NKRI. Tapi mereka semua menginginkan formalisasi
syariah. Negara Republik Indonesia oke, asalah hukum syariat dijadikan sebagai
performa. Itulah FPI—meskipun macam-macam gradasinya. Ini Islamis dengan tanda
petik yang mengamini kekerasan.
Kemudian kelompok
Islamis-konstitusional. Ini seperti PBB dan sebagian PPP, karena sebagian PPP
yang lain masih mencita-citakan Negara Islam—meskipun tidak terlampau ngotot
mungkin karena dapat jatah Mentri. PKS juga dulunya begitu. Akan tetapi setelah
melihat tidak memungkinkan dan tidak menguntungkan akhirnya lari dari cita-cita
awalnya yaitu Negara Islam. PPP masih banyak yang menginginkan mendirikan
Negara Islam, seperti PPP di Jawa Barat bagian Selatan. PPP yang dengan kultur
DI yang cukup kuat, hampir rata-rata mencita-citakan kebangkitan Negara Islam.
Yang paling jelas PPP Pesantrennya Manung Jaya, Pesantrennya Kyai Khayrul
Affandi. Putranya kan ada yang PPP. Semangat membangkitkan Negara Islam di sana
sangat kuat sekali. Selain itu ada banyak lagi di PPP.
Sekarang kita akan melihat bahwa
gerakan Islam radikal di Indonesia mempunyai induk semang. Ada dua induk
semang, kalau induk semang lokal adalah DI dan induk semang impor adalah
Ikhwanul Muslimin. Kita lihat di Ikhwanul Muslimin ada dua pendekatan. Yang
pertama, pendekatan moderat pada masa kepemimpinan Hasan al-Banna di
proses-prose awal. Kemudian Hasan al-Hudlaibin, Tilmisani, Muhammad Muhammad
Abu Na’im, Nashir Musthafa Masyhur, itu pemimpin-pemimpin mainstream Ikhwanul
Muslimin yang radikal-moderat, kira-kira Kanan-Tengah lah ya. Sayap kanan tapi
agak sedikit ke tengah. Kalau pemain bola itu kan ada yang jadi sayap yang
mainnya di pinggir terus, dan ada yang juga sedikit ke tengah. Nah ini sejenis
itu.Sedangkan ideologi yang sangat radikal di Ikhwanul Muslimin itu adalah yang
dikembangkan oleh Sayyid Qutb.
Kalau kita lihat sejarah perkembangan
awwalnya antara Ikhwanul Muslimin (IM) dengan NU (Nahdlatul Ulama). Ia
dilahirkan pada tahun yang hapir sama; NU 1926, dia 1928; di sini (indonesia)
sedang dijajah Belanda dan di sana (Mesir) sedang dijajah Inggris dan sedang
membela orang-orang Arab yang sedang diusir-usir oleh orang-orang Israel.
Berada dalam kondisi memperjuangkan bangsanya, negerinya, kira-kira begitu. NU
punya sayap Hizbullah Sabilillah, IM juga punya sayap namanya Tandzlim Sirry.
Sayap yang dipersenjatai (musallahah). Hizbullah Sabilillah isinya orang-orang
pesantren, lulusan-lulusan pesantren yang dipersenjatai untuk melawan Belanda.
Di sana juga sama, Tandzlim Sirry juga dipersenjatai untuk melawan Inggris dan
Israel.
Mungkin sama juga, ketika NU bergabung
dengan Partai Masyumi. Sebelum merdeka, laskar-laskar santri itu masih terus
berperang melawan Belanda. Maka Hizbullah Sabilillah menjadi sayapnya Partai
Masyumi, sebagai pasukan bersenjatanya Partai Masyumi. Setelah NU keluar dari
Masyumi, Hizbullah Sabilillah sudah terlanjur menjadi badannya Masyumi. Pasca
perceraian NU dan Masyumi, Hizbullah Sabilillah tidak bisa lagi kembali ke NU.
Akhirnya NU mendirikan BANSER. Tapi BANSER tidak dipersenjatai. Dan Hizbullah
Sabilillah sudah tidak lagi NU. Kemudian pada tahun 47-49, mereka dikumpulkan
oleh Karto Suwiryo dibikinlah DI. Itu konteks Indonesia.
Mari kita lihat IM. Sayap bersenjatanya
itu dipengaruhi dan mengikuti Sayyid Qutb di satu sisi. Dan di sisi yang lain
keluatan bersenjata IM selain perang melawan Israel, juga melawan rezim-rezim
penguasa di Mesir. Akhirnya kelompok ini sama seperti Hizbullah Sabilillah,
tidak menjadi pahlawan negara. Yang tadinya menjadi pembela negeri, menjadi
musuh negeri.
Di Indonesia berkembang menjadi
pergerakan-pergerakan Tarbiyyah, PK, PKS, KAHMI. Titik temunya apa? Memang kita
cukup bukti menemukan eviden (bukti) yang cukup kuat kalau PKS adalah anak
ideologisnya IM. Sama seperi IM, Tarbiyah adalah metode untuk membentuk kader
IM, dan itu dipake A sampai Z oleh PKS. Jadi metode pengkaderan dan doktrin IM
diadopsi persis oleh PKS. Mulai dari sistemnya, isinya, buku rujukannya semua
dari Ikhwan. Jangankan merujuk ke pemikirannya Embah Hasyim, Kyai Sahal, Gus
Dur, wong pemikirannya Muhammad Natsir saja tidak dirujuk. Selalu rujukannya
adalah ulama-ulama IM. Jadi bukunya itu plek IM.
Oleh karena itu, tidak heran kalau PKS
sangat-sangat peduli terhadap Palestina. Bukan kepada rakyat Palestinanya,
tetapi pada HAMAS yang sama-sama satu Ikhwan. Jadi kalau one man one dollar
(satu orang satu dollar) sumbangan dari anggota PKS yang dikirimkan ke
Palestina itu bukan untuk rakyat Palestina, tapi untuk HAMAS demi memenuhi
kebutuhan logistik mereka. Ini saling berhubungan antara SIZ, HAMAS, Partai
Keadilan Pembangunan, Partai Nahdlah, AKP, Partai yang sedang berkuasa, PAS
Malaysia dan PKS di Indonesia itu saling berhubungan satu dengan yang lainnya.
Pecahan-pecahan dari organisasi
bersenjata itu menjadi Organisasi Pembebasan Islam, Jama’atul Muslimin, dan
seterusnya. Dan di Internasionalnya menjelma menjadi Al-Qaidah, di situ ada
Ossama Bin Laden dan Ayman al-Dhlawahiri. Ayman al-Dhlawahiri adalah kader
Organisasi Pembebasan Islam. Mullah Umar, al-Zarqawi, Syekh Abdullah ‘Azam.
Dan di Indonesia ada Jamiyyah
Islamiyyah. Dan Jamiyyah Islamiyyah bubar, menjadi Tandlim Serambi Mekkah,
Angkatan Mujahiddin Nusantara (AMIN). Bedanya apa antara AMIN (Angkatan
Mujahidin Nusantara) dengan JI yang dalam prosesnya bareng? Kemudian cerai di
jalan. Masing-masing mendirikan kelompok sendiri-sendiri. Sama-sama ngebomnya.
Jadi begini, pada tahun 1985 terjadi peristiwa apa yang disebut sebagai gerakan
Komado Jihad. Komando Jihad ini dikobarkan oleh para pengikut DI. Nah salah
satunya yang sangat kenceng menyuarakan adalah Abdullah Sungkar dan Abu Bakar
Baasyir. Mereka dua orang ini direkrut oleh Haji Ismail Pran, pang lima dari
Karto Suwiryo yang terakhir menyerah. Mereka berdua semula Al-Irsyad, direkrut
oleh DI akhirnya Al-Irsyad yang DI. Kemudian ada satu orang lagi namanya
Ajengan Masduki. Ajengan Masduki itu kyai kampung dan hafal al-Quran. Memang
dia anak buahnya Karto Suwiryo sejak awal.
Ketiga orang itu, Abdullah Sungkar, Abu
Bakar Baasyir dan Ajengan Masduki merekrut para pengikut untuk dilatih
kemiliteran di perbatasan Pakistan dan Afganistan. Abu Bakar Baasyir dan
Abdullah Sungkar merekrut santri-santri dari pesantren Ngeruki, kira-kira
250-an orang. Sementara dari Ajengan Masduki merekrut santri-santri yang Qunut,
jadi DI yang Qunut, sekitar merekrut 150-an orang. Gabung belajar bareng di
sana (perbatasan Pakistan dan Afganistan). Itu pada tahun 1985-an. Sampai
sekitar 13 atau 17 angkatan. Tapi secara keseluruhan sekitar ada 400-an para
calon tentara. Mereka tidak direkrut perang di Afganistan. Ada yang
diberangkatkan perang itu dikirim oleh GPI (Gerakan Pemuda Islam) yang
kantornya dekat dengan kantor Muhammadiyyah. Justru mereka itu yang
diberangkatkan dan bergabung dengan font yang berperang di Afganistan. Akan
tetapi jangan dibayangkan mereka turut berperang di garis terdepan dengan
mengangkat senjata. Ini saya dapat cerita dari salah satu alumninya, dia
bercerita bahwa mereka itu kebannyakan dipekerjakan di bagian logistik; masak,
menyiapkan senjata, membersihkan senjata, dan lain sebagainya yang berkaitan
dengan logistik. Karena pertama, fisiknya pendek. Kedua, tidak tahan dengan
keganasan alam di sana. Meski mereka diajari menggunakan persenjataan untuk
sekedar pembelaan diri, dan tidak maju ke medan perang. Jadi yang dibawa oleh
Abu Bakar Baasyir dan Abdullah Sungkar itu hanya bekal latihan militer, seperti
habis keluar dari AKMI, Angkatan Militer yang ada di Magelang, kira-kira bagitu.
Singkat cerita, pada tahun 1996-an
terjadi clash di antara mereka. Abdullah Sungkar wafat. Kendali dibawah Abu
Bakar Baasyir. Kelompok Abu Bakar Baasyir slek atau clash dengan kelompok
Ajengan Masduki. Karena pertama, kelompok Ajengan Masduki sering dihina dan
direndahkan karena Bid’ah dan churafatnya itu. Kedua, soal transparansi
anggaran, soal keuangan. Ketiga, kelompoknya Abu Bakar Baasyir sudah berkenalan
dengan Moro, dengan Tailand Selatan, tidak ingin pulang ke Indonesia. Mereka
ingin mendirikan Daulah Islamiyyah se-Asia Tenggara. Sementara Ajengan Masduki
merasa bahwa mereka dikirim ke sini atas biaya DI, karena mereka itu kan agar
mendirikan Negara Islam di Indonesia, melanjutkan perjuangan Karto Suwiryo,
tidak di tempat lain. Abu Bakar Baasyir mengatakan “saya sudah tidak lagi DI”.
Akhirnya dia memunculkan Jamaah Islamiyyah (JI) itu. Sementara pengikutnya
Ajengan Masduki pulang ke Indonesia, dan mendirikan AMIN (Angkatan Mujahiddin
Nusantara). Mereka itu yang ngebom BCA, ngebom Istiqlal, dan termasuk membacok
Pak Matori Abdul Jalil.
Sedangkan JI sebagian ada yang pulang
ke Indonesia, ikut terlibat perang di Ambon dan di Poso. Sebagian lagi ada yang
ada di Moro dan di Tailand Selatan. Pasca Reformasi, Abu Bakar Baasyir pulang
lagi ke Indonesia, karena merasa aman. Sebab pada tahun 85-an itu kan rezim
Soeharto, jadi dia takut ke Indonesia. Dan dia mendirikan Majlis Mujahiddin dan
memperbesar pesantren Ngeruki-nya itu. Dia mengembangkan Majlis Mujahiddin
sehingga ada pengurus-pengurus wilayahnya. Jadi dia bermain di dua kaki, di
satu sisi dia mengembangkan Majlis Mujahiddin dan di sisi lain dia mengadakan
hubungan dan komunikasi dan menerima bantuan JI. Memang beberapa kali sidang
dia lolos. Tapi sidang terakhir, membuktikan dengan sebukti-buktinya bahwa dia
terlibat. Dia memang terlibat. Dan pengakuan dari muridnya Abu Bakar Baasyir
yang “tobat”, itu menjelaskan peran Abu Bakar Baasyir dalam pembentukan JI dan
keterlibatannya dalam pengeboman-pengeboman itu. Kenapa dalam beberapa kali
sidang itu Abu Bakar Baasyir lolos terus, karena belum menemukan bukti-bukti
yang kuat dalam keterlibatannya itu, dan tokoh-tokoh Islam garis kanan
menganggap bahwa itu adalah konspirasi Amerika. Kembali ke konspirasi Amerika.
Setelah pelakunya mengakui bahwa “itu adalah kreasi kami”, akhirnya teori
konspirasi itu ternayat tidak benar. Ada anggapan itu adalah konspirasi Ameriak
lah, konspirasi BIN lah..itu tidak benar. Karena setelah ditemukan bukti dari
peristiwa bom dari Mujahiddin wilayah Serambi Mekkah dan pengeboman di
Pamulang, akhirnya dengan bukti itulah bahwa Abu Bakar Baasyir terlibat dalam
jaringan terorisme itu. Bahkan Hamza Haz nengokin, Amin Rais nengok ke penjara.
Tokoh-tokoh itu pada nengokin semua. Sehingga nilai jual politiknya dia itu
naik. Sehingga pada saat itu susah sekali.
Nah ini adalah ikatan antara Mujahiddin
dan Jamiyah Islamiyah. Terakhir kenapa muncul Jamaah Anshorut Tauhid (JAT).
Jadi pada kongkres Jamiyah Islamiyyah di Jogja itu, orang-orang pada meminta
dan mendesak Abu Bakar Baassyir mempertanggung jawabkan kepemimpinannya,
termasuk masalah keuangannya. Abu Bakar Baasyi tidak mau, dia bilang “Saya
hanya bertanggung jawab kepada Allah”. Akhirnya dia dipecat, dimakzulkan oleh
anak buahnya. Termasuk anak buah yang paling dekatnya, yaitu Irfan Awwas. JI
akhirnya dipimpin oleh Irfan Awwas. Dan Abu Bakar Baasyir keluar, akhirnya
mendirikan JAT itu; ideologinya jelas, gerakan dan keterlibatannya semakin
keras dalam kegiatan berbagai teror. Orang-orang JAT terlibat gerakan teror.
Hizbu Tahrir (HT) berpusat di Yordania,
di London, dan merayap ke Eropa. Di Indonesia ada kepemimpinan ganda; ada yang
namanya Hizbut Tahrir Indonesia yang dipegang oleh Ismail Yusanto dan Hizbu
Dakwah Indonesia dipegang oleh Muhammad al-Khatthat. Mereka ini, dua orang satu
guru satu ilmu. Sebenarnya dua orang ini seharusnya “kuwalat” dengan gurunya.
Ceritanya begini, sebetulnya guru yang mengajari mereka tentang Islam dan
ke-Hizbu Tahriran itu ada dua orang namanya Abdurrahman al-Baghdadi, orang
Lebanon pindah ke Australia, dia di Indonesia difasilitasi oleh namanya Habib
Abdullah Bogor, pesantren al-Ghozali. Beliau punya anak namanya Muhammad
Musthafa yang juga lulusan dari Yordania. Abdurrahman al-Baghdadi dan Muhammad
Musthafa ngajarin mahasiswa-mahasiswa ITB itu, termasuk muridnya itu adalah
Ismail Yusanto, Muhammad al-Khatthat, Adian Husaini, dan ada beberapa
tokoh-tokoh lain.
Nah pada awalnya sebenarnya Abdurrahman
dan M. Musthafa itu tidak setuju Hizbu Tahrir itu membuat organisasi dan
menyebarkan ke kalangan luas. Akan tetapi Ismail Yusanto dan Muhammad
al-Khatthath mendirikan organisasi dan menyebarkan ke kalangan yang lebih luas.
Sebenarnya nama asli dari Muhammad al-Khatthath adalah Gatot. Mereka itu
melawan gurunya. Dan gurunya, yaitu M. Musthafa ketemu langsung dengan saya,
beliau berkata bahwa saya tidak bertanggung jawab lagi dengan apa yang
dilakukan Hizbu Tahrir. Karena dia tidak setuju dengan apa yang menurut dia
membelot, dan dia sudah bukan orang Hizbu Tahrir lagi. Dia sudah bertaubat. Dan
kenapa saya mendapatkan informasi yang sangat sekret tentang Hizbu Tahrir?
Karena saya mendapatkannya dari Muhammad Musthafa, yang sudah tobat dan
sekarang menjadi murid Thareqat Naqsabandiyah-nya Kyai Wahab Hafidz. Dan Kyai
Wahab Wafidz itu guru saya. Dan sekarang pak Muhammad Musthafa menjadi kyai
pesantren al-Ghozali, dan sekarang dia menjadi anggota Suriyah NU Cabang Bogor.
Gurunya sudah kembali ke NU. Sedangkan muridnya masih ngotot musuhin NU.
Nah, antara Ismail Yusanto dan Muhammad
al-Khatthath ini seumpamanya di pagi hari ada dua Matahari kembar. Tidak saling
menyukai. Perseteruan itu memuncak sekitar 2-3 tahunan yang lalu. Muhammad
al-Khatthat dipecat dari HTI dan mendirikan HDI (Hizbu Dakwah Indonesia).
Kepemimpinan dan struktur HTI itu undergrown (bersifat rahasia di bawah tanah),
tidak boleh ada juru bicara. Tidak boleh ada ucapan mengikrarkan bahwa “saya
adalah Dewan Syuranya HTI. Karena kalau ada yang nongol, dan ada prahara
politik, dan semuanya ditangkan dan dipenjara. Semuanya habis. Saya dengar dari
Ismail Yusanto, dia bilang “kalau ada apa-apa paling yang ditangkap saya dan
Muhammad al-Khatthath”. Yang lain bagaimana? Dia jawab “aman. Karena kita tidak
mempunyai catatan.” Tapi semakin hari semakin banyak cabangnya, dan muncul di
permukaan. Jadi Hizbu Tahrir di Indonesia itu sudah keluar dari Pakem. Hizbu
Tahrir di mana pun, hatta dimana Hizbu Tahrir dilahirkan di Palestina—Palestina
pada waktu itu masih termasuk daerahnya Yordania, di Yordania sendiri Hizbu
Tahrir dilarang; di Arab Saudi dilarang; dimana-mana dilarang. Hanya di
Indonesia yang memperbolehkan. Cuman membuat struktur organisasi yang aneh
berbeda dengan Pakem-Pakemnya Hizbu Tahrir. Sebenarnya termasuk undergrown
organizatioun tapi sekarang sudah menjadi organisasi terbuka.
******
Dakwah-Dakwah Salafi sangat banyak
sekali. Yang pertama dakwah salafi politik namanya Salafiyyaun Sururiyyun.
Gagasan utamanya adalah bagaimana Wahabiyyah bisa digabung dengan Ikhwan.
Tokoh-tokohnya adalah Salman al-Auda, Safar al-Hawali, ‘Aidl al-Qarani, dll.
Kedua, salafiyyun al-Albaniyyun. Salafi
yang menganut seorang ahli hadits, yaitu Nasiruddin al-Albani. Ada satu cerita,
dia memberikan pengakuan di forum yang sangat besar sekali, yang seperti
biasanya menganggap hadits ini dlha’if, dla’if, dla’if. Terus ada peserta yang
bertanya “Syekh, Anda hafal berapa hadits?” Al-Albani menjawab “Tidak banyak
yang saya hafal”. Lima puluh? “Tidak sampe”. Dua puluh? “Tidak sampe”. Sepuluh?
“Sekitar itu”. Jadi ahli hadits yang halaf hadits cuma sepuluh hadits. Lalu ada
yang bilang, “O ya. Anda menyalah-nyalahkan para ahli hadits yang hafal ribuan
hadits. Apa landasan anda menyalahkan-nyalahkan?” Al-Banni menjawab “Saya tidak
harus hafal. Sekarang mencontek ke kitab saja bisa”. Sekarang kami tidak
percaya kalau Anda adalah seorang ahli hadits. Jadi sebenarnya tidak ahli-ahli
betul gitu. Di Mesir saja tidak terlalu dipercaya.
Ketiga, Salafiyyun Jamiyun (salafi yang
beringas). Sangat galak sekali. Tokohnya adalah Syekh Rabi’ al-Madkhali. Sering
menyerang ulama dan dai yang bertentangan dengan mereka. Di Indonesia ada
Hartono Ahmad Jaiz. Kalau anda lihat buku-bukunya Hartono, pasti isinya
menyalah-nyalahkan orang. Semua orang salah. Amin Rais, Cak Nur, apalagi Gus
Dur, semuanya disalahkan.
Keempat, Salafiyyun pengikut Syekh
Abdurrahman Abdul Khalik dari Kuwait.
Jadi sebenarnya, karena madzhab
Salafiyyun itu tidak boleh berorganisasi, tidak boleh tersetruktur. Jadi mereka
terpecah-pecah sesuai dengan dana bantuan dan sesuai dengan siapa syekh yang
menjadi rujukan. Karena syekh yang menjadi rujukan itu mengumpulkan dana dari
orang-orang kaya di Timur Tengah, di Arab, lalu digunakan untuk menyuplay
kepada para pengikutnya itu.
Kelima, Salafiyyun pengikut Syekh
Abdullah Bin Baz dan Syekh ‘Utsaimin di Saudi Arabiyah. Kalau yang lewat LIPIA
di Jakarta ini kebanyakan Abdurrahman Abdul Khalik, Usaimin, Bin Baz, itu
dibawah kontrol kerajaan Arab Saudi. Lewat Kedutaan Arab Saudi, lewat Ighatsah
Islamiyyah.
Di Indonesia, pertama, ada kelompok
Salafiyyun pengikut Abdul Hakim Abdad Yazid Jawwad-Abu Bakar Altway
(Jakarta-Bogor). Kelompok ini sekarang mengambil alih DDI. DDI dulu kan
dikuasai oleh Ex-Masyumi kan. Lama kelamaan DDI diambil alih oleh kelompok
Salafiyyun, dan kelompok yang berlatar belakang Masyumi itu tersingkir. Dia
juga mengembangkan Yayasan-Yayasan dan Radio-Radio. Mereka berkiblat ke Kuwait,
Syekh Al-Albani, dan Syekh Abdurrahman Abdul Khalik, juga ke Abdullah Bin Baz.
Karena Abdul Hakim Abdad itu sebenarnya dia bukan mahasiswa LIPIA begitu, tapi
setiap hari dia ada di Perpustakaan LIPIA, kenal dengan dosen-dosennya dan
dapat bantuan. Jadi berkiblat ke Arab Saudi juga.
Kemudian, kedua, kelompoknya Ainul
Harits, di Surabanya. Dia kakak kelas saya. Mereka berkiblat ke Kuwait, Syekh
al-Albani, Syekh Abdurrahman Abdul Khalik.
Ketiga, Abu Nida, Jogjakarta, yang
berkiblat ke Kuwait, Syekh al-Albani, Syekh Abdurrahman Abdul Khalik.
Keempat, Ja’far Umar Thalib dan Umar
al-Sewwed di Jogjakarta, yang berkiblat ke Arab Saudi, Syekh Abdullah Bin Baz
dan Syekh ‘Utsaimin. Ja’far Umar Thalib sudah dikeluarkan dari kalangan Dakwah
Salafi
Kelima, kelompoknya Yusuf Baisa dan
Faridl Okbah di Salatiga yang berkiblat ke Salafiyyun Sururiyyun.
Keenam, Majlis Tafsir al-Quran, Sukion,
yang berpusat di Solo. Ini kelompok baru. Meskipun kelompok ini tidak terkait
langsung dengan Dakwah Salafi, tetapi pikiran-pikirannya sama persis. Namanya
Sukion (namanya Jawa sekali. Mestinya dia minta ganti nama ke Gatot, bisa
diganti dari Sukion menjadi Syaikhuna,hehe. Gatot saja kan menjadi
al-Khatthat).
Sebenarnya di kalangan dakwah salafi,
di antara mereka sebenarnya rentan konflik. Karena bagi mereka itu kan
perbedaan sedikit saja bisa menjadi serius. Karena watak dari radikalisme dan
fundamentalisme itu kan yang sunnah menjadi wajib, yang mubah menjadi sunnah,
dan yang wajib menjadi ushul. Jadi mereka mudah sekali menganggap orang lain
melenceng; mudah sekali mengkafirkan orang lain. Karena yang furu’ menjadi
ushul, dan yang dosa besar menjadi kekafiran. Kembali lagi ke perdebatan kalam
tentang orang yang berdosa besar apakah bisa masuk sorga, atau masuk neraka
atau tanzilu bayna manzilatayn (tempat di antara surga dan neraka). Nah kalau
Khawariz kan berkeyakinan orang yang dosa besar adalah kafir dan masuk neraka.
Kira-kira mereka itu berdekatan keyakinan dengan Khawariz.
******
Masalah transmisi, saya punya teori
Ummu ar-Radla’ah. Jadi 1). Hizbu Tahrir punya ibu-bapak sendiri namanya Hizbu
Tahrir di sana kan (Arab). 2). PKS punya ibu-bapak sendiri namanya Ikwanul Muslimin
(IM). 3). Dakwah Salafi punya ibu-bapak sendiri namanya ya imam-imam Wahabi itu
seperti Syekh Utsaimin, Abdullah Bin Baz, dan lain sebagainya itu. Tetapi
setelah di Indonesia, penyebarannya itu difasilitasi oleh beberapa aktor, yang
pertama adalah DDII. Jadi DDII itulah yang menjadi Ummu ar-Radla’ah dari
anak-anak tersebut. Meskipun berbeda-beda latarbelakang dan sejarahnya, karena
mereka disusui dan dibesarkan oleh DDII maka mereka mempunyai kaitan semuanya
dengan DDII.
Ada beberapa gelombang perkembangan
DDII. Gelombang pertama, Kembali ke Masjid, Kampus, dan
Pesantren. Pada 1968 DDII menyusun program pelatihan yang diperuntukkan
bagi instruktur universitas yang merupakan alumnus berbagai organisasi
pelajar Islam. Kegiatan ini diawali dengan melatih 40 instruktur dari kampus
ITB, Unpad, dan IKIP Bandung, UGM Yogyakarta dan lain-lain yang digembleng di
Asrama Haji Kwitang Jakarta. Para peserta ini direkrut dari -dan berkoordinasi
dengan- HMI, PII dan Muhammadiyah. Program ini dikoordinatori oleh KH. E.Z.
Muttaqien dengan seorang asisten program yakni Imaduddin Abdurrahim. Jebolan
PHI adalah Ahmad Sadali, A.M. Luthfi, Endang Saefuddin Anshari, Rudi Syarif
Sumadilaga, Yusuf Amer Faisal, Ahmad Noe’man, Miftah Faridh, Bang Imad dan
lain-lain.
Sedangkan pengkaderan ke 2 dilakukan di
Pesantren Darul Falah Bogor pimpinan KH. Soleh Iskandar. Pada pengkaderan ini
giliran Prof. Dr. Mukti Ali bertindak sebagai project officer dan diasisteni
oleh Dr. Sugiat (tokoh Muhammadiyah bidang kesehatan). Pengkaderan ini ditangani
langsung oleh para petinggi DDII seperti Pak Natsir sendiri, Mohammad Roem, dan
Dr. Rasyidi. Selain tokoh senior tersebut, terdapat tokoh lain sebagai nara
sumber antara lain Oesman Ralibi, Zainal Abidin Ahmad, Mukti Ali, Alamsyah Ratu
Perwiranegara dan tokoh lainnya.
Pada tahun 1974, Latihan Mujahid Dakwah
(LMD) mentoring Imaduddin Abdurrahim. LMD ini lahirlah tokoh-tokoh PKS generasi
kedua semisal Mutammimul Ula, Untung Wahono, Tifatul Sembiring dan sebagainya.
Program Bina Masjid Kampus ini, DDII
mengusahakan pembangunan masjid di sekitar kampus guna dipakai untuk berbagai
aktivitas dakwah. Dari usaha dan pendekatan DDII kepada pihak universitas
terbangunlah 15 masjid di dalam kampus atau yang berdekatan dengan kampus.
Masjid Arif Rahman Hakim UI Salemba, Masjid Sulatan Alaudin UMI Makassar,
Islamic center Al-Quds Padang, Masjid Fatahillah dekat kampus UI Depok, Masjid
Al-Hijri Universitas Ibnu Khaldun Bogor, Masjid At-Taqwa IKIP Jakarta, Islamic
Center Salahuddin Yogyakarta, Islamic Center Ibrahim Mailim Surakarta, Islamic
Center darul Hikmah dekat Unila Lampung, Islamic Center Ruhul Islam Magelang,
Masjid Sultan Trenggono Semarang, Masjid Al-Furqon IKIP Bandung, Masjid IKIP
Malang, Masjid ITS Surabaya dan Masjid Al-Ghifari IPB Bogor.
DDII menyusun system coordinator
wilayah untuk suatu daerah. Misalnya, Yogyakarta dikoordinatori oleh M. Amin
Rais, Kuntowijoyo, dan M. Mahyudin; untuk Bandung oleh Ahmad Sadali, Rudi
Syarif Sumadilaga, dan Yusuf Amer Faisal; untuk Jakarta oleh M. Daud Ali, dan
Nurhay Abdurrahman; untuk Ujung Pandang oleh Halidzi dan Abdurrahman Basalamah;
Semarang adalah Kafiz Anwar cs. dan untuk Bogor A.M. Saifuddin dan Abdul Qodir
Djaelani. Di masa selanjutnya, bergabung juga beberapa orang dalam tim gerakan
dakwah tersebut antara lain Yahya Muhaimin, Douhak Latief, Endang Saifuddin
Anshari, M. Nursal dan Husein Umar.
Sejak 1974 hingga 1989 LMD dilakukan
sebanyak 71 kali. Aktornya dan mentornya adalah jaringan HMI.
Gelombang Kedua. Berdirinya
Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Aktornya adalah mahasiswa alumnus LMD. Muncul
jama’ah Usroh. Di Bandung berdiri Jama’ah Salman. Di Jakarta berdiri Masjid
ARH. Di Bogor mendirikan Masjid Ghifari. Di Jogyakarta ada Syuhada, Jama’ah
Salahuddin dan Mardliyah. Mulai masuk ideologi IM, HTI, NII dan Salafi.
Terbentuk jaringan LDK dengan nama Forum Silaturrahmi LDK (pertemuan pertama
1986 di UGM 13 kampus)
Gelombang Ketiga: Purifikasi
Ikhwan dan HTI serta Salafi. Terjadi pada 1990an. Transmisi pemikiran Ikhwanul
Muslimin, HT dan Salafi melalui para alumni lembaga pendidikan di Timur
Tengah maupun alumnus LIPIA Jakarta. Perpecahan terbuka FS LDK antara Tarbiyah,
HTI dan Salafi (pada konggres ke 5 FS LDK di Malang 1998, lahir KAMMI/faksi
Tarbiyah). Lahir PKS, HTI dan berbagai kelompok Dakwah Salafi.
Kemudian transformasi Masyumi bermula
dari DDII sebagai “ibu susuan” (Ummur Rodlo’ah) bagi PKS, HTI dan Dakwah
Salafi. Dilihat dari proses, serta actor-aktor yang berperan penting dalam tiga
gerakan ini dapat dikatakan bahwa eksponen “gerakan Islam baru” ini merupakan
transformasi lanjutan dari Masyumi baik dalam arti kultur keagamaan maupun
gerakan politiknya. Sebelumnya, kultur Masyumi hidup dan dikembangkan dalam
gerakan dakwah DDII, HMI, PII, dan GPI serta PBB dan Partai yang berlabel
Masyumi. Awalnya, masih menghimpun berbagai kecenderungan baik yang
moderat-inklusif maupun yang radikal-ekslusif. Namun, pasca wafatnya Mohammad
Natsir, DDII bergeser ke arah yang semakin ekslusif. Kecenderungan ini pada
tahap berikutnya memberi lahan subur bagi DDII untuk memfasilitasi
gerakan-gerakan baru yang berbasis ideology yang muncul di Timur Tengah ini.
Dengan demikian, gerakan Tarbiyah PKS, HTI dan Dakwah Salafi merupakan
perkembangan lebih lanjut dari kultur keagamaan yang puritan dan ekslusif dari
Masyumi.
Karena itu kenapa aktor-aktornya itu
bukan orang NU akan tetapi dari keluarga Masyumi, Masyumi-Muhammadiyyah,
Masyumi-DDII, Masyumi-Al-Irsyad, Masyumi-Persis, dan bukan Masyumi-NU? Karena
memang peran trasmisi Timur Tengah kan sangat penting sekali dalam transmisi
keislaman ke Indonesia. Sebelum Departemen Agama (baca; Kementrian Agama) punya
program menyekolahkan anak-anak Indonesia ke Timur Tengah, terlebih dahulu DDII
yang mengambil peran itu lewat lisensi Pak Natsir. Jadi yang diberangkatkan ke
Timur Tengah itu ya rata-rata bukan orang NU. Setelah mereka kembali ke
Indonesia, mereka berkhidmat dan menjadi ustadz-ustadz DDII, yang akhirnya
melahirkan jaringan kedua yaitu Jaringan Dakwah Kampus—termasuk juga KAHMI.
Lahirnya Jaringan Dakwah Kampus itu awalnya dari gerakan DDII yang menginginkan
kembalinya ke Khittah, yaitu pertama, karena Masyumi sebagai Partai
dibubarkan, akhirnya mereka berdakwah dan menfasilitasi pesantren Gontor dan
memfasilitasi pesantren Ngeruki.
Kemudian yang kedua, mereka
membangun Masjid di berbagai tempat dan di berbagai kampus. Ketiga,
membikin pelatihan-pelatihan di kalangan aktivis-aktivis kampus. Dan yang
paling penting lagi diketahui adalah DDII lah yang memfasilitasi berdirinya
LIPIA dan yang ngebom, yang ketua-ketua PKS, dan non-politik, semuanya itu
terkait. LIPIA itu telah melahirkan dari yang radikal sampai yang liberal.
Karena yang ngebom dari LIPIA, pimpinan PKS dari LIPIA, dan Jaringan Islam
Liberal juga dari LIPIA, Mas Ulil Abshar Abdallah. LIPIA melahirkan Abu Bakar
Baasyir, Ja’far Umar Thalib, melahirkan ketau FPI, Habib Riziq, dan juga
melahirkan Pak As’ad ketua BIN (Badan Intelijen Negara). LIPIA ini unik memang.
Tapi kalau yang punya latar belakang pesantren dan kepesantrenannya itu kuat,
dia bisa bertahan.
Bagaimana DDII memfasilitasi Lembaga
Dakwah Kampus (LDK). Dan dari LDK inilah berkembang Ikhwan, berkembang Darul
Islam, berkembang HTI, berkembang Dakwah Salafi. Ini yang membenarkan teori
saya itu Ummu Radla’ah.
Yang
ingin saya kemukakan bahwa tidak ada orang NU yang terlibat dalam teror. Karena
memang yang menyusui dan disusui bukan dari kalangan atau kader NU. Yang
menyusui adalah DDII dan yang disusui adalah kader-kader Masyumi. Jadi yang
terlibat dalam aksi teror itu adalah yang terkena susuan itu. Mereka itu di
kampus biasa bertengkar, berbeda kepentingan, rebutan BEM, rebutan Rektor dan
lain sebagaimnya. Tetapi ketika menghadapi kita, mereka bersatu. Ketika mereka
berhadapan dengan NU, mereka bersatu, karena mereka saudara sepersusuan (Ummu
Radla’ah).
Ditulis oleh : Imdadun Rahmat, M.S.I
Post Time :
Tulisan ini ditranskrip oleh
Mukti Ali, aktifis Rumah Kitab dan Mahasiswa Pasca-Sarjana UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, dari ceramah ilmiyah M. Imdadun Rahmat, M.S.I, yang
disampaikan di Kantor Rumah Kitab Bekasi.
diambil dari sumber
http://www.rumahkitab.com/artikel/3/wawancara/159/peta_pemikiran_dan_gerakan_radikalisme_islam_di_indonesia_1.html

0 komentar:
Posting Komentar