Santri Murni, Bau Santri, Atau Santri Bau? Refleksi Etika Dan Identitas Di Hari Santri Nasional
Oleh: Qomaruzzaman,
Di tengah arus modernisasi yang kian menggerus nilai-nilai spiritual, keberadaan santri dan pondok pesantren tetap menjadi benteng moral dan intelektual umat Islam di Indonesia. Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum reflektif untuk menggali kembali hakikat dan filosofi santri dalam konteks kekinian. Santri, dalam makna terdalamnya, bukan hanya pelajar agama, melainkan subjek peradaban yang membawa misi kebaikan, keikhlasan, dan ketundukan kepada Allah SWT.
Secara etimologis, istilah santri menyimpan lapisan makna filosofis yang kaya. Dalam tradisi pesantren, kata santri (سنتري) kerap diurai menjadi akronim yang sarat nilai: huruf Sin sebagai سَافِقُ الخَيْرِ/sāfiq al-khayr (pelopor kebaikan), huruf Nun sebagai نَاسِبُ العُلَمَاءِ/nāsib al-‘ulamā’ (penerus ulama). Dua huruf ini meletakkan beban historis pada pundak santri sebagai agen moralitas dan estafet keilmuan agama. Huruf Ta sebagai تَارِكُ الْمَعَاصِى/tārik al-ma‘āṣī (yang menjauhi maksiat), huruf Ra sebagai رِضَى اللهِ/riḍā Allāh (ridha Allah), dan huruf Ya sebagai اَلْيَقِيْنُ /al-yaqīn (keyakinan). Versi Indonesia menyebut Santri sebagai singkatan dari huruf S: Satir al-‘uyūb wa al-‘awrāt (menutup aib dan aurat), huruf “A”: Amīn fī al-amānah (dipercaya dalam amanah), huruf “N”: Nāfi‘ al-‘ilm (bermanfaat ilmunya), huruf “T”: Tark al-ma‘ṣiyat (meninggalkan maksiat), huruf “R”: Riḍā bi mašīyatillāh (ridha terhadap takdir Allah), dan huruf “I”: Ikhlas fī jamī‘ al-af‘āl (ikhlas dalam segala perbuatan). Dari sini, tampak jelas bahwa santri tidak hanya dibentuk oleh kurikulum formal, tetapi oleh akhlak al-karimah dan spiritualitas amaliyah yang menyatu dalam kesehariannya.
Dalam konsep tasawuf, santri menyentuh dimensi tazkiyat al-nafs (penyucian jiwa). Santri adalah subjek yang sedang dalam proses tarbiyah ruhiyah, di mana setiap aktivitas—dari menyapu halaman hingga menghafal Al-Qur’an—adalah bagian dari ibadah. Ini sejalan dengan prinsip al-‘ibādah bi al-‘amal (ibadah melalui tindakan), yang menolak dikotomi antara dunia dan akhirat. Dalam konteks Indonesia hari ini, di mana materialisme dan individualisme semakin menguat, filosofi santri hadir sebagai counter-hegemony yang menawarkan alternatif hidup berbasis nilai, bukan hanya berbasis kepentingan.
Transformasi signifikan dari santri saat ini, jika dulu santri identik dengan santri mukim—yang tinggal di kobong dan menjalani hidup asketis—kini muncul varian seperti santri kalong, santri modern, bahkan santri digital. Namun, di balik perubahan bentuk, esensi santri tetap utuh: ketaatan, pengabdian, dan keikhlasan. Fakta empiris menarik justru datang dari kisah-kisah “santri khadam” yang jarang mengikuti pengajian karena sibuk melayani kiai, namun ketika pulang ke kampung halaman justru menjadi tokoh agama yang dihormati. Ini membuktikan bahwa ilmu dalam tradisi pesantren tidak hanya ditransfer lewat lisan, tetapi juga melalui barakah, ridha kiai, dan keikhlasan dalam khidmah. Di sinilah letak paradoks sekaligus keajaiban sistem pendidikan pesantren: ilmu tidak selalu diukur dari jam belajar, tetapi dari kualitas niat dan hubungan spiritual antara murid dan guru.
Refleksi ini harus dibawa lebih dalam melalui analisis mikro. Paradox Santri Khadam—mereka yang jarang hadir di majelis pengajian karena sering disuruh khidmah (mengabdi) oleh Kiai—namun pulang kampung dengan ilmu yang mumpuni, menawarkan penjelasan teoretis atas fenomena ini. Mengapa temuan di lapangan menunjukkan hasil yang kontradiktif? Hal ini terletak pada triad spiritualitas: Barokah, Ridlo, dan Ikhlas. Dalam kerangka berpikir pesantren, ridho Kiai (orang tua ideologis) dianggap setara dengan ridho Allah; ini adalah mata uang spiritual yang lebih berharga daripada kehadiran fisik di kelas. Khidmah yang dilandasi Ikhlasun Fi Jami’ Al-Af’al (ikhlas dalam setiap perbuatan) akan menarik Barokah Kiai dan Pesantren, yang kemudian memfasilitasi masuknya ilmu ke dalam hati, meskipun secara formal waktu belajar berkurang. Fenomena ini membuktikan bahwa epistemologi pesantren melampaui batas-batas kognitif formal; ia adalah pendidikan holistik yang menyentuh ranah afektif dan spiritual, menjadikannya model pendidikan karakter yang autentik dan tak tertandingi.
Transformasi pesantren modern yang mulai mengadopsi kurikulum umum dan fasilitas yang lebih komprehensif, seringkali bertemu dengan kekhawatiran yang sama seperti yang disuarakan oleh wali santri dalam teks: kesalahpahaman terhadap bentuk pembinaan. Ketika seorang wali santri melihat putranya mengangkut sampah dan lantas berujar, "Anak saya ke sini untuk belajar, bukan jadi pembantu," ini adalah manifestasi empiris dari kegagalan internalisasi filosofi pasrah. Wali santri tersebut gagal melihat bahwa 'mengangkut sampah' bukan pekerjaan domestik, melainkan madrasah (sekolah) karakter yang mengajarkan keikhlasan, tanggung jawab, dan kerendahan hati—sebuah pendidikan non-kurikuler yang esensial dalam membentuk Tark Al-Ma’siat melalui pengendalian diri.
Kekhawatiran orang tua dalam memondokkan anak—seperti takut anak “diperlakukan kasar” atau “tidak fokus belajar”—sering kali lahir dari ketidaktahuan terhadap logika internal pesantren. Padahal, dalam struktur filosofis kata pondok sendiri terkandung pesan: huruf “P”: Pasrah, “Ondo” (tangga proses), dan “K”: Khawatir (jangan khawatir). Memondokkan anak adalah bentuk tawakkal sekaligus jihad fi sabilillah, sebagaimana ditegaskan dalam QS. At-Talaq [65]: 2–3: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.” Orang tua yang memondokkan anak bukan hanya menitipkan, tetapi ikut serta dalam proses pembentukan generasi ulama yang tangguh—generasi yang akan menjaga kalimatullah al-‘ulya di tengah krisis kepemimpinan moral.
Kaitannya dengan yang telah menjadi alumni, fenomena santri saat ini menurut KH Musleh Adnan, seorang dai Kondang Pamekasan Jawa Timur dalam salah satu ceramahnya pernah menyampaiakan, bahwa seorang yang telah menjadi alumni terbagi ke dalam 3 (tiga) jenis. Pertama, “Santri Murni” (di pondok atau sudah keluar pondok) sikapnya tetap seperti santri dan hatinya tertaut ke pondok, ada apa-apa di pondok dia datang atau menyumbang ke pondok. Kedua, “Bau Santri”, yaitu sesorang yang tidak pernah mondok di pondok itu, tapi sikap dan kelakuannya seperti santri, bahkan melebihi santri pondok tersebut, ada acara di pondok dia datang, ada sumbangan di Pondok dia menyumbang. Tipe “Bau Santri” inilah yang dikatakan tidak pernah nyantri tapi berprilaku melebihi santri. Ketiga, “Santri Bau” Yaitu seseorang yang pernah nyantri/mondok tapi perilaku dan sikapnya tak mencerminkan santri sama sekali, maka santri yang model ini layak disebut dengan Istilah “Santri Bau” karena hatinya jauh dari pondok, ada apa-apa di pondok tidak datang, ada haul guru tidak datang, karena dia telah menjadi “Santri Bau”.
Secara makro, Hari Santri Nasional 2025 harus menjadi panggilan kolektif untuk merevitalisasi peran santri dalam membangun peradaban Indonesia. Di era pasca-pandemi, di mana kepercayaan sosial rapuh dan polarisasi menguat, santri memiliki potensi besar sebagai agent of peace dan moral compass masyarakat. Mereka adalah penjaga harmoni, penyeimbang antara tradisi dan modernitas, antara lokalitas dan globalitas.
Identitas santri harus diinterpretasikan sebagai Raisul Ummah (Pemimpin Ummat), sebuah peran yang sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Dalam menghadapi tantangan disrupsi digital, krisis identitas, dan polarisasi sosial, figur santri diposisikan sebagai jangkar moral. Seruan untuk mencetak Generasi Kyai-Kyai Tangguh adalah panggilan jihad untuk mengisi kekosongan kepemimpinan spiritual yang diakibatkan oleh wafatnya ulama-ulama sepuh. Dengan demikian, keputusan memondokkan anak adalah Jihad Li’i’lai Kalimatillah Hiyal Ulya (Jihad untuk menjunjung tinggi agama Allah), yang berimplikasi pada jaminan keberkahan hidup.
Sebagai penutup refleksi Hari Santri Nasional, kita dapat menegaskan bahwa santri adalah subjek yang selalu bertransformasi, namun dengan akar filosofis yang kokoh. Dari Pelopor Kebaikan hingga Penerus Ulama, identitas santri bukan hanya warisan masa lalu, melainkan cetak biru kepemimpinan masa depan. Pesantren, dengan segala disiplin dan proses pembinaannya, adalah institusi yang menjawab tantangan zaman dengan menyediakan kader-kader yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga kokoh secara spiritual, ikhlas dalam beramal, dan ridho dengan ketentuan Illahi.
Penulis murupakan Alumni Santri Darun Nasyiin, Darul Ulum Banyuanyar, Mantan Pengurus Wilayah Rabithah Ma’ahid (RMI) Kalbar, Sekarang Pengurus Persatuan Guru NU (Pergunu) Kalbar




0 komentar:
Posting Komentar